EtIndonesia. Sebuah kontrak besar eksplorasi minyak antara Taliban Afghanistan dan perusahaan energi asal Tiongkok berakhir dengan kegagalan. Proyek yang semula digadang-gadang bernilai ratusan juta dolar Amerika itu kini berubah menjadi sengketa diplomatik, hingga membuat Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, turun tangan langsung.
Kontrak Minyak Bernilai Ratusan Juta Dolar
Pada tahun 2023, Pemerintah Taliban menandatangani kontrak senilai 540 juta dolar AS dengan perusahaan Xinjiang Central Asia Petroleum and Gas (CAPG). Proyek ini berfokus pada eksplorasi minyak di Cekungan Sungai Amu, Afghanistan Utara, dengan jangka waktu kerja sama selama 25 tahun.
Untuk menjalankannya, dibentuk perusahaan patungan bernama Afuching Company, di mana pihak Afghanistan memegang 20% saham dan Tiongkok menguasai 80%. Sesuai kesepakatan, CAPG berjanji menanamkan 150 juta dolar AS pada tahun pertama, dan akan meningkat hingga 540 juta dolar AS setelah tiga tahun. Selain itu, minyak yang diekstraksi wajib diproses di dalam negeri serta menyerap 3.000 tenaga kerja Afghanistan.
Kontrak Dibatalkan Taliban
Namun, baru dua tahun berjalan, Taliban mengumumkan pembatalan kontrak. Alasannya, pihak Tiongkok disebut tidak memenuhi kewajiban, mulai dari keterlambatan investasi, tidak membayar royalti, hingga gagal menyelesaikan survei geologi dan pembangunan infrastruktur penting.
“Perusahaan Tiongkok tidak menepati janji,” tegas perwakilan Taliban dalam pernyataannya.
Tuduhan Perampasan dari Pihak Tiongkok
Berbeda dengan klaim Taliban, pihak Tiongkok menuduh justru terjadi perampasan sepihak. CAPG mengaku dipaksa keluar dari ladang minyak dengan todongan senjata. Bahkan, menurut laporan National Public Radio (NPR, AS), Taliban menyita paspor lebih dari 10 pekerja Tiongkok, sehingga mereka tidak bisa meninggalkan Afghanistan.
Setelah kunjungan Wang Yi ke Kabul pada Agustus lalu, sebagian paspor dikembalikan: 9 dokumen diserahkan kembali, delapan pekerja berhasil pulang ke Tiongkok, sementara tiga orang masih tertahan di Kabul untuk menyelesaikan penyerahan perusahaan patungan kepada pihak Taliban.
Dampak Diplomatik dan Reputasi Tiongkok
Kunjungan Wang Yi diyakini bukan hanya agenda diplomasi rutin, tetapi juga upaya menyelamatkan warganya. Pengamat menilai kasus ini akan memperburuk citra Tiongkok sebagai investor luar negeri yang aman dan berkelanjutan.
Sejumlah analis membandingkan dengan berbagai kasus di Afrika. Dari Zambia, Sudan Selatan, hingga Zimbabwe, banyak proyek Tiongkok berakhir dengan penyitaan aset, kerugian akibat konflik, hingga tuduhan pelanggaran lingkungan dan tenaga kerja.
“Ini menunjukkan pola berulang: investasi Tiongkok kerap tidak stabil ketika masuk ke negara-negara dengan rezim politik rapuh,” ungkap seorang analis energi di Beijing.


