EtIndonesia. Kenapa saya ingin membiasakan diri menulis jurnal?
Alasannya mirip dengan kenapa saya rutin mencatat keuangan setiap bulan.
· Mencatat keuangan membantu saya mengontrol pengeluaran, melihat pola penggunaan uang, dan menghentikan kebiasaan boros.
· Menulis jurnal membantu saya meninjau bagaimana saya menggunakan waktu bebas saya setiap hari (waktu di luar jam kerja, termasuk akhir pekan).
Dengan jurnal, saya bisa tahu apakah target olahraga mingguan saya tercapai, apakah saya konsisten memperbarui website yang saya kelola, atau apakah rencana membaca dan belajar saya sudah benar-benar berjalan.
Cukup dengan mencatat hal-hal yang sudah dilakukan dan rencana yang akan datang, saya bisa menghindari hidup yang terbuang sia-sia. Waktu adalah aset paling adil: ia tidak bertambah untuk orang kaya, dan tidak melambat untuk orang yang sedang panik. Jadi, yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakannya dengan bijak.
Ritual Membuka Kembali Jurnal Lama
Saya pribadi suka sekali membaca ulang catatan dan jurnal lama. Melihat tulisan tangan yang padat memberi kesan hidup saya terasa penuh arti, bahkan menghadirkan nostalgia yang hangat.
Bagi saya, membuka jurnal lama bagaikan membuka kapsul waktu, seakan-akan saya sedang menikmati kembali potongan hidup yang pernah saya simpan.
Tapi masalahnya, kebiasaan menulis jurnal saya sering putus nyambung. Ada banyak halaman kosong karena rasa malas yang sering datang.
Menemukan Akar Masalah
Saya sadar bahwa saya tidak pernah benar-benar menjadikan menulis jurnal sebagai kebiasaan, apalagi target harian. Biasanya saya hanya menulis kalau kebetulan ingat, atau kalau lagi mood. Akibatnya, begitu merasa capek atau malas, kegiatan itu langsung terabaikan.
Kesalahan lain: saya terlalu membuat aturan ribet. Harus ada kategori, harus ada warna pena berbeda, harus rapi—akhirnya menulis jurnal jadi rumit dan melelahkan. Padahal, yang penting itu menulis setiap hari, bukan menghasilkan catatan yang indah.
Metode “Orang Malas”: Hasil Maksimal dengan Cara Termudah
Saya lalu mencoba cara baru: membuat tabel kebiasaan. Saya tulis kegiatan harian yang ingin saya lakukan: olahraga, menggambar, menulis artikel, latihan gitar, membaca buku. Kalau hari itu berhasil melakukannya, saya cukup memberi tanda centang. Setelah sebulan, progres terlihat jelas, dan itu memberi rasa puas.
Selain itu:
· Setiap bulan saya membuat kolase foto untuk mengingat momen penting seperti liburan, perayaan, atau kumpul keluarga.
· Untuk pekerjaan, saya menulis jurnal singkat harian. Catatan sederhana ini mempermudah saat harus membuat laporan kerja bulanan.
· Semua agenda yang berhubungan dengan tanggal saya catat di kalender ponsel agar bisa disetel pengingatnya.
Dengan cara-cara sederhana ini, hasil yang didapat jadi jauh lebih besar. Efisiensi meningkat, tanpa terasa terbebani.
Pada Intinya: Kemalasan Justru Mendorong Inovasi
Kalau dipikir-pikir, banyak kemajuan teknologi lahir dari “kemalasan” manusia. Kita ingin hidup lebih nyaman dan praktis, maka diciptakanlah: robot pembersih lantai, mesin pencuci piring, penerjemah elektronik, mobil tanpa sopir, dan lain-lain.
Jadi benar juga kalau dikatakan, yang mendorong peradaban maju adalah “kemalasan”.
Bukan berarti pasrah dan tidak melakukan apa-apa, tapi tahu bagaimana menggunakan energi seminimal mungkin untuk hasil maksimal.
Seperti prinsip Tai Chi: mengalir bersama kekuatan, bukan melawannya; menggunakan kelembutan untuk mengatasi kesulitan.
Dan mungkin, memang begitulah cara orang pintar menjalani hidup. (jhn/yn)


