EtIndonesia. Pertama kali banyak orang mulai sadar bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menjadi arah perkembangan masa depan adalah ketika Li Kaifu pernah berkata…
“Di masa depan, 90% orang akan kehilangan pekerjaan.”
Kai-Fu Lee adalah seorang ilmuwan komputer, pengusaha, dan penulis Amerika Serikat kelahiran Taiwan.
Bagi sebagian orang, ucapan itu terdengar seperti menakut-nakuti. Namun, coba lihat sekeliling: setiap hari, setiap saat, kita sudah hidup dengan bantuan AI, meski sering kali tanpa sadar.
· Pagi hari, membuka kunci ponsel dengan sidik jari atau pengenalan wajah.
· Saat sarapan, membaca berita yang otomatis dipersonalisasi berdasarkan data kita.
· Di tempat kerja, pesan suara diubah otomatis menjadi teks lewat sistem pengenalan suara.
· Saat istirahat siang, aplikasi musik merekomendasikan lagu-lagu sesuai selera.
· Pulang kerja, aplikasi edit foto otomatis mempercantik hasil swafoto.
· Menjelang tidur, membuka aplikasi belanja, lalu AI menyarankan baju terbaru yang pas dengan selera kita.
Kita juga teringat film “Her”, di mana tokoh utama Theodore membeli sistem operasi cerdas bernama Samantha. Dia begitu pintar, penuh humor, dan terasa begitu nyata hingga akhirnya Theodore jatuh hati kepadanya—meski tahu bahwa Samantha hanyalah sebuah AI.
Jangan kira AI masih sebatas sains fiksi. Faktanya, dia sudah menyusup diam-diam ke kehidupan sehari-hari, dan banyak orang bahkan tidak menyadarinya.
99% Manusia Bisa Jadi “Kelas Tak Berguna”?
Dalam bukunya “Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia”, sejarawan Yuval Noah Harari memprediksi bahwa ketika AI semakin kuat, sebagian besar manusia akan kehilangan nilai dalam dunia kerja. Jika revolusi industri menciptakan kelas pekerja (proletariat), maka revolusi AI berpotensi menciptakan kelas baru: kelas tak berguna (useless class).
Riset Carl Benedikt Frey dan Michael Osborne dari Oxford University juga memperkuat kekhawatiran ini. Dengan algoritma prediktif, mereka memperkirakan:
· Sekitar 47% pekerjaan di Amerika Serikat berisiko tinggi digantikan komputer.
· Pada tahun 2033, profesi seperti telemarketing dan agen asuransi memiliki 99% kemungkinan lenyap.
· Wasit olahraga: 98% kemungkinan hilang.
· Kasir, koki, pelayan, asisten pengacara, pemandu wisata: 90% lebih kemungkinan hilang.
· Sopir bus, pekerja konstruksi, asisten dokter hewan, petugas keamanan, pelaut: 80% lebih kemungkinan hilang.
· Bahkan pekerjaan seperti bartender, arsiparis, tukang kayu, hingga penjaga pantai pun tidak luput dari ancaman.
Bukti-bukti yang Sudah Nyata
Prediksi ini bukan sekadar teori. Faktanya sudah terjadi:
· AlphaGo mengalahkan juara dunia Go, Lee Sedol.
· AI bisa menulis berita singkat 150–300 kata hanya dalam hitungan detik.
· Penyanyi Taryn Southern meluncurkan album “I AM AI”, di mana seluruh musiknya digubah oleh AI.
Dalam bukunya, Harari juga memperingatkan:
Ketika algoritma menggusur manusia dari dunia kerja, kekayaan dan kekuasaan akan terkonsentrasi pada segelintir elite yang menguasai teknologi.
Ketidaksetaraan sosial dan politik pun bisa mencapai tingkat yang belum pernah ada sebelumnya. Maka, di masa depan, siapa pun yang tidak menguasai AI dan algoritma, cepat atau lambat akan “dihapus” dari panggung sejarah.
Deep Learning: Teknologi Inti AI
Hari ini, hampir semua peneliti di bidang kecerdasan buatan berbicara tentang deep learning (pembelajaran mendalam). Banyak yang bahkan sampai berslogan: “Deep learning = AI”. Padahal, keduanya tidak sama. Deep learning hanyalah inti teknologi yang akan memimpin perkembangan AI sekarang hingga masa depan.
Apa sebenarnya deep learning itu?
Secara sederhana, deep learning adalah cara memodelkan masalah nyata dengan matematika untuk menemukan pola, lalu menggunakannya menyelesaikan masalah serupa.
Li Kaifu dalam bukunya “Sepuluh Kuliah AI –Transliterasi-red)” menjelaskan: deep learning mirip dengan cara kita belajar di sekolah. Misalnya saat kecil, guru menunjukkan kartu bertuliskan huruf sambil mengajarkan bunyinya. Setelah berulang kali melihat dan mendengar, kita menemukan pola hingga akhirnya bisa membaca.
Hal yang sama terjadi pada komputer: diberi data dalam jumlah besar, diminta mengenali pola, lalu membuat keputusan.
· Contoh AlphaGo: jutaan catatan pertandingan profesional dimasukkan. Jika langkah yang diambil benar, sistem diberi “hadiah”; jika salah, dia diberi tahu untuk memperbaiki diri.
· Contoh perbankan: jika AI memberi pinjaman pada orang yang sering gagal bayar, sistem dikoreksi agar mengurangi peluang pemberian pinjaman berikutnya.
Deep learning membutuhkan dua hal penting:
1. Komputasi superkuat.
2. Data berkualitas tinggi.
Jika keduanya terpenuhi, muncullah “otak super” yang mampu meniru cara manusia berpikir, tidak hanya menirukan gerakan atau ucapan.
Manusia: Kalah atau Hidup Berdampingan dengan AI?
Sebelum revolusi industri, mayoritas orang bekerja di pertanian atau berburu. Begitu revolusi industri datang, jumlah petani berkurang drastis. Namun, itu bukan berarti manusia kehilangan pekerjaan, melainkan berpindah ke pekerjaan baru hasil revolusi.
Hal serupa mungkin terjadi dengan AI. Dari sudut positif, AI membebaskan manusia dari pekerjaan repetitif yang membosankan, sehingga waktu bisa digunakan untuk pekerjaan kreatif, kehidupan pribadi, dan menikmati kebebasan.
Tetapi ada sisi lain: Sam Altman (OpenAI) percaya bahwa jumlah pekerjaan baru yang diciptakan AI akan lebih sedikit dibanding jumlah pekerjaan lama yang hilang.
Penutup: Kunci Ada pada “Pengetahuan”
Yuval Noah Harari dalam Homo Deus menulis:
“Dunia sering dianggap seperti kue dengan ukuran tetap—semakin banyak dimakan, semakin habis. Padahal, sumber daya ada tiga: bahan mentah, energi, dan pengetahuan.
· Bahan mentah & energi bisa habis.
· Pengetahuan justru sebaliknya: makin digunakan, makin bertambah.
· Pertumbuhan pengetahuan bisa melahirkan bahan mentah dan energi baru.”
Maka, satu-satunya cara agar kita tidak tergilas arus sejarah adalah terus memperbarui pengetahuan.
Kesimpulan
· Deep learning adalah inti perkembangan AI modern: belajar dari data, memperbaiki diri, dan meniru cara berpikir manusia.
· AI bisa jadi ancaman atau peluang. Yang kalah adalah mereka yang pasif, yang menang adalah mereka yang mampu beradaptasi.
· Pendidikan di masa depan bukan sekadar menjejalkan ilmu, tetapi menumbuhkan kemampuan belajar mandiri, berpikir kritis, beradaptasi, dan memperbarui pengetahuan seumur hidup.
Intinya: AI bisa membuat banyak orang kehilangan pekerjaan, tapi yang punya “modal pengetahuan” justru akan memimpin masa depan. (jhn/yn)


