Seorang pria bermarga Huang (nama samaran), 27 tahun, dari Huai’an, Jiangsu, dalam tiga tahun terakhir dijadwalkan lebih dari 20 kali kencan buta oleh orang tuanya. Karena tekanan perjodohan yang berkepanjangan, ia mengalami gangguan panik, dengan gejala jantung berdebar, sesak napas, rasa seakan akan mati, hingga akhirnya harus dirawat di rumah sakit.
EtIndonesia. Menurut laporan Yangtze Evening News pada 10 September, sebagai anak tunggal, setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan, Huang tidak mengikuti jalur “aman” seperti harapan orang tuanya, melainkan memilih berbisnis bersama teman. Dengan usahanya sendiri ia bisa mandiri secara finansial. Namun, di mata orang tuanya, menikah adalah hal yang paling penting.
Tiga tahun lalu, tanpa sepengetahuan Huang, orang tuanya meminta bantuan kerabat dan teman untuk mencarikannya jodoh. Saat itu Huang sedang fokus penuh pada usahanya, setiap hari sibuk ke pasar dan bertemu klien, sehingga tidak sempat memikirkan soal asmara. Namun karena desakan orang tua, ia awalnya masih memilih menurut.
Setelah beberapa kali kencan buta gagal, permintaan Huang untuk memperlambat tempo justru membuat orang tuanya semakin gencar mendesak. Dalam tiga tahun singkat, ia dijadwalkan ikut lebih dari 20 kali kencan buta. Setiap kali, orang tuanya selalu berkata “ini demi kebaikanmu” sambil mendesaknya agar lebih aktif dan tidak terlalu pilih-pilih. Hal ini membuat tekanan psikologis Huang semakin berat.
Sejak tahun lalu, tanpa tanda-tanda sebelumnya, Huang mulai sering merasa jantung berdebar, dada sesak, seperti ada batu menekan, sulit bernapas, disertai pusing dan kesemutan di tangan. Kemudian muncul pula gejala perut kembung, asam lambung naik, mual, dan serangan mendadak yang membuatnya merasa “seperti akan mati.”
Setiap kali ia pergi berobat, hasil pemeriksaan EKG, CT scan, hingga tes darah semua menunjukkan “tidak ada kelainan berarti.” Namun gejala ini semakin sering muncul, sehingga ia tak bisa bekerja maupun hidup normal.
Akhirnya, Huang menjalani pemeriksaan di Departemen Penyakit Psikosomatik Rumah Sakit Rakyat Ketiga Huai’an. Ia didiagnosis menderita gangguan panik, yaitu sejenis gangguan kecemasan akut yang dipicu oleh tekanan psikologis dan penekanan emosi jangka panjang. Saat ini, ia telah dirawat inap untuk menjalani kombinasi pengobatan medis dan psikoterapi.
Gangguan panik, juga disebut gangguan panik akut, ditandai dengan serangan panik berulang yang muncul tiba-tiba. Gejalanya termasuk jantung berdebar hebat, keringat berlebih, gemetar, disertai rasa seakan akan mati atau kehilangan kendali.
Di daratan Tiongkok, begitu memasuki usia “siap menikah,” orang tua sering kali lebih cemas daripada anak-anak mereka. Fenomena mendesak anak menikah dan “perjodohan ala Tiongkok” sangat umum terjadi. Survei menunjukkan, setiap kali Tahun Baru Imlek, banyak orang tua mendesak anaknya ikut kencan buta, hingga banyak pemuda merasa takut untuk pulang kampung.
Media Tiongkok pernah melaporkan, pada Tahun Baru 2015, seorang pemuda di Henan dijadwalkan oleh orang tuanya untuk bertemu 25 gadis hanya dalam 5 hari.
Laporan resmi Partai Komunis Tiongkok tentang “Situasi Perjodohan Paksa di Tiongkok” menunjukkan: lebih dari 70% responden pernah dipaksa menikah oleh orang tua, dengan tekanan terbesar dialami kelompok usia 25–35 tahun. Tingkat pemaksaan pada perempuan 6% lebih tinggi daripada laki-laki. Bahkan 3% responden mengaku dipaksa menikah sebelum mencapai usia legal untuk menikah.
BBC Inggris juga pernah melaporkan bahwa sebagai warisan dari kebijakan satu anak, jumlah laki-laki di Tiongkok lebih banyak beberapa juta dibanding perempuan. Dampak kebijakan ini akan terus berlangsung selama beberapa dekade. Saat ini, jumlah pria yang siap menikah jauh melebihi jumlah wanita, dan ketidakseimbangan gender terus memburuk.
Sumber : NTDTV.com


