Orang yang Menjual Bayangannya

EtIndonesia. Setelah melewati perjalanan laut yang panjang dan penuh kesulitan, akhirnya kami tiba di pelabuhan. Begitu kapal merapat, aku segera memanggul barang bawaanku yang sederhana, bergegas keluar dari kerumunan, lalu masuk ke penginapan pertama yang kutemui di jalan.

Aku meminta sebuah kamar. Pelayan menatapku dari ujung kepala hingga kaki sebelum mengantarku ke loteng. Aku memintanya menyiapkan air bersih, kemudian bertanya dengan rinci tentang keberadaan Tuan Thomas John.

“Di luar gerbang utara, rumah pedesaan pertama di sebelah kanan. Rumah besar baru dari marmer merah-putih dengan banyak pilar.” Jawabannya jelas. 

Waktu masih cukup siang. Aku membuka bawaanku, memilih mantel hitam terbaik, berganti pakaian dengan hati-hati, lalu menyelipkan surat pengantar ke dalam saku. Dengan penuh harapan, aku berangkat menuju rumah orang yang kuanggap bisa membantu mewujudkan rencanaku.

Pertemuan Pertama

Aku berjalan melewati jalan utara yang panjang, keluar gerbang kota, lalu melihat pilar-pilar rumah pedesaan yang berdiri di antara pepohonan. 

“Inilah tempatnya,” pikirku. 

Aku mengibaskan debu di sepatuku dengan sapu tangan, merapikan dasi, dan menekan bel.

Pintu terbuka. Penjaga rumah menanyai aku dengan teliti sebelum akhirnya mengumumkan kedatanganku. Tak lama kemudian, aku dipersilakan masuk ke taman, tempat Tuan John sedang berjalan-jalan bersama beberapa tamu.

Aku langsung mengenali dia—seorang pria gemuk, wajahnya penuh rasa puas diri. Dia menyambutku dengan sopan, cara khas orang kaya menyambut orang tak punya. Dia bahkan sempat berbicara sedikit denganku, menerima surat pengantar itu, tetapi sama sekali tidak menyingkirkan perhatian dari tamu-tamu lainnya.

“Oh, oh, surat dari saudaraku! Sudah lama aku tak mendengar kabarnya. Bagaimana kesehatannya?” Tanyanya.

Tanpa menunggu jawabanku, dia segera berkata pada yang lain: “Lihatlah ke sana. Aku membangun rumah baru itu di atas bukit kecil itu.”

Sambil membuka surat, dia melanjutkan obrolan soal kekayaan. “Kalau seseorang bahkan tak punya sejuta yang layak disebut hartanya—maaf aku harus berkata begini—dia hanyalah seorang tak berguna.”

“Ah, benar sekali!” seruku cepat.

Dia tersenyum puas kepadaku.

“Tetaplah di sini, kawan. Nanti, mungkin aku akan sempat berbagi pandanganku denganmu.”

Dia menaruh surat itu ke saku, lalu segera kembali sibuk menyenangkan hati para tamunya.

Bayangan yang Tak Dilirik

Dia menggandeng lengan seorang wanita muda, tamu pria lain pun segera melakukan hal yang sama. Mereka berjalan berpasangan ke arah bukit kecil. Aku mengikuti dari belakang, namun tak seorang pun memperdulikanku. Mereka sibuk bercanda, tertawa, bahkan gemar membicarakan orang-orang yang tidak hadir.

Kami melewati kebun mawar. Di sana, wanita tercantik bernama Fanny ingin memetik bunga sendiri. Tangannya tergores duri hingga berdarah. Semua orang sibuk mencari plester. Saat itu, seorang pria kurus berwajah tua, berjas abu-abu usang, tiba-tiba maju. Dari saku kecilnya, dia mengeluarkan dompet kulit, membuka, dan mengambilkan plester. Dia menyerahkannya pada sang wanita—tanpa mendapat perhatian, apalagi ucapan terima kasih. Luka itu dibalut, lalu semua orang kembali berjalan.

Sesampainya di puncak bukit, pemandangan begitu indah: taman hijau membentang hingga ke laut. Tiba-tiba, di garis horizon laut biru, muncul sebuah cahaya kecil.

“Bawakan teropong!” seru Tuan John.

Sebelum pelayan sempat berlari, pria berjas abu-abu itu sudah mengeluarkan teropong indah dari sakunya yang kecil, lalu menyerahkannya. Dengan penuh semangat, Tuan John menunjuk ke arah kapal di laut, kapal yang kemarin terpaksa berlindung di pelabuhan karena badai.

Teropong itu berpindah dari satu tangan ke tangan lain, namun tak pernah kembali kepada si pemilik.

Aku menatap pria itu penuh keheranan. Bagaimana mungkin benda sebesar itu bisa keluar dari saku sekecil itu? Tetapi anehnya, tidak seorang pun memerhatikan hal itu. Mereka mengabaikan si pria abu-abu sama seperti mereka mengabaikanku.

Sebuah Sambutan yang Hambar

Kemudian, Tuan John menjamu kami dengan buah-buahan tropis yang mahal, tersaji di piring perak berharga. 

Dia menoleh padaku, hanya sekali lagi: “Silakan makan, kawan. Di laut, pasti kamu tak bisa mendapatkannya.”

Aku baru hendak mengucapkan terima kasih, tetapi dia sudah berpaling, kembali bercakap-cakap dengan tamu lainnya.

Cerita ini adalah pembuka dari kisah “Orang yang Menjual Bayangannya”: seorang manusia yang karena kesepakatan misterius, kehilangan bayangannya dan akhirnya ditolak oleh masyarakat. Pesan tersiratnya: dunia sering lebih menghargai harta, status, dan penampilan luar daripada esensi sejati seseorang.

Kisah ini menyoroti betapa rapuhnya nilai manusia di mata orang lain bila diukur hanya dari simbol lahiriah. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine