EtIndonesia. 4 September 2025- Perang Memasuki Hari ke-1289: Ukraina Catat Kemenangan, Rusia Terdesak
Presiden Rusia Vladimir Putin kembali membuat pernyataan kontroversial. Ia secara terbuka memanggil Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk datang ke Moskow jika benar-benar siap bernegosiasi.
Namun, Zelenskyy menolak keras wacana menyerahkan wilayah Donbas kepada Rusia. Menurutnya, langkah itu sama saja dengan memberikan hadiah gratis kepada Putin, yang selama hampir empat tahun perang hanya mampu menguasai kurang dari 30% wilayah tersebut.
Situasi di Medan Perang
Sementara diplomasi masih buntu, di lapangan pasukan Ukraina mencatat sejumlah keberhasilan penting:
- Frontline: Unit militer Ukraina berhasil menghancurkan konvoi besar kendaraan lapis baja Rusia.
- Serangan Jarak Jauh: Drone Ukraina menargetkan 17 fasilitas energi Rusia hanya dalam satu bulan.
- Zaporizhzhia: Sistem pertahanan udara S-300 Rusia dihancurkan melalui operasi drone.
- Laut Hitam: Drone Bayraktar TB-2 Ukraina menenggelamkan kapal cepat Rusia dengan bom presisi.
Namun, Rusia juga mencoba strategi putus asa. Laporan intelijen menyebutkan pasukan Rusia berusaha menyusup ke pangkalan militer AS melalui jalur bawah tanah atau saluran pembuangan.
Putin Bermain Dua Wajah
Dalam konferensi pers terbaru, Putin menyatakan dirinya tidak menutup kemungkinan bertemu Zelensky. Tetapi ia segera meragukan legitimasi Zelensky dengan menyebut masa jabatan sang presiden telah berakhir, dan seharusnya kewenangan tertinggi sudah dialihkan ke parlemen.
Meski begitu, Putin kembali menebar sinyal:
“Kalau pembicaraan dipersiapkan dengan baik dan membawa hasil positif, saya tidak pernah menolak. Kalau Zelensky siap, datanglah ke Moskow.”
Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah benar undangan damai, atau sekadar manuver politik untuk menjatuhkan lawan?
Zelensky Tegas: Donbas Tidak untuk Dinegosiasikan
Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tidak akan pernah menyerahkan Donbas. Baginya, mundur dari wilayah itu hanya akan memperkuat ambisi Rusia untuk terus maju ke barat.
“Kalau sekarang kami menyerahkan Donbas, itu sama saja memberi hadiah gratis kepada Putin. Tidak ada jaminan dia akan berhenti di situ,” tegas Zelensky.
Sikap Rusia dan Barat
- Moskow: Menlu Sergey Lavrov menyatakan perdamaian hanya bisa tercapai jika dunia mengakui kedaulatan Rusia atas Krimea dan empat wilayah timur Ukraina.
- Putin: Mengisyaratkan adanya “cahaya di ujung terowongan”, bahkan menyinggung pemerintahan Donald Trump di AS yang dianggap lebih serius mendorong perdamaian.
- Ukraina–Eropa: Zelensky mencari jaminan keamanan melalui Eropa. Dalam pertemuan di Paris, Presiden Emmanuel Macron membuka wacana aliansi sukarela yang siap mengirim pasukan keamanan jika gencatan senjata tercapai.
Dukungan Militer Internasional untuk Ukraina
Ukraina terus memperkuat persenjataannya dengan dukungan dari sekutu:
- Inggris: Siap memberikan rudal balistik Nightfall dengan jangkauan 600 km.
- Ukraina: Meluncurkan drone-rudal Telianisaya dengan jangkauan 650 km.
- Denmark: Membantu produksi bahan bakar roket padat untuk rudal Firebird.
- Uni Eropa: Menyiapkan rencana pengerahan puluhan ribu pasukan setelah perdamaian tercapai.
- Prancis, Jerman, Inggris: Menyediakan tambahan kendaraan lapis baja, sistem pertahanan udara, dan intelijen.
Krisis di Militer Rusia
Militer Rusia justru menghadapi krisis teknis serius:
- Tiga pesawat pengebom strategis Tu-160 gagal menjalankan misi pada 3 September 2025 —satu rusak sistem, satu terkena petir, dan satu gagal lepas landas.
- Pesawat kargo IL-76 terpaksa melakukan pendaratan darurat akibat kerusakan mesin.
Kondisi ini memperlihatkan lemahnya kesiapan peralatan Rusia, berbanding terbalik dengan Ukraina yang berhasil memodernisasi jet Mig-29 dan helikopter Mi-24 dengan dukungan Barat.
Perang yang Belum Usai
Perang kini memasuki hari ke-1289 (4 September 2025). Ukraina terus melaporkan kemenangan taktis di berbagai titik, mulai dari Sumy, Zaporizhzhia, hingga Donetsk.
Meski kehilangan puluhan ribu prajurit dan ribuan unit perlengkapan, Rusia masih menyiapkan serangan balasan besar pada musim gugur. Pertarungan ini kini bukan hanya soal perebutan wilayah, melainkan juga perebutan legitimasi politik, diplomasi internasional, dan kekuatan ekonomi.
Seluruh dunia menahan napas: apakah perang ini akan melahirkan peluang perundingan nyata—atau justru membuka babak baru yang lebih ganas? (***)


