EtIndonesia. Hari itu, Mark mendampingi Wakil Kepala Biro Jin untuk melakukan inspeksi ke sebuah pabrik. Wakil kepala biro ini berlatar belakang militer, dan konon, direktur pabrik yang mereka kunjungi dulu pernah menjadi anak buahnya.
Biasanya, kunjungan kerja semacam ini diwarnai jamuan besar dengan minuman keras. Namun, karena baik sang wakil kepala biro maupun Mark sama sekali tidak bisa minum, ditambah hubungan pribadi yang dekat antara pejabat dan direktur, Mark yakin kali ini mereka akan terbebas dari jamuan berat.
Benar saja. Begitu mereka turun dari mobil, Wakil Kepala Biro Jin langsung berkata lugas kepada Direktur Li: “Xiao Li, siapkan makan siang sederhana saja di kantin pabrik.”
Direktur Li yang terkenal luwes segera menyahut: “Baik, kebetulan di Tianjin banyak makanan ringan yang enak.”
Namun sang pejabat buru-buru menambahkan: “Tidak perlu macam-macam. Cukup buatkan pancake ikan kecil seperti yang dulu sering kita makan di barak.”
Direktur Li agak terkejut: “Wah, itu kan makanan ala tentara di pegunungan dulu, Pak!”
“Justru itu, sederhana dan praktis. Lagi pula, ikan kecil di Tianjin kan banyak?”
“Ada, tentu ada. Saya akan suruh orang membelinya.” jawab Li, sambil mengeluarkan ponselnya.
Sementara Mark dan Wakil Kepala Biro Jin mengikuti rapat serta berkeliling pabrik, Mark beberapa kali melihat Li keluar masuk sambil menerima telepon. Dia bahkan sempat mendengar sepintas Li berkata dengan suara ditekan: “Apa? Tidak ada? Cepat pergi ke sisi barat sungai. … Apa? Hotel, pasar, supermarket sudah dicari semua? Kalau begitu segera ke tepi sungai, cari nelayan!”
Mark mulai resah. Setiap kali Li kembali, dia terlihat gelisah sambil melihat jam tangan.
Menjelang pukul dua belas siang, perut semua orang sudah keroncongan. Wakil kepala biro akhirnya juga melihat jam dan bertanya: “Xiao Li, pancake ikan kecil sudah siap?”
“Hampir, Pak. Sedang dimasak,” jawab Li sambil segera keluar lagi. Dia kembali sambil membawa pisang, mengupasnya untuk sang pejabat, lalu satu lagi untuk Mark.
Namun, Wakil Kepala Biro Jin mulai curiga: “Membuat pancake ikan kecil kok rumit sekali?”
“Sebenarnya tidak rumit, Pak. Hanya saja juru masak kantin kurang terbiasa, jadi hasilnya jelek,” Li berusaha menutupi.
“Kalau begitu, biar saya saja yang masak. Ayo, antar saya ke dapur.”
“Ah, mana bisa membiarkan Bapak repot begitu. Saya akan segera urus,” kata Li buru-buru sambil menahannya.
Akhirnya, hampir pukul satu siang barulah makan siang siap.
Di meja bundar besar kantin pabrik, tidak ada minuman keras, hanya beberapa masakan sederhana dan dua baskom besar pancake ikan kecil yang masih mengepul wangi daun bawang.
Semua orang yang sudah kelaparan pun makan lahap sambil memuji: “Enak sekali!”, “Luar biasa!”
Sang pejabat tersenyum puas: “Tidak kusangka, setelah lebih dari sepuluh tahun, rasa pancake ikan kecil masih sama seperti dulu.”
Direktur Li cepat menambahkan: “Pak, Anda memang teladan kami—hidup sederhana, bersih, penuh integritas!”
Para pimpinan pabrik pun serentak mengiyakan: “Betul! Gaya hidup yang sederhana inilah yang harus kami teladani.”
Di perjalanan pulang ke hotel, Wakil Kepala Biro Jin bergumam penuh emosi: “Xiao Li, kita ini anak petani. Bisa sampai ke posisi sekarang tidaklah mudah. Jadi jangan lupa asal-usul. Jamuan mewah hanya buang-buang uang. Orang zaman sekarang bukannya kurang gizi, yang kurang itu justru hati nurani.”
Direktur Li mengantarkannya masuk kamar, lalu menyelinap ke kamar Mark dan berbisik: “Wakil kepala biro itu terlalu kaku. Jujur saja, demi makan siang sederhana ini, delapan orang anak buah saya menghabiskan setengah hari, keliling seluruh kota mencari ikan kecil. Untung akhirnya di tepi sungai bisa membelinya dengan harga mahal dari tiga nelayan. Padahal, zaman sekarang apa sih yang sulit didapat? Cukup telepon, semuanya beres. Tapi ya begitulah…”
Mark terperangah, menarik napas panjang. Ternyata, pejabat yang paling khawatir mengganggu kerja di akar rumput justru—tanpa sadar—telah menimbulkan kerepotan besar.
Pesan yang bisa direnungkan:
Kadang niat sederhana bisa berubah jadi beban berat bagi orang lain, terutama jika kita terlalu kaku tanpa memahami situasi. Kesederhanaan sejati bukan pada jenis makanan yang diminta, melainkan pada sikap yang tidak menambah kesulitan bagi orang lain. (jhn/yn)


