EtIndonesia. Ada seorang pemuda yang dengan susah payah mendapatkan pekerjaan sebagai staf penjualan. Dia bekerja rajin dan penuh tanggung jawab selama lebih dari setengah tahun. Namun hasilnya nihil—bahkan beberapa proyek besar yang dia tangani berakhir dengan kegagalan.
Sementara itu, rekan-rekannya satu per satu menunjukkan prestasi gemilang. Rasa frustasi pun menekannya.
Tak sanggup lagi menahan beban itu, dia masuk ke kantor direktur dengan wajah malu dan berkata: “Mungkin saya tidak cocok untuk pekerjaan ini.”
Namun, sang direktur menjawab dengan tenang :“Tetaplah bekerja dengan tenang. Saya akan memberimu cukup waktu—hingga suatu hari kamu berhasil. Jika saat itu kamu tetap ingin pergi, barulah saya izinkan.”
Sikap penuh pengertian itu membuat si pemuda terharu. Dia berpikir: “Kalau begitu, setidaknya aku harus melakukan satu atau dua hal yang benar-benar berarti sebelum pergi.”
Sejak itu, dia bekerja dengan lebih tenang, tidak terburu-buru, lebih banyak merenung dan belajar.
Setahun kemudian, dia kembali memasuki ruang direktur. Kali ini dengan senyum lega—selama tujuh bulan berturut-turut, dia berhasil menduduki peringkat pertama dalam penjualan. Dia pun resmi menjadi salah satu karyawan andalan perusahaan.
Ternyata, pekerjaan yang semula dia anggap tidak cocok, justru terbukti sangat sesuai dengan dirinya.
Penasaran, dia pun bertanya pada direktur :“ Pak, waktu itu kenapa Anda tetap mempertahankan saya, padahal saya sudah gagal berkali-kali?”
Jawaban sang direktur sungguh di luar dugaan: “Karena saya lebih tidak rela gagal dibanding kamu.”
Dia melanjutkan: “Ingat waktu rekrutmen dulu? Ada lebih dari 100 lamaran masuk. Saya mewawancarai lebih dari 20 orang, tapi akhirnya hanya memilihmu seorang. Jika saya menerima pengunduran dirimu, bukankah itu artinya saya telah salah besar? Saya yakin, jika kamu bisa mendapat pengakuan dariku saat rekrutmen, pasti kamu juga bisa mendapat pengakuan dari klien. Yang kurang darimu hanyalah kesempatan dan waktu. Jadi, sebenarnya bukan hanya saya percaya padamu—saya juga percaya pada diri saya sendiri, bahwa saya tidak salah memilih orang.”
Pemuda itu lalu berkata: “Akulah pemuda itu.”
Dari pengalamannya, dia memahami sebuah pelajaran berharga: Ketika kita memberi orang lain toleransi, dan memberi diri sendiri keyakinan, kita bisa menciptakan perubahan besar yang tak terduga. (jhn/yn)


