Doha Jadi Panggung Panas! Pakistan Usul ‘NATO Arab’, Israel Tuding Beijing dan Qatar Dalangnya

EtIndonesia— Suasana politik Timur Tengah kembali memanas setelah Pakistan melontarkan usulan mengejutkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Darurat Arab-Islam yang digelar di Doha, Qatar, pada 14 September 2025. Islamabad mengajukan proposal pembentukan aliansi militer baru yang disebut-sebut meniru model NATO, dengan tujuan menghadapi ancaman Israel.

Rencana Pasukan Gabungan

Dalam paparannya, delegasi Pakistan mengusulkan agar aliansi ini memiliki markas besar di Kairo dan sistem komando rotasi, yang pada tahap awal akan dipimpin oleh seorang jenderal Mesir.

Mesir, sebagai negara kunci dalam blok Arab, segera menegaskan komitmennya. Kairo bersedia menyediakan pasukan darat, laut, udara, serta pasukan khusus untuk memperkuat kerangka awal aliansi tersebut. Jika terealisasi, kekuatan militer gabungan ini akan menjadi tonggak baru dalam koordinasi pertahanan dunia Islam.

Namun, sejarah mencatat upaya serupa sebelumnya—pada 2015 dan 2017—gagal terwujud akibat perbedaan kepentingan politik antarnegara anggota, khususnya terkait siapa yang harus memimpin dan bagaimana pembagian tanggung jawab militer dilakukan.

Dugaan Keterlibatan Tiongkok

Sejumlah pengamat internasional menilai bahwa Tiongkok berada di balik layar usulan ini. Beijing memiliki kedekatan strategis dengan Pakistan, sekaligus menjadi pemasok utama persenjataan bagi Islamabad dan sejumlah negara Arab.

Langkah Pakistan ini dianggap sejalan dengan ambisi Beijing memperluas pengaruhnya di kawasan Timur Tengah, baik secara diplomatik maupun militer, sekaligus menantang dominasi tradisional Amerika Serikat di wilayah tersebut.

Reaksi Keras Israel

Israel merespons usulan ini dengan sikap konfrontatif. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada 15 September 2025 secara terbuka menuduh Tiongkok dan Qatar sebagai dalang di balik gagasan “NATO Arab” tersebut. Menurut Netanyahu, langkah itu merupakan upaya sistematis untuk “mengepung Israel” secara diplomatik maupun militer.

“Israel tidak akan tunduk pada tekanan internasional dan siap menghadapi setiap ancaman, baik dari aliansi negara maupun kekuatan besar di belakangnya,” tegas Netanyahu dalam konferensi pers di Yerusalem.

Analisis dan Implikasi

Analis menilai, meski proposal ini terkesan ambisius, tantangan internal antarnegara Arab masih menjadi hambatan utama. Rivalitas regional, perbedaan aliansi geopolitik, dan dinamika hubungan dengan Barat bisa kembali menggagalkan inisiatif ini seperti yang pernah terjadi di masa lalu.

Namun, jika benar terealisasi, “NATO Arab” berpotensi mengubah peta keamanan Timur Tengah, meningkatkan isolasi Israel, dan memberi ruang lebih besar bagi Beijing untuk memperkuat posisinya di kawasan strategis yang menjadi jalur energi global. (***)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine