EtIndonesia. Pasar properti Shanghai yang dulu bergairah kini menghadapi kemerosotan tajam. Harga hunian mewah hingga rumah di pinggiran kota anjlok drastis, membuat para pemilik rumah terjebak cicilan besar dan penyesalan yang menumpuk.
Dikutip dari visiontimes, (15/9/2025), kisah para warga dan blogger menggambarkan beratnya tekanan finansial serta runtuhnya kepercayaan terhadap salah satu sektor real estat utama di Tiongkok.
Pemilik rumah terlilit utang
Bagi banyak orang, impian memiliki apartemen di Shanghai berubah menjadi mimpi buruk.
“Penyesalan terbesar dalam hidup saya adalah membeli apartemen ini di awal pandemi. Saat itu saya keluarkan lebih dari 1 juta yuan (sekitar Rp2,2 miliar),” kata seorang pemilik rumah.
“Sekarang, bahkan dengan harga 500 ribu yuan (Rp1,1 miliar) pun tidak ada yang mau. Padahal saya masih menanggung cicilan 600 ribu yuan (Rp1,32 miliar), membayar 5.000 yuan (Rp11 juta) per bulan selama 14 tahun ke depan. Membeli rumah ini adalah kesalahan terbesar dalam hidup saya.”
Cerita serupa datang dari pemilik lain yang rumahnya sudah disita. “Tidak ada jalan kembali. Rumah saya sudah disegel. Saya tidak punya tempat tinggal lagi,” ujarnya.
“Saya sudah gagal bayar cicilan lebih dari setahun. Bukan hanya uang muka dan cicilan bertahun-tahun yang hilang, saya juga masih berutang lebih dari 200 ribu yuan (Rp440 juta) ke bank.”
Pasar membeku
Bahkan di acara penandatanganan jual beli rumah, emosi memuncak. Dalam satu kejadian, seorang pembeli membatalkan transaksi di menit terakhir, sambil berkata kepada penjual: “Nona, kondisi pasar memang seperti ini sekarang. Anda bilang akhirnya bisa menjual rumah, tapi dalam situasi begini, saya benar-benar tidak bisa tanda tangan.”
Pemburu rumah murah pun ragu, sementara penjual terpaksa terus menurunkan harga. Di beberapa distrik pinggiran, unit yang dulu bernilai lebih dari 2 juta yuan (Rp4,4 miliar) kini tak laku meski dipatok kurang dari separuh harga.
Seorang blogger yang membeli rumah pada puncak harga tahun 2021 menulis di media sosial:
“Saya beli seharga 1,74 juta yuan (Rp3,8 miliar). Setelah cek catatan cicilan, saya masih berutang 1,01 juta yuan (Rp2,2 miliar) ke bank. Artinya, dalam tiga tahun terakhir saya baru melunasi 30 ribu yuan (Rp66 juta) pokok. Kalau dijual sekarang, saya masih harus nombok 70–80 ribu yuan (Rp154–176 juta) ke bank. Sungguh menyakitkan.”
Harga rumah mewah ikut anjlok
Properti kelas atas yang dulu jadi simbol kemewahan juga tak luput dari kejatuhan. Sebuah rumah bergaya Barat di kawasan Bund — yang pernah tampil dalam drama populer — dilelang dengan harga awal 96,66 juta yuan (Rp212,6 miliar), turun lebih dari 53 juta yuan (Rp116,6 miliar) dari harga semula. Meski begitu, tak ada pembeli yang berminat.
Blogger keuangan “Tang Ping Shu” mencatat: “Pasar rumah mewah bekas di Shanghai benar-benar beku. Diskon 40 persen pun tak ada yang mau. Harga terus jatuh, dan akhirnya kerugian ditanggung penuh oleh pemilik.”
Proyek mewah di kawasan elit seperti Nanjing West Road dan Huangpu Bay juga mengalami penurunan harga hingga 50 persen. Bahkan rumah milik selebritas, termasuk dupleks milik Wang Sicong di CapitaMall Maoming Mansion, gagal menarik tawaran serius meski sudah beberapa kali dipangkas harganya.
Tekanan ekonomi menjerat keluarga
Di balik angka-angka itu ada keluarga biasa yang menghadapi tekanan besar. Seorang warga lama Shanghai menceritakan alasannya membeli rumah pada puncak harga tahun 2023.
“Bagi pendatang seperti kami, beli rumah berarti menguras enam dompet sekaligus,” katanya. “Kami beli rumah ini saat harga sedang di atas. Saya tidak tahu sampai kapan bisa bertahan. Rasanya seperti berjalan di atas kulit semangka, tinggal tunggu jatuhnya.”
Seorang pembeli muda menggambarkan realitas pahit yang dialami banyak orang:
“Saya gaji 6.000 yuan (Rp13,2 juta) per bulan, tapi cicilan rumah 8.000 yuan (Rp17,6 juta). Setiap pagi saat membuka mata, saya ingat bahwa saya berutang 266 yuan (Rp585 ribu) ke bank untuk hari itu. Begitulah utang saya bertambah setiap hari.”
Lesunya geliat pengembang besar
Para ahli menegaskan krisis ini bukan sekadar kasus perorangan. Bahkan pengembang besar yang didukung negara pun mengalami penurunan tajam. Poly Group, salah satu raksasa properti milik pemerintah pusat, melaporkan penurunan 25 persen luas penjualan rumah secara tahunan pada Agustus, dengan nilai kontrak turun hampir 19 persen.
Analis keuangan memperingatkan, bila perusahaan besar saja kesulitan menarik pembeli, maka nasib pengembang kecil akan jauh lebih berat.
“Pasar properti telah masuk ke fase pembekuan mendalam. Semua orang sudah tahu kondisi sebenarnya,” ujar seorang komentator.


