EtIndonesia. Sejak lahir, aku buta. Aku tidak pernah melihat wajahku sendiri, dan hanya bisa membentuk bayangan tentang diriku lewat mata orang lain. Sayangnya, dalam pandangan banyak orang, sosokku tampak lebih “cacat” dari yang sebenarnya.
Ada orang yang mengira, karena aku buta, tentu pendengaranku juga terganggu. Mereka sering berbicara padaku dengan suara keras, mengucapkan setiap kata dengan lambat dan sangat jelas, seolah aku tidak bisa mendengar dengan normal. Bahkan ada pula yang berbisik-bisik di depanku, merasa yakin aku tak akan mendengarnya.
Misalnya, saat aku pergi ke bandara dan meminta agen tiket membantu proses naik pesawat, mereka sering menelpon petugas lalu berkata dengan suara pelan: “Halo, di sini ada seorang tua renta yang butuh bantuan.”
Mereka sengaja tidak menyebut kata “buta,” seolah-olah ingin menyembunyikan dariku sebuah kenyataan yang konon menakutkan.
Ada juga yang berpikir, orang buta memang bisa mendengar, tapi tidak bisa berbicara. Saat aku makan malam bersama istriku di restoran, pelayan sering bertanya langsung kepadanya: “Apakah dia mau minum sesuatu?”
Aku pun segera menyela dengan suara lantang: “Ya, dia memang ingin minum segelas.”
Namun, pengalaman paling konyol pernah kualami ketika belajar hukum di Universitas Oxford, Inggris. Suatu kali aku jatuh sakit dan harus menjalani rontgen di rumah sakit.
Aku duduk di kursi roda yang didorong seorang petugas perawat. Di depan ruang rontgen, seorang wanita tua—aku mengenalinya lewat suaranya—bertanya kepada perawat: “Siapa namanya?”
Perawat menoleh kepadaku: “Siapa namamu?”
“Harold Krents,” jawabku.
Perawat mengulang keras-keras: “Harold Krents.”
Wanita itu bertanya lagi: “Kapan dia lahir?”
“5 November 1944,” jawabku.
Dan lagi-lagi, perawat mengulang: “5 November 1944.”
Proses seperti itu berlangsung hampir lima menit, hingga kesabaranku habis.
Aku akhirnya berkata: “Hei! Ini sungguh konyol. Memang aku tidak bisa melihat, tapi apa kalian tidak sadar aku tidak membutuhkan penerjemah?”
Perawat dengan tenang menoleh ke wanita itu dan berkata: “Dia bilang dia tidak butuh penerjemah.”
Ironis, bukan?
Namun, yang paling menyakitkan adalah stigma bahwa karena aku buta, aku dianggap “tidak mampu bekerja.” Lebih dari 40 firma hukum menolak lamaran kerjaku, meski dalam riwayat hidupku tertera prestasi cemerlang, termasuk nilai cum laude dari Harvard.
Orang-orang tak pernah mau mempertimbangkan kemampuanku. Mereka hanya melihat satu hal: aku buta. Itulah kenyataan paling kejam yang harus kutelan.
Untunglah, pada 16 April 1976, Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat mengeluarkan undang-undang yang memberi penyandang disabilitas hak yang sama dalam pekerjaan. Sejak itu, masa depan kerja bagi kaum difabel mulai terbuka.
Aku berharap, di masa depan, para pemberi kerja bisa memandang penyandang disabilitas dengan kacamata yang lebih adil—seperti cara seorang anak kecil dulu memandangku.
Waktu itu, kami tinggal di Scarsdale. Aku sering bermain basket di halaman belakang bersama ayahku. Karena aku tak bisa melihat ring, kami membuat aturan sendiri: ayah berdiri di bawah ring, dan saat ia memanggil, aku melempar bola ke arah suaranya.
Suatu hari, seorang anak tetangga berusia 5 tahun datang bersama temannya.
Ia berbisik kepada kawannya: “Dia buta.”
Aku dan ayah mendengar jelas. Saat itu, ayah gagal memasukkan bola. Aku juga gagal. Giliran ayah lagi, dan ia bahkan melempar “airball” tanpa menyentuh apa pun. Ketika aku melempar, bolaku mengenai ring.
Teman anak itu pun bertanya polos: “Jadi, yang mana sebenarnya yang buta?”
Pesan yang bisa direnungkan:
Sering kali, kebutaan sejati bukan terletak pada mata, melainkan pada hati dan pikiran. Orang yang tidak bisa melihat potensi, kemampuan, dan nilai orang lain—itulah orang yang benar-benar buta.(jhn/yn)


