Sebesar apa pun keinginan Beijing, yuan tak bisa sekaligus digunakan untuk mendukung perekonomian, melindungi perdagangan dari tarif Amerika, dan melayani ambisi global Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Milton Ezrati
Sekarang, kebijakan moneter dan mata uang Tiongkok menghadapi tumpang tindih tujuan yang saling bertentangan. Bahkan, masih jauh dari kenyataan ke arah mana Beijing akan bergerak.
Di satu sisi, Tiongkok perlu menurunkan suku bunga demi membantu menghidupkan kembali perekonomian yang lesu. Beijing sudah lebih dari sekali menyinggung kebutuhannya. Penurunan suku bunga cenderung menekan nilai tukar yuan. Hasil tersebut mungkin disambut baik karena yuan yang melemah juga akan menurunkan harga barang buatan Tiongkok bagi konsumen Amerika Serikat, sehingga mengurangi dampak nyata dari tarif pemerintahan Trump terhadap ekspor Tiongkok.
Namun, di sisi lain dari persamaan yuan adalah keinginan agar menjaganya tetap kuat demi ambisi PKT memperluas pengaruh ekonomi, keuangan, dan diplomasi di panggung global. Beijing tampaknya belum menentukan pilihan mana yang akan diambil.
Polanya dalam beberapa tahun terakhir—terutama sejak Donald Trump terpilih sebagai presiden—menunjukkan pengaruh dari kedua sisi dilema ini. Yuan jatuh hampir 10 persen terhadap dolar AS sepanjang 2023 dan 2024, akibat masalah ekonomi yang membuat para investor memindahkan aset mereka ke luar negeri, serta ekspektasi luas bahwa The People’s Bank of China (PBOC) akan memangkas suku bunga untuk mendukung ekonomi sehingga mengurangi imbal hasil kepemilikan yuan.
Yuan sebetulnya bisa jatuh lebih dalam lagi, jika saja PBOC tidak menahan diri dalam pemangkasan suku bunga. Bank sentral memang memberi sinyal akan membantu perekonomian, namun pemangkasan suku bunga yang lambat dan kurang dari satu persen masih jauh dari cukup dibandingkan kebutuhan maupun retorika Beijing.
Para bankir tampaknya terombang-ambing antara kebutuhan nyata ekonomi akan suku bunga rendah dengan keinginan PKT mempertahankan kekuatan yuan, guna mendukung ambisi menjadikannya mata uang internasional—bahkan mungkin menggantikan dolar AS sebagai mata uang global utama. Dorongan inilah yang justru sempat memicu apresiasi yuan pada musim panas hingga awal musim gugur 2024.
Namun, setelah Trump kembali terpilih pada November 2024, ancaman tarif tinggi terhadap impor Tiongkok menjadi kenyataan, dan yuan pun kembali melemah. Pedagang valas global segera menjauhi yuan dengan ekspektasi tarif AS akan menekan ekspor Tiongkok.
Mereka juga mengingat respons pada masa tarif Trump 2018–2019. Saat itu, yuan jatuh begitu mendalam terhadap dolar sehingga menurunkan harga barang buatan Tiongkok di Amerika dan hampir sepenuhnya meniadakan dampak tarif. Akibatnya, volume ekspor Tiongkok nyaris tidak terganggu. Para pedagang tentu berharap pola itu terulang, terlebih kondisi ekonomi Tiongkok jauh lebih lemah pada 2025 dibanding 2018–2019. Mereka juga memperkirakan PBOC akan kembali menurunkan suku bunga demi ekonomi, yang akan semakin melemahkan yuan.
Ada perbedaan lain. Pada 2018–2019, Beijing belum gencar mempromosikan yuan sebagai mata uang internasional, seperti yang dilakukan sekarang. Baru-baru ini, meski yuan melemah, Beijing tetap mendorong kesepakatan internasional dengan denominasi yuan, baik dalam kerangka Inisiatif Belt and Road maupun proyek lain. Contoh paling baru adalah pinjaman sindikasi luar negeri senilai 14,2 miliar yuan (US$1,98 miliar) yang diatur Bank of China untuk perusahaan raksasa Australia, Fortescue, guna membeli teknologi energi bersih dan mesin lain dari Tiongkok.
Meski begitu, kesepakatan seperti ini belum menjadikan yuan mata uang internasional sejati. Itu baru bisa tercapai jika, seperti dolar AS saat ini, perdagangan dan pinjaman dilakukan dalam denominasi yuan meski tanpa melibatkan pihak Tiongkok.
Namun, kesepakatan ini tetap meningkatkan kebutuhan pemain internasional menyimpan cadangan yuan. Hal itu, meski di tengah tarif dan lemahnya ekonomi Tiongkok, telah meningkatkan permintaan terhadap yuan dan mendorong penguatannya terhadap dolar. Sejak musim semi lalu, yuan sudah merebut kembali sekitar sepertiga dari nilai yang hilang terhadap dolar AS sepanjang 2023–2024.
Ada pula faktor lain. Ekspektasi meningkat bahwa Federal Reserve AS (The Fed) akan segera menurunkan suku bunga, yang berarti imbal hasil kepemilikan dolar juga akan berkurang. Dengan PBOC masih lamban memangkas suku bunga, langkah The Fed itu akan sedikit mengurangi daya tarik dolar dibanding yuan.
Tentu saja, jika PBOC benar-benar memenuhi janji Beijing untuk melonggarkan kebijakan moneter demi mendongkrak ekonomi, pemangkasan suku bunga di AS takkan terlalu berpengaruh terhadap kurs. Namun, para pedagang jelas bertaruh PBOC akan terus menahan diri dari pemangkasan suku bunga besar-besaran, meski sebenarnya dibutuhkan.
Tumpang tindih motivasi inilah yang bisa menjelaskan pergerakan yuan terhadap dolar selama ini. Namun, itu tetap menyisakan dilema besar bagi PKT. Jika ingin menyelamatkan ekonomi Tiongkok sekaligus mengurangi dampak tarif Trump terhadap ekspor, maka Beijing harus menunda ambisi internasionalisasi yuan dan membiarkannya melemah terhadap dolar lewat pemangkasan suku bunga agresif.
Sebaliknya, jika PKT rela mengorbankan kesehatan ekonomi jangka pendek dan menanggung penuh beban tarif Trump, maka Beijing akan menahan pemangkasan suku bunga, mendorong lebih banyak transaksi dalam yuan, dan mengejar apresiasi mata uang.
Tidak ada jalan tengah, dan PKT tidak bisa mendapat keduanya sekaligus. Hingga kini, Beijing tampaknya masih belum membuat keputusan.
Pendapat dalam artikel ini sepenuhnya milik penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.
Milton Ezrati adalah editor kontributor di The National Interest, afiliasi dari Center for the Study of Human Capital di Universitas Buffalo (SUNY), serta kepala ekonom di Vested, sebuah firma komunikasi berbasis di New York. Sebelumnya, ia menjabat kepala strategi pasar dan ekonom di Lord, Abbett & Co. Ia juga kerap menulis untuk City Journal dan rutin mengisi blog di Forbes. Buku terbarunya berjudul Thirty Tomorrows: The Next Three Decades of Globalization, Demographics, and How We Will Live.


