Sebuah tinjauan mengenai apa yang memicu fibromyalgia dan langkah-langkah sehari-hari yang dapat membantu meringankan dampaknya
Leo Cheung
Fibromyalgia sering disalahpahami, salah didiagnosis, dan bahkan dianggap remeh. Namun, bagi mereka yang mengalaminya, rasa sakit itu nyata, menetap, dan mengubah hidup. Ditandai dengan “sistem alarm” otak yang tidak berfungsi dengan baik, kondisi kronis ini menyebabkan rasa sakit menyeluruh, kelelahan, serta gangguan kognitif.
Melalui kisah pasien yang menggugah dan wawasan para ahli, kita akan menjelajahi apa sebenarnya fibromyalgia—dan bagaimana harapan bisa ditemukan melalui perubahan gaya hidup, perawatan suportif, serta kesehatan usus.
Memahami Fibromyalgia Melalui Pengalaman Pasien
Pengalaman nyata penderita fibromyalgia memberikan wawasan mengenai sifat multifaset dari kondisi nyeri yang sering disalahpahami ini.
Kasus 1: Rasa Sakit Seperti ‘Aliran Listrik’
Seorang pasien pria setelah menjalani prosedur medis kecil mengalami nyeri hebat seperti tersetrum, yang dengan cepat menyebar ke seluruh tubuhnya dan disertai insomnia, pusing, serta kecemasan. Meski menjalani banyak tes, tidak ditemukan penyebab yang jelas sampai akhirnya ia didiagnosis fibromyalgia. Kondisinya memburuk setelah obat-obatan awal, menyebabkan kantuk dan sensasi seperti aliran listrik. Titik balik penting terjadi saat ia menyadari gejalanya terkait dengan tempat tinggalnya yang penuh jamur di Taipei, Taiwan. Setelah pindah ke lingkungan bebas jamur, kondisinya membaik drastis, nyerinya berkurang hingga 90 persen.
Kasus 2: Tekanan Lebih Besar Sama dengan Nyeri Lebih Parah
Seorang mahasiswi yang ditabrak mobil dalam perjalanan pulang dari sekolah mengalami gejala gegar otak, tetapi segera pulih. Namun, beberapa bulan kemudian, ia mengalami gejala fibromyalgia, termasuk pusing, demam ringan, dan nyeri menyebar yang berpindah lokasi—dari kepala, leher, punggung atas, hingga tulang ekor. Tekanan fisik membuat nyerinya semakin hebat. Meski sudah menjalani berbagai tes, penyebabnya tetap tak ditemukan hingga akhirnya ia didiagnosis fibromyalgia.
Kedua kasus yang ditangani ahli saraf Lin Shaozhen ini menyoroti bahwa nyeri fibromyalgia berbeda dari nyeri biasa karena sifatnya yang berpindah-pindah dan sering muncul lama setelah cedera awal. Hasil tes pasien biasanya normal, yang terkadang menyebabkan salah diagnosis sebagai gangguan psikologis, padahal mereka benar-benar merasakan nyeri hebat akibat “sistem alarm” otak yang terlalu sensitif.
Kegagalan ‘Sistem Alarm’ Otak
Menurut Lin, ada banyak penyebab fibromyalgia, termasuk faktor genetik, stres berat dan jangka panjang, trauma fisik, trauma psikologis, atau faktor lingkungan.
Contohnya, pasien pria pada kasus pertama mengalami gangguan sistem saraf akibat jamur berlebihan di rumahnya, sementara pasien wanita pada kasus kedua mengembangkan penyakit ini beberapa bulan setelah kecelakaan mobil. Meski hasil tes mereka normal, keduanya tetap mengalami nyeri hebat, sehingga sempat dicurigai sebagai masalah psikologis.
Akar masalah dari jenis nyeri ini, kata Lin, terletak pada sensitivitas otak—“seakan sistem alarm mereka rusak.”
“Secara umum, sistem alarm orang normal baru mengirim sinyal nyeri ketika tingkatnya 60 poin, tetapi pada pasien seperti ini, alarm sudah berbunyi di angka sekitar 20,” jelas Lin. “Seperti kalau hanya disentuh ringan, mereka merasa seolah sedang dipukul.”
Spektrum Gejala di Luar Nyeri
Fibromyalgia bukan hanya soal nyeri. Gangguan tidur juga menjadi gejala utama. Lin menyatakan pasien sering melaporkan merasa sangat lelah saat bangun tidur, meski sudah tidur hingga 12 jam.
Gejala lain meliputi sindrom kaki gelisah, pusing, mati rasa, kelelahan kronis, sistitis interstisial (juga dikenal sebagai sindrom nyeri kandung kemih), nyeri panggul, dan gangguan kognitif. Beragamnya gejala membuat diagnosis semakin sulit.
Metode diagnosis lama berfokus pada titik nyeri tertentu, sedangkan penilaian saat ini menilai indeks nyeri pasien di 19 bagian tubuh, disertai tingkat kelelahan, kualitas tidur, dan dampak nyeri terhadap kehidupan sehari-hari. Serangkaian tes darah umumnya dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.
“Sulit memastikan diagnosis fibromyalgia hanya sekali pemeriksaan,” kata Lin. “Harus ada banyak bukti, ditambah reaksi pasien setelah perubahan gaya hidup dan pola makan sebelum bisa diputuskan.”
Menggabungkan Obat dan Perubahan Gaya Hidup
Meski belum ada obat untuk menyembuhkan fibromyalgia, Lin menyatakan perbaikan mungkin dicapai melalui pendekatan paralel: pengobatan dengan obat maupun tanpa obat. Kesehatan psikologis, modifikasi gaya hidup, dan faktor lingkungan memainkan peran penting.
Namun, ia menekankan pentingnya tenaga medis mengakui legitimasi rasa sakit pasien.
“Kalau kita menganggap rasa sakit pasien itu palsu, efektivitas pengobatan akan menurun,” katanya.
Sebuah ulasan tahun 2021 yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine menganalisis hasil pengobatan dengan dan tanpa obat untuk fibromyalgia, dan menemukan bahwa inhibitor sistem saraf pusat, antidepresan, terapi perilaku kognitif, serta terapi olahraga dapat meningkatkan kondisi nyeri dalam jangka pendek hingga menengah. Namun, belum ada bukti berkualitas tinggi mengenai efek jangka panjang.
Lin merekomendasikan pendekatan yang menyeluruh.
Ubah Pola Pikir Anda
Walau belum ada obat tunggal untuk fibromyalgia, menyesuaikan pola pikir bisa menjadi langkah awal yang kuat menuju pemulihan.
- Miliki pandangan positif: Ingat bahwa Anda tidak sendirian—banyak orang hidup dengan kondisi ini—dan yakini bahwa perubahan gaya hidup bisa membuat Anda merasa lebih baik.
- Kurangi stres kronis: Hindari membuat ekspektasi berlebihan dan jadwal yang terlalu padat.
- Kembangkan minat pribadi: Fokuslah pada diri sendiri, kendalikan hal-hal yang bisa Anda atur, dan lakukan aktivitas yang membawa kebahagiaan, seperti membaca, mendengarkan musik, yoga, meditasi mindfulness, atau peregangan.
Olahraga dan Perubahan Kebiasaan
Rutinitas yang lembut dan konsisten dapat membawa perbedaan berarti bagi penderita fibromyalgia.
- Lakukan olahraga ringan: Mulai dengan durasi singkat (misalnya dua menit per hari) lalu tingkatkan perlahan, utamakan konsistensi daripada intensitas.
- Masukkan teknik relaksasi: Gunakan aktivitas menenangkan seperti kompres hangat, rendam kaki, atau berjemur untuk mendukung relaksasi.
- Atasi stres lingkungan: Identifikasi dan perbaiki faktor seperti kualitas udara buruk atau jamur yang mungkin memperburuk gejala.
Pola Makan Sehat
Lin menegaskan bahwa menjaga kesehatan usus sangat penting karena hubungan usus dan otak memengaruhi sistem saraf dan terkait dengan sensitivitas sistem saraf pusat.
Untuk pola makan, ia merekomendasikan:
- Ikuti pola makan antiinflamasi: Konsumsi lebih banyak sayuran berwarna-warni dan batasi daging merah. Jika mengonsumsi daging merah, pilih daging sapi grass-fed.
- Makan dengan penuh kesadaran: Hindari makan saat stres, misalnya dalam rapat, karena bisa menyebabkan gangguan pencernaan. Kunyah perlahan agar air liur dan cairan lambung bekerja optimal.
- Batasi konsumsi kopi: Mengandalkan kopi untuk tetap terjaga saat stres kronis bisa menguras energi dan memperburuk rasa sakit.


