EtIndonesia. Pada usia 92 tahun, Suster Mary Joseph wafat setelah lebih dari tiga dekade mengabdikan diri dalam biara. Sejak awal masuk kehidupan religius, dia telah bersumpah untuk hidup dalam keheningan, kesunyian, dan kemiskinan. Namun, perjalanan hidupnya jauh dari biasa.
Dari Sosialita ke Suster
Sebelum menjadi biarawati, dia dikenal sebagai Ann Russell Miller, seorang sosialita kaya raya asal San Francisco. Ann adalah ikon pergaulan kelas atas: sering menggelar pesta mewah, berlangganan pertunjukan opera, dan dikenal luas di lingkaran elite. Dia juga seorang ibu dengan 10 anak.
Di usia 20 tahun, Ann menikah dengan Richard Miller, wakil presiden perusahaan energi besar Pacific Gas and Electric.
“Ibu Pahlawan”

Putra bungsunya, Mark Miller, bercerita di Twitter: di usia 27, Ann sudah menjadi ibu dari lima anak. Tak lama kemudian, dia melahirkan lima lagi—total 10 anak, seimbang 5 putra dan 5 putri. Dia bahkan bercanda menyebutnya sebagai bentuk “keluarga berencana”.
Mark menambahkan: “Ibu punya banyak teman. Dia merokok, minum, main kartu, bahkan menyelam di laut terbuka. Dia mengemudi dengan kecepatan gila sampai penumpangnya refleks menginjak rem khayalan.”
Namun suatu hari, Ann berhenti sekaligus dari rokok, alkohol, dan kafein—tanpa menyulitkan siapa pun di sekitarnya.
Keluarga Miller tinggal di sebuah mansion megah dengan 9 kamar tidur menghadap Teluk San Francisco. Mereka terbiasa berlibur ke resort ski, berlayar dengan kapal pesiar di Mediterania, bahkan ikut serta dalam ekspedisi arkeologi.
Ann juga aktif dalam 22 dewan organisasi sekaligus, menggalang dana untuk mahasiswa berbakat, tunawisma, dan Gereja Katolik Roma.
Titik Balik
Tahun 1984, suaminya Richard meninggal karena kanker. Peristiwa itu menjadi titik balik besar. Ann mulai menempuh jalan panjang untuk bergabung dengan salah satu ordo biarawati paling ketat di dunia: Ordo Karmelit Santa Maria di Des Plaines, Illinois.
Lima tahun kemudian, dia meninggalkan seluruh kehidupannya—kemewahan, status sosial, dan pergaulan duniawi—lalu resmi masuk biara.
Para suster Karmelit hidup dalam kesunyian, hanya berbicara jika benar-benar perlu, seperti saat bertemu dokter. Sebagian besar waktu mereka dipenuhi doa, kontemplasi, dan kerja sederhana.
Kehidupan Baru

Mark mengakui ibunya “berbeda” dari kebanyakan suster. Dia sering terlambat menjalankan tugas, tak pandai bernyanyi, bahkan sempat melempar kayu ke arah anjing biara—hal yang dianggap melanggar aturan.
Selama 33 tahun ibunya hidup sebagai suster, Mark hanya bertemu dua kali, itupun dipisahkan oleh jeruji logam ganda, tanpa bisa berpelukan.
Ann memiliki 28 cucu dan belasan cicit—beberapa tak pernah dia temui, bahkan tak pernah digendong.
Kamarnya sederhana: sebuah ruangan kecil dengan ranjang berupa papan kayu beralas kasur tipis. Dari seorang wanita yang dulu memakai payung sutra, scarf Hermes, dan sepatu Versace, kini ia hanya mengenakan jubah cokelat sederhana dan sandal.
Perpisahan Megah
Pada ulang tahunnya yang ke-61, Ann menggelar pesta perpisahan besar di Hotel Hilton San Francisco, dihadiri 800 tamu. Mereka menikmati hidangan laut mahal sambil diiringi orkestra live.
Ann mengenakan mahkota bunga di kepala, dengan balon helium bertuliskan “I’m here” (Aku di sini), agar para tamu mudah menemukannya untuk berpamitan.
Di hadapan para sahabat, dia berkata:
· 30 tahun pertama hidupnya dia persembahkan untuk dirinya sendiri.
· 30 tahun berikutnya untuk anak-anaknya.
· 30 tahun terakhir, dia serahkan sepenuhnya kepada Tuhan.
Keesokan harinya, dia terbang ke Chicago dan memulai kehidupan barunya sebagai Suster Mary Joseph.
Warisan
Mark menggambarkan hubungannya dengan sang ibu sebagai sesuatu yang rumit.
Namun ia menutup kisahnya dengan kata-kata penuh hormat: “Ibuku lahir di tahun 1920-an, dan wafat di tahun 2020-an. Dia adalah Ann Miller, sekaligus Suster Mary Joseph. Sampaikan salamku untuk ayah di surga.” (jhn/yn)


