Pada Kamis (11/9/2025), setelah tumbangnya rezim komunis di Nepal, generasi muda aktif mendorong perundingan dengan pihak militer untuk memilih pemimpin sementara baru. Saat ini sudah muncul dua kandidat populer. Sementara itu, terjadi peristiwa pelarian massal dari penjara, yang memicu bentrokan sengit antara militer dan narapidana, sehingga jam malam kembali diperpanjang.
EtIndonesia. Militer Nepal menyatakan bahwa pada Kamis (11/9/1015) pagi, 14.307 narapidana melarikan diri dari penjara, di mana 1.455 orang berhasil ditangkap kembali, sementara lebih dari 12.000 lainnya masih buron.
Dalam bentrokan sengit kedua belah pihak, sedikitnya 2 narapidana tewas, dan 12 hingga 13 orang lainnya terluka. Militer kemudian memperpanjang jam malam serta menyerukan warga agar tetap tenang.
Militer mengumumkan bahwa mulai Kamis, mereka akan mengadakan perundingan dengan para pemuda pengunjuk rasa untuk segera membentuk pemerintahan sementara.
Saat ini, kandidat perdana menteri dengan tingkat popularitas tertinggi adalah Wali Kota Kathmandu, Balendra Shah dan mantan Ketua Mahkamah Agung, Sushila Karki.
Perwakilan pemuda mengumumkan kepada massa yang berkumpul di luar markas besar Angkatan Darat Nepal bahwa mereka merekomendasikan Sushila Karki sebagai perdana menteri sementara, yang langsung disambut dengan sorak-sorai.
Perwakilan Generasi Z, Rehan Raj Dangal, menyatakan: “Di antara tokoh-tokoh yang diakui masyarakat sebagai bermoral dan adil, kami sepakat merekomendasikan Ibu Sushila Karki untuk membentuk dan memimpin pemerintahan sementara.”
Karki pada Kamis pagi telah lebih dahulu memulai perundingan dengan Panglima Angkatan Darat Nepal.
Kaum muda berharap agar dalam waktu 6 hingga 12 bulan dapat digelar referendum untuk membentuk pemerintahan sipil dan sepenuhnya mengakhiri sistem komunis.
Pemimpin muda Ojashwi Thapa mengatakan: “Di masa depan, kami berharap tidak ada lagi korupsi seperti sebelumnya. Ratusan ribu pemuda terpaksa bekerja ke luar negeri. Kami berharap hari-hari seperti itu tidak akan terulang lagi.”
Ojashwi Thapa juga menyebutkan bahwa pihaknya tengah merencanakan pembubaran parlemen, pemilu ulang, serta amandemen konstitusi.
Sumber : NTDTV.com


