EtIndonesia. Suatu hari, sekolah kami mengundang seorang profesor terkenal untuk memberikan ceramah.
Di hadapan kami, profesor itu meletakkan dua gelas air: satu berwarna kuning, satu lagi bening tanpa warna.
Dengan wajah penuh rahasia, dia berkata: “Nanti, kalian boleh memilih salah satu untuk diminum. Apa pun rasanya, jangan langsung berkomentar. Setelah percobaan selesai, saya akan menjelaskannya.”
Profesor kemudian menunjuk dua siswa pertama. Mereka sama-sama memilih gelas berwarna kuning. Siswa berikutnya juga memilih yang sama. Begitu seterusnya—dari lebih dari 200 siswa yang hadir, hanya sekitar sepertiga saja yang memilih gelas berwarna putih bening.
Setelah semua mencoba, profesor bertanya kepada mereka yang memilih gelas kuning: “Menurut kalian, ini air apa?”
Dua pertiga siswa menjulurkan lidah dan berkata: “Pahit sekali, ini air rebusan huanglian (sejenis tanaman obat pahit).”
Profesor pun tersenyum dan bertanya lagi: “Kalau begitu, mengapa kalian memilih meminumnya?”
Mereka menjawab serempak: “Karena kelihatannya seperti jus buah.”
Lalu profesor bertanya kepada siswa yang memilih gelas air bening.
Mereka dengan penuh semangat menjawab: “Rasanya manis, ini madu yang dicampur air.”
“Lalu, mengapa kalian memilih yang bening?” tanya profesor lagi.
Mereka tertawa sambil berkata: “Karena air yang diberi warna memang kelihatan menarik, tapi belum tentu bisa menghilangkan dahaga. Yang tampak sederhana justru lebih menenangkan.”
Profesor kembali tersenyum dan menyimpulkan: “Mayoritas dari kalian memilih air pahit hanya karena warnanya tampak seperti jus. Hanya segelintir yang merasakan manisnya madu, sebab mereka tidak terpengaruh oleh tampilan luar. Hidup juga demikian. Kita selalu dihadapkan pada pilihan: dua gelas air yang berbeda. Begitu memilih salah satunya, berarti kita meninggalkan yang lain. Kebanyakan orang tergoda oleh yang tampak mencolok, penuh warna, tapi akhirnya pahit. Hanya sedikit orang yang memilih kesederhanaan—yang mungkin tidak menarik—namun justru membawa kebahagiaan manis.”
Pesan yang bisa direnungkan: Jangan mudah tertipu oleh penampilan luar. Dalam hidup, hal-hal yang sederhana sering kali lebih bernilai dan lebih menyehatkan dibanding yang tampak mencolok tapi menipu.


