Delapan Hari dan Delapan Tahun

EtIndonesia. Dalam pekerjaan, aku pernah jatuh, batin tersiksa, dan lelah. Tetapi satu hal yang tidak pernah kulakukan adalah menyerah. Semakin lama bertahan, semakin kusadari betapa aku mencintai pekerjaanku.

Seperti cinta: hanya ketika kita mampu menerima kelebihan sekaligus kekurangan seseorang, barulah cinta itu bisa bertahan lama.

Seorang pemuda baru bekerja selama seminggu di sebuah perusahaan. Namun, Dia segera mengajukan surat pengunduran diri kepada supervisornya—seorang wanita berpengalaman yang telah bertahun-tahun menggeluti bidang tersebut.

“Awalnya saya kira saya sangat tertarik dengan pekerjaan ini. Tapi setelah seminggu, saya sadar bahwa pekerjaan ini sama sekali tidak cocok untuk saya,” katanya dengan penuh keyakinan.

Sang supervisor menatapnya dengan campuran rasa kecewa dan simpati. 

Dia berkata: “Saya harus mengucapkan selamat. Setidaknya dalam delapan hari saja, kamu sudah menyadari pekerjaan ini tidak cocok untukmu.”

Beberapa hari sebelumnya, saat melamar, pemuda itu terlihat begitu bersemangat, bahkan berkata dengan gagah: “Kalau tidak masuk ke bidang ini, saya akan menyesal seumur hidup.”

Antusiasme itulah yang membuatnya lolos seleksi, meski kurang pengalaman. Namun kini, semangat itu ternyata hanya bertahan sebentar—benar-benar sebuah “api tiga menit”.

Sebelum pergi, pemuda itu masih sempat bertanya dengan tulus: “Saya ingin tahu, bagaimana Ibu bisa bertahan di pekerjaan seperti ini begitu lama?”

“Delapan tahun,” jawab wanita itu tegas, penuh keyakinan. “Saya sudah delapan tahun bekerja di bidang ini. Dan semakin lama, saya semakin menikmatinya.”

“Delapan hari. Saya bahkan tak kuat delapan hari. Rasanya sudah membosankan sekali,” dia mengaku jujur.

Sang supervisor tersenyum tipis, lalu berkata:  “Saya tidak tahu apakah masalahmu adalah salah memilih pekerjaan, atau kamu terlalu cepat menyerah saat menghadapi sedikit kesulitan. Tetapi jika benar pekerjaan ini tidak cocok untukmu, maka saya turut senang kamu tidak buang-buang waktu di sini. Banyak orang menghabiskan separuh hidupnya, baru sadar mereka tak pernah benar-benar mencintai pekerjaannya. Sama seperti pernikahan puluhan tahun yang baru kemudian disadari tanpa cinta—sungguh menakutkan.”

Pemuda itu terdiam, lalu bertanya lagi: “Selama delapan tahun, apakah Ibu tidak pernah terpikir untuk menyerah?”

“Tidak pernah,” jawabnya mantap. “Saya pernah jatuh, terluka, lelah—tetapi tidak pernah berhenti. Justru semakin begitu, saya semakin tahu bahwa saya benar-benar mencintai pekerjaan ini. Sama seperti cinta, hanya ketika kamu bisa menerima sisi baik dan buruknya, barulah kamu bisa bertahan lama.”

Pemuda itu menunduk dan bergumam lirih:  “Mungkin… kalau aku bisa bertahan delapan hari, aku juga bisa bertahan delapan tahun.”

Sang supervisor tersenyum, lalu menjawab pelan:  “Sayang sekali, kamu tidak sanggup melewati delapan hari itu.”

Dia pun tersenyum dan mengantarnya keluar.

Dari delapan hari ke delapan tahun, jaraknya sangat jauh. Dari kesadaran diri di awal, hingga ketekunan yang panjang, dibutuhkan bukan hanya semangat, tetapi juga komitmen, ketekunan, dan keberanian menghadapi kegagalan.

Banyak orang bertanya: bagaimana cara menemukan minat sejati kita? Jawabannya sederhana: dengan banyak mencoba. Ada minat yang lahir secara alami, ada pula yang tumbuh karena dibiasakan.

Minat bawaan akan terlihat jelas sejak awal. Sementara minat yang dibentuk butuh waktu, kesabaran, dan konsistensi. Maka, ketika menemukan pekerjaan baru, sebaiknya bertahan setidaknya setahun sebelum memutuskan berhenti—kecuali jika lingkungannya memang benar-benar tidak memungkinkan.

Kalaupun harus pergi lebih cepat, kita harus belajar: mengapa kita cepat sekali menyerah? Apakah kita kurang mempertimbangkan dengan matang? Apakah kita asal menerima tawaran tanpa memahami pekerjaannya? Jika tidak belajar dari pengalaman, kita akan mengulang kesalahan yang sama, dan riwayat kerja kita akan terlihat buruk di mata atasan baru.

“Semangat tiga menit” sering kali muncul pada mereka yang terlalu naif: hanya melihat sisi baik tanpa menerima sisi sulitnya.

Bill Gates pernah berkata:“Lakukan hal yang paling kamu kuasai.”

Aku sangat setuju. Karena siapa pun yang mampu menemukan minat sejatinya sejak awal, lalu mengubahnya menjadi keahlian, dialah orang yang akan merasakan kebahagiaan hidup sepenuhnya.

Dan kebahagiaan itu, hanya dimiliki oleh mereka yang berani mencoba—dan tidak mudah menyerah. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine