Mulailah dari Titik Terendah

EtIndonesia. Suatu hari, seorang raja bersama para menterinya tersesat saat berburu di musim dingin. Mereka berjalan hingga ke daerah terpencil yang jarang ada penduduknya. Saat malam tiba, barulah mereka menemukan sebuah rumah petani sederhana.

Sang raja berkata:  “Kita menginap di sini saja malam ini.”

Namun salah seorang menteri menentang keras. Menurutnya, tidak pantas seorang raja yang begitu mulia harus menumpang di rumah seorang petani. Lebih baik mereka mendirikan tenda sendiri.

Mendengar itu, sang petani berkata dengan bijak: “Menginap di rumah petani tidak akan menurunkan martabat raja. Hanya saja, mungkin para menteri tidak rela kalau martabat seorang petani ikut terangkat.”

Raja merasa kata-kata itu masuk akal. Dia pun masuk ke rumah petani itu, bermalam dengan nyaman, dan keesokan harinya memberikan hadiah sebagai tanda terima kasih.

Sebelum berpisah, petani itu berjalan bersama raja dan dengan tulus berkata:  “Dengan menerima seorang petani, kemuliaan raja tidak berkurang sedikit pun. Tapi ketika raja menaungi kepala seorang petani, sayangnya, pinggiran topi petani itu sudah tak mampu lagi menyentuh sinar matahari.”

Raja terdiam. Dia sadar, kerendahan hati seorang pemimpin justru membuatnya lebih agung.

Beberapa waktu kemudian, seorang pemuda yang gelisah karena merasa hidupnya tak adil ikut naik perahu ayah temannya, Min, untuk melaut. Ayah Min, seorang nelayan tua berpengalaman lebih dari 20 tahun, tampak tenang menghadapi ombak. 

Pemuda itu pun kagum dan bertanya:  “Paman, biasanya Bapak mendapat berapa banyak ikan setiap hari?”

Sang nelayan tersenyum:  “Nak, jumlahnya tidaklah terlalu penting. Yang terpenting, jangan sampai pulang dengan tangan kosong. Dulu, waktu Min masih sekolah, aku harus berusaha lebih keras supaya dia bisa bersekolah. Sekarang Min sudah lulus dan punya pekerjaan tetap, aku tidak lagi berambisi menangkap terlalu banyak.”

Pemuda itu terdiam, lalu mencoba bertanya lagi:  “Laut itu sungguh besar. Dia memberi kehidupan bagi begitu banyak makhluk…”

Sang nelayan balik bertanya:  “Tapi, tahukah kamu mengapa laut bisa begitu besar?”

Pemuda itu tak berani langsung menjawab.

Nelayan itu lalu berkata dengan tenang:  “Karena laut berada di tempat yang paling rendah. Itulah sebabnya dia mampu menerima air dari ribuan sungai.”

Pesan yang bisa direnungkan:

Kerendahan hati justru melahirkan kebesaran. Sama seperti laut yang berada di titik terendah sehingga bisa menampung segalanya, begitu pula manusia. Dengan merendahkan hati, menapak bumi dengan kokoh, dan sabar meniti langkah dari bawah, barulah kita bisa mencapai puncak yang tinggi.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine