Pada 10 September, militer Nepal secara jarang terlihat turun ke jalan-jalan ibu kota Kathmandu, mengambil alih pengamanan setelah polisi kehilangan kendali. Aksi protes rakyat besar-besaran selama dua hari berturut-turut memaksa Perdana Menteri pro-Beijing K.P. Sharma Oli melarikan diri dengan tergesa-gesa. Partai Komunis Nepal yang berkuasa pun runtuh! Banyak pihak menilai, justru proyek “Belt and Road” (BRI) Partai Komunis Tiongkok yang merusak negeri itu, ditambah korupsi parah rezim yang berkuasa, akhirnya meledakkan kemarahan rakyat dan membuat Nepal berubah dalam semalam.
EtIndonesia. Pada Selasa (9/9/2025), para narapidana membakar Penjara Dillibazar di Kathmandu. Sehari kemudian, Rabu (10/9), militer berhasil menggagalkan upaya kabur massal, memindahkan para tahanan ke berbagai penjara lain tanpa korban jiwa.
Militer kemudian bernegosiasi dengan narapidana yang melarikan diri, lalu membawa mereka kembali dengan mobil tahanan.
Selasa malam, pemerintah mengumumkan pemberlakuan jam malam. Militer meminta warga tetap berada di rumah. Pada Rabu, warga mengatakan mereka berharap ketertiban segera dipulihkan, dan menantikan lahirnya pemerintahan baru yang bersih dari korupsi.
Seorang warga bernama Govind berkata: “Kami butuh seseorang yang benar-benar memikirkan kesejahteraan negeri ini. Kami merindukan kebangkitan kembali negara ini.”
Kementerian Kesehatan Nepal menyampaikan bahwa hingga Rabu, jumlah korban tewas dalam aksi protes antikorupsi pekan ini sudah mencapai 25 orang, dengan 633 orang luka-luka.
Rabu siang, api masih membakar Hotel Hilton Kathmandu, dengan asap hitam membubung. Hotel itu dibakar massa pada aksi protes sehari sebelumnya.
Seorang warga, Vaid Thakur, mengatakan: “Meski kami menderita kerugian, perubahan sejarah ini telah membangunkan saya dan rakyat sebangsa. Kami sedang mengalami pergantian rezim. Kini, warga akhirnya akan mendapatkan hak yang memang layak mereka terima.”
Hari yang sama, sebagian warga Kathmandu menggelar aksi bersih-bersih. Para relawan muda berkumpul di depan kantor Departemen Manajemen Transportasi, membersihkan puing-puing dan sisa kebakaran.
Senin (8/9), generasi muda Nepal (Gen Z) turun ke jalan setelah pemerintah memblokir platform media sosial. Polisi melepaskan tembakan ke arah massa, menewaskan setidaknya 19 orang dan memperburuk bentrokan antara aparat dan rakyat.
Meski pada Selasa pemerintah mencabut larangan media sosial, aksi protes tetap membara. Fokus kemarahan rakyat mulai beralih ke korupsi rezim. Sebagian demonstran meneriakkan slogan: “Berantas korupsi!”
Pengamat menilai, meskipun pemicu awal aksi protes adalah larangan media sosial, akar masalah yang lebih dalam adalah tingginya pengangguran dan korupsi pemerintahan yang menimbulkan kemarahan rakyat. Itu sekaligus menjadi konsekuensi politik dari korupsi dalam proyek “Belt and Road” PKT.
Sejumlah demonstran menyoroti puluhan tahun salah urus pemerintahan Nepal, termasuk skandal korupsi puluhan juta dolar dalam pembangunan Bandara Internasional Pokhara, yang merupakan proyek andalan “Belt and Road” Beijing.
Sumber : NTDTV.com


