EtIndonesia. Krisis politik di Nepal semakin memanas. Pada Selasa (9/9/2025), rakyat menuding korupsi parah dan kemerosotan negara disebabkan oleh pemerintahan Partai Komunis. Mereka menuntut tumbangnya rezim komunis, menyerbu lembaga-lembaga pemerintah penting, sementara kobaran api meluas di berbagai lokasi.
Pada hari yang sama, demonstran menyerbu markas Partai Komunis Nepal, memanjat tiang bendera dan menurunkan panji palu arit. Kerumunan bersorak riuh menyambut momen itu.
Asap pekat terlihat mengepul dari gedung parlemen Nepal di Kathmandu dan kantor stasiun televisi Kantipur TV, yang dianggap sebagai corong Partai Komunis.
Massa juga menduduki kantor polisi setempat, menyerang rumah-rumah pejabat, membakar kediaman mantan perdana menteri, dan memaksa penutupan bandara internasional.

Perdana Menteri K.P. Sharma Oli pada Selasa mengumumkan pencabutan larangan media sosial, lalu menyatakan pengunduran dirinya. Menurut laporan, ia kemudian melarikan diri dengan helikopter.
Laxmi Panday, seorang pengunjuk rasa: “Hari ini kami sangat bersemangat, merasa kemenangan akhirnya tiba. Kemarin gelap seperti kiamat, hari ini penuh cahaya. Kami sangat bahagia, ini adalah kemenangan rakyat Nepal.”
Tang Hao, seorang jurnalis senior berkata: “Kini rakyat Nepal tidak hanya bangkit melawan pemerintah komunis, tetapi juga menyerbu markas Partai Komunis. Bahkan beberapa anggota parlemen telah mengumumkan keluar dari partai itu. Gelombang perlawanan terhadap Partai Komunis ini adalah hal yang paling patut diperhatikan.”
Setelah pemilu 2022, Partai Komunis Nepal (CPN-UML) yang dipengaruhi oleh infiltrasi Beijing dan menekan komunitas Tibet, menjadi salah satu partai penguasa utama dan fraksi terbesar kedua di parlemen.
Pekan lalu, rezim komunis memberlakukan blokade terhadap sejumlah platform media sosial, memicu protes besar-besaran dari generasi muda Z. Pemerintah mengerahkan polisi dan militer untuk membubarkan massa dengan kekerasan, menewaskan sedikitnya 21 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya.
Tang Jingyuan, pengamat politik: “Nepal adalah negara tetangga Tiongkok, dan model pemerintahannya hampir menyalin model (represif dan korup) Beijing. Maka, kegagalan dan runtuhnya sistem ini menjadi contoh yang sangat khas.”
Apakah peristiwa ini akhirnya akan membuat Nepal lepas dari kendali Beijing dan bergerak menuju demokrasi sejati, kini menjadi perhatian dunia internasional.
Sumber : NTDTV.com


