Nepal Cabut Larangan Medsos Setelah Meletusnya Aksi Protes Gen-Z Anti-Korupsi  Menewaskan 19 Orang, Jam Malam Diberlakukan

EtIndonesia —Pemerintah Nepal mencabut larangan akses media sosial kurang dari sehari setelah aksi demonstrasi anti-korupsi yang dipicu oleh kebijakan blokir tersebut berujung pada tewasnya 19 orang, ungkap seorang menteri pemerintah pada Selasa (9/9/2025), seraya diberlakukannya jam malam di ibu kota Kathmandu.

Pemerintah telah membatalkan blokir media sosial yang diterapkan pekan lalu, demikian disampaikan juru bicara Kabinet sekaligus Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi Prithvi Subba Gurung.

Keputusan itu diambil setelah 19 orang tewas dan lebih dari 100 orang luka-luka dalam demonstrasi “Gen Z” pada Senin (8/9) yang menyoroti maraknya praktik korupsi. Aksi tersebut memang dipicu oleh kebijakan blokir media sosial.

“Kami telah mencabut pemadaman media sosial. Saat ini, platform-platform itu sudah beroperasi kembali,” ujar Gurung kepada Reuters.

Pada pagi hari Selasa, semua aplikasi media sosial telah tersedia kembali di Nepal, sebagaimana diverifikasi oleh Reuters.

Pihak berwenang juga memberlakukan jam malam tanpa batas waktu di wilayah perkotaan Kathmandu, kata Administrator Distrik Kathmandu Chhabilal Rijal. Langkah itu dimaksudkan untuk mencegah munculnya demonstrasi lebih lanjut.

“Tidak ada demonstrasi, pertemuan massa, rapat, atau kumpul-kumpul orang yang diizinkan selama masa jam malam,” tegasnya dalam sebuah pengumuman resmi.

Langkah ini diambil setelah para demonstran mengajak masyarakat bergabung dalam pertemuan duka cita untuk menghormati korban tewas akibat demonstrasi Senin kemarin.

Di Distrik Lalitpur yang berbatasan, pihak berwenang memberlakukan jam malam hingga tengah malam (18.15 GMT) pada Selasa.

Perdana Menteri K.P. Sharma Oli menyatakan dirinya berduka cita atas insiden kekerasan yang dipicu “infiltrasi dari berbagai pusat kepentingan egois”.

Pemerintah akan memberikan santunan kepada keluarga korban jiwa dan perawatan medis gratis bagi para korban luka, tambahnya.

“Tim investigasi akan dibentuk untuk mengungkap penyebab, menilai kerugian, serta merekomendasikan langkah-langkah dalam waktu 15 hari guna mencegah pengulangan insiden serupa di masa depan,” kata Oli dalam pernyataan larut malam pada Senin.

Para koordinator demonstrasi, yang kini merebak ke berbagai kota lain di negara Himalaya tersebut, menyebut aksi mereka sebagai “demonstrasi Gen Z”. Mereka menegaskan bahwa protes ini mencerminkan kekecewaan mendalam kaum muda terhadap minimnya upaya pemerintah dalam memberantas korupsi dan membuka peluang ekonomi yang lebih baik.

Pekan lalu, pemerintah memutuskan memblokir akses ke sejumlah platform media sosial, termasuk Facebook, sebuah kebijakan yang memicu kemarahan di kalangan generasi muda.

Pejabat pemerintah menjelaskan bahwa blokir tersebut ditujukan pada berbagai platform yang gagal mendaftar secara resmi, di tengah upaya penindakan terhadap akun palsu, penyebaran informasi palsu, serta ujaran kebencian.

oleh Gopal Sharma

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine