EtIndonesia. Francis Holler adalah seorang guru privat asing di Istana Kerajaan Saudi. Tugas utamanya adalah menemani tujuh putri kecil kerajaan membaca dongeng berbahasa Inggris. Penghasilannya luar biasa besar—bahkan 40 kali lipat lebih tinggi dibanding gaji Perdana Menteri Inggris saat itu, Tony Blair.
Namun, karier yang tampak begitu gemilang itu berakhir dengan pemecatan. Saat Francis kembali ke Universitas Cambridge untuk melanjutkan studinya, lebih dari dua ratus wartawan berkerumun di depan gerbang St. Catherine’s College, ingin mengetahui alasan di balik pemecatan itu. Karena terikat perjanjian kerahasiaan, dia menolak menjawab pertanyaan apa pun.
Publik pun sibuk berspekulasi.
· Sebuah surat kabar Prancis menulis bahwa Francis menjalin cinta dengan seorang pangeran, sehingga kisah “Cinderella di istana” pun terjadi.
· Media Jerman menuding dia adalah agen rahasia yang disuap oleh badan intelijen Amerika, dan saat mengirimkan informasi rahasia, identitasnya terbongkar.
· Sementara itu, sebuah koran Arab melaporkan bahwa kontraknya memang sudah habis, sehingga pemecatan hanyalah hal normal.
Dengan begitu banyak versi yang beredar, tidak ada seorang pun tahu pasti apa alasan sebenarnya.
Hingga akhirnya, pada Hari Natal tahun 2001, sebuah surel dari salah satu putri kerajaan membongkar kebenaran. Dalam email berisi ucapan “Selamat Natal” itu, sang putri mengenang masa-masa indah ketika bersama Francis membaca dongeng.
Dia menulis: “Kamu masih ingat, saat kita membaca dongeng karya Andersen, kami pernah bertanya padamu? Betapa bodohnya pertanyaan itu—tapi dari situlah awal mula perpisahan kita.”
Ternyata, pertanyaan itu berbunyi: “Siapakah istri yang paling bahagia di dunia?”
Francis balik bertanya: “Menurut kalian siapa?”
Dengan serempak, tujuh putri kecil itu menjawab: “Istri seorang petani!”
Francis pun tersenyum lalu melanjutkan: “Lalu, apakah istri seorang raja, seorang miliuner, seorang politisi, atau seorang penyair tidak bahagia?”
“Tidak bahagia!” jawab ketujuh putri serempak.
Ketika ditanya alasannya, mereka tak bisa menjawab. Mereka hanya tahu dari cerita dongeng, hampir tidak ada istri raja yang benar-benar bahagia, begitu pula dengan istri para kaya raya.
Francis pun menjelaskan dengan lembut: “Di dunia ini, hanya pria yang sungguh-sungguh bahagia, yang bisa membuat seorang wanita benar-benar bahagia.”
Siapa sangka, kalimat sederhana itu justru membuatnya dilaporkan. Keesokan harinya, Francis menerima pemberitahuan resmi bahwa kontraknya diputus.
Ironisnya, pada akhir tahun 2001, kalimat yang membuatnya kehilangan penghasilan senilai satu juta poundsterling justru dipilih oleh New York Times (rubrik keuangan) sebagai salah satu dari “Sepuluh Kutipan Terbaik Tahun Ini.”
Pesan yang bisa direnungkan:
Kadang, sebuah kebenaran yang diucapkan dengan tulus bisa membawa konsekuensi besar. Tetapi, kebenaran itu tetap memiliki nilai tak ternilai—bahkan seharga satu juta poundsterling.


