Aku Lebih Peduli daripada Orang Lain

EtIndonesia. Usianya baru 15 tahun ketika dia mengikuti pertandingan tenis meja tingkat kota. Gedung olahraga yang tak terlalu besar itu penuh sesak oleh penonton. Namun, hari itu dia bermain buruk. Banyak bola yang seharusnya bisa dia kuasai, justru gagal dia kembalikan.

Pertandingan usai. Penonton bubar, rekan-rekannya pun meninggalkan arena. Hanya dia yang masih duduk termenung di bangku, diliputi rasa kecewa. Keraguan menyelinap: Mungkinkah aku memang tidak punya bakat bermain? Mungkinkah aku salah jalan?

Dia tidak tahu berapa lama sudah duduk di sana. Hingga rasa lapar mulai muncul, dia pun berkemas untuk pulang. Saat itulah dia menoleh—dan terkejut melihat seseorang masih duduk diam di bangku penonton. Ketika pandangan mereka bertemu, yang dia lihat adalah senyuman lembut. Itu  adalah ibunya.

Tanpa pikir panjang, dia melempar semua barang dan berlari naik ke tribun. Dia langsung memeluk ibunya erat-erat, lalu menangis keras. 

Sambil terisak, dia menyalahkan ibunya:  “Kenapa Ibu ada di sini tapi diam saja? Kenapa tidak menolongku?”

Ibunya mengusap kepalanya dengan penuh kasih, sambil tersenyum berkata: “Anakku, jalan paling sulit dalam hidup ini harus kamu lalui sendiri. Ibu tidak bisa menggantikanmu.”

Dia masih tak puas, bertanya: “Kalau begitu, kenapa Ibu tidak ikut pulang dengan yang lain? Kenapa tetap menunggu di sini?”

Ibunya menjawab lembut:  “Karena, Nak, apa pun yang terjadi, seberat apa pun jalanmu, Ibu akan selalu berdiri di belakangmu. Selamanya memperhatikanmu…”

Kemenangan yang Sebenarnya

Setahun kemudian, di gedung olahraga yang sama, dalam pertandingan yang sama, dia berhasil mengalahkan lawannya—dan juga mengalahkan dirinya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, dia meraih berbagai gelar juara tenis meja di berbagai tingkat.

Dalam sebuah wawancara, seorang wartawan bertanya tentang rahasia kesuksesannya. 

Dia menjawab:  “Saya bisa sampai sejauh ini karena ibu saya selalu ada di belakang saya. Tidak peduli menang atau kalah, beliau terus memperhatikan dengan tatapan penuh kasih, penuh dorongan, kepercayaan, pengakuan, dan harapan…”

Wartawan itu masih penasaran:  “Bukankah setiap anak di dunia juga mendapat perhatian ibu? Bahkan yang jauh di negeri lain pun tetap dipikirkan ibunya. Tapi kenapa tidak semua bisa sukses seperti Anda?”

Jawabannya sederhana:  “Itu karena saya lebih peduli pada ibu saya dibanding orang lain.”

Pesan Kehidupan

Benar sekali. Hanya ketika seseorang benar-benar menghargai dan peduli pada cinta yang diberikan kepadanya, cinta itu akan melahirkan kekuatan tak terbatas—yang menuntun kita menciptakan satu demi satu keajaiban dalam hidup. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine