Otot betis adalah pahlawan tanpa tanda jasa dalam sistem kardiovaskular, dengan penelitian menunjukkan bahwa pergerakan teratur sangat penting untuk kesehatan vena
Rachel Roberts
Ketika kita memikirkan sistem kardiovaskular, biasanya jantunglah yang dianggap berjasa menjaga darah tetap mengalir melalui 96.000 kilometer pembuluh di tubuh. Namun, di balik layar, otot betis kita juga terus berkontraksi untuk mendorong aliran darah ke atas melawan gravitasi. Karena itu, sebagian pakar menyebut pompa betis sebagai “jantung kedua” kita.
Jika Anda jarang menggunakan otot betis, jantung dan sistem pembuluh darah bisa terganggu. Fungsi pompa otot betis yang menurun merupakan faktor risiko pembekuan darah di pembuluh vena, yang dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk trombosis vena dalam dan emboli paru, menurut sebuah studi tahun 2021 dari American Society of Hematology.
Dr. Sonja Stiller, dokter bersertifikat ganda dan pendiri Center for Advanced Vein Care di Mentor, Ohio, mengatakan bahwa penggunaan metafora “jantung kedua” untuk otot betis adalah momen pencerahan bagi banyak pasiennya dalam upaya membuat mereka “sekadar bergerak.”
Bekerja Melawan Gravitasi
Jantung dapat memompa banyak darah ke kaki, tetapi kesulitan untuk mengembalikannya.
Vena kaki harus mengangkut darah beserta limbah metabolik kembali ke organ vital agar dapat disaring hati dan ginjal, jelas Stiller.
“Darah harus bergerak melawan gravitasi, dan tidak ada yang bisa melawan gravitasi tanpa bantuan. Yang pertama kita butuhkan adalah pompa, dan itulah otot betis Anda—secara harfiah adalah jantung kedua, karena ia yang mendorong darah ke atas,” katanya.
Dua otot utama betis adalah soleus dan gastrocnemius, dengan soleus yang paling efektif menjaga aliran darah dalam jangka panjang. Itulah mengapa mengaktifkan betis merupakan strategi penting untuk mendukung kesehatan kardiovaskular.
“Otot betis membantu menjaga aliran darah. Ketika aliran menurun karena gravitasi—kita jadi stagnan, dan aliran yang stagnan sendiri adalah faktor risiko pembekuan darah,” kata Stiller.
Untuk mencegah masalah peredaran darah, semua jenis olahraga bermanfaat—termasuk berjalan jarak pendek secara teratur sepanjang hari.
“Kita memang diciptakan untuk berjalan. Begitulah cara kita bergerak,” tambahnya.
Namun, jika masalah sudah terjadi, Anda harus menyesuaikan dengan kondisi pasien—tidak semua orang bisa mencapai angka ‘ajaib’ 10.000 langkah per hari yang sering direkomendasikan. Tetapi separuhnya saja sudah bisa memberi manfaat nyata bagi mereka yang memiliki masalah kesehatan, ujarnya.
Mereka yang paling berisiko terkena masalah vena termasuk lansia—karena cenderung kurang bergerak—juga karena aliran darah melawan gravitasi semakin melemah seiring waktu. Wanita hamil dan orang yang sulit bergerak, misalnya setelah operasi, juga berisiko.
Gaya hidup sedentari dengan duduk terlalu lama akan melemahkan pompa betis seiring waktu. Obesitas juga menjadi faktor risiko karena peradangan yang meningkat di kaki. Walau sebagian pakar percaya ada faktor genetik kuat terhadap pembekuan darah, Stiller menyebut bisa jadi ada “warisan sosial,” karena anak-anak biasanya meniru gaya hidup orang tuanya.
“Mereka belum pernah menemukan gen, atau kelompok gen, yang meningkatkan risiko pembekuan darah,” katanya.
Tanda dan Gejala
Tanda paling umum dari masalah kesehatan vena adalah rasa berat dan lelah di kaki pada akhir hari. Banyak orang menganggap ini akibat aktivitas harian, tetapi bisa jadi disebabkan penumpukan asam laktat di pembuluh vena ketika darah tidak mengalir naik dengan baik.
Pakaian kompresi medis bisa sangat bermanfaat bagi penderita varises, tetapi sebagai langkah pencegahan, olahraga sederhana yang paling membantu adalah berdiri sambil mengangkat tumit (calf raises), kata Stiller.
“Kalau saya berdiri di antrean kafe dan melakukan calf raises,” ujarnya, “orang-orang akan bertanya apakah saya akan lari atau olahraga, karena mereka pikir itu hanya peregangan, dan saya hanya tersenyum sambil berkata, ‘Tidak, saya sedang menjaga jantung saya.’ Mereka heran, dan saya tetap melanjutkan. Faktanya, kalau semua orang melakukannya, itu akan membawa perbedaan besar bagi kesehatan vena mereka.”
Meski kita sering diingatkan menjaga jantung, pentingnya menjaga otot betis jarang disampaikan dalam pesan kesehatan masyarakat, padahal risikonya nyata. Kekuatan kaki juga berkaitan dengan kesehatan kognitif, keseimbangan, dan lainnya.
Masalah dengan sistem aliran balik vena umum terjadi seiring usia, dengan penelitian menunjukkan bahwa 30% hingga 55% orang berusia di atas 50 tahun terdampak—termasuk mantan Presiden Donald Trump, yang baru-baru ini didiagnosis dengan insufisiensi vena kronis. Dalam kondisi ini, vena kaki tidak bisa mengembalikan darah ke jantung dengan baik, menyebabkan penumpukan di tungkai bawah yang bisa memicu bengkak, nyeri, kram, perubahan warna kulit, varises, bahkan luka kaki serius.
Gerakan Kecil dan Berulang
Erik Peper dari San Francisco State University, peneliti terkemuka di bidang biofeedback dan kesehatan holistik serta penulis artikel riset tahun 2021 “Reactivate Your Second Heart”, menekankan pentingnya pergerakan sering untuk menjaga otot betis—dan tubuh secara keseluruhan—tetap sehat.
“Jika orang melakukan banyak gerakan sepanjang hari, meski sebentar-sebentar, itu lebih bermanfaat bagi kesehatan daripada pergi ke gym satu jam di akhir hari,” kata Peper.
“Kita sering berpikir harus berolahraga, tapi jauh lebih baik jika setiap setengah jam melakukan sedikit gerakan—berdiri. Saat manusia masih berburu dan meramu, kita tidak duduk seharian.”
Penelitiannya menyebut fenomena “penyakit duduk”—istilah informal untuk menggambarkan dampak buruk kesehatan akibat duduk terlalu lama atau perilaku sedentari.
Ia mengutip meta-analisis tahun 2019 terhadap lebih dari 440.000 kasus, yang menemukan bahwa risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes lebih ditentukan oleh lamanya waktu duduk tanpa bergerak, bukan sekadar banyaknya olahraga yang dilakukan.
Riset Peper berfokus pada bagaimana orang tetap sehat meski gaya hidup modern dan teknologi membuat manusia kurang aktif. Perilaku sedentari meningkat tajam sejak era lockdown COVID-19, ketika bekerja dari rumah, belanja online, dan pesan makanan jadi hal biasa.
Latihan dan Penyesuaian
Seperti Stiller, Peper menganjurkan bangun dan melakukan calf raises atau skipping di tempat untuk mengaktifkan aliran darah. Jika lebih nyaman duduk—misalnya malu melompat di depan rekan kerja—ia menyarankan putaran pergelangan kaki, gerakan menekuk, serta merentangkan tangan ke atas sambil mengaktifkan otot betis.
Pekerja kantoran sebaiknya membuat penyesuaian sederhana agar tetap bergerak, seperti rapat sambil berjalan atau menggunakan meja berdiri. Namun, menurutnya ergonomi saja tidak cukup—kursi yang nyaman justru bisa membuat orang duduk lebih lama. Ia menyarankan memasang aplikasi pengingat gratis di komputer untuk berdiri dan bergerak setiap 30 menit.
“Dengan cara kerja kita sekarang, terutama jika duduk di depan komputer seharian, tidak ada mekanisme yang membuat kita bangun, dan biasanya kita baru sadar sudah kelelahan saat terlambat. Jadi, Anda harus menjadwalkan gerakan—harus dibuat seperti ritual,” kata Peper.
Sumber : Theepochtimes.com


