EtIndonesia. Seorang wanita telah lama berjuang bersama suaminya melewati pahit getir kehidupan. Namun, ketika akhirnya mereka hidup berkecukupan, sang suami justru memilih untuk mengkhianatinya. Dia mengajukan perceraian dan bahkan bersikeras ingin mendapatkan hak asuh anak mereka.
Wanita itu hancur, tetapi dia memutuskan untuk memperjuangkan anaknya di pengadilan. Dia membuat keputusan besar: selama anak diberikan kepadanya, dia rela melepaskan segalanya.
Pertarungan di Pengadilan
Hari sidang pun tiba.
· Suami beralasan bahwa sang istri memiliki kesehatan yang buruk sehingga tidak layak membesarkan anak. Dia menunjukkan catatan medis lama sebagai bukti.
· Namun, wanita itu langsung mengajukan hasil pemeriksaan kesehatan terbaru dari rumah sakit ternama, yang menyatakan dirinya sehat. Klaim sang suami pun terpatahkan.
Tak berhenti di situ, sang suami menuduh istrinya memiliki banyak utang sehingga tidak mampu menafkahi anak. Lagi-lagi wanita itu menangkisnya dengan bukti berupa hasil investigasi yang menunjukkan sang suami sengaja mengalihkan harta dan melimpahkan utang kepadanya.
Sidang penuh dengan adu argumen yang sengit. Setiap serangan suami selalu berhasil dia patahkan.
Tuduhan Terakhir
Ketika mulai terdesak, sang suami mengeluarkan tuduhan yang paling kejam: “Istri saya sering memukul dan memarahi anak. Anak kami terluka secara batin dan tidak mau tinggal bersamanya. Ia hanya ingin hidup dengan saya.”
Hakim kemudian memutuskan memanggil anak mereka yang masih kecil untuk bersaksi. Saat petugas hendak membawa sang anak ke ruang sidang, wajah wanita itu seketika berubah: merah, lalu pucat, dan akhirnya biru keunguan.
Tiba-tiba, ia berdiri dengan gemetar dan berkata lantang: “Yang Mulia, saya… mencabut gugatan saya!”
Tangis pecah di wajahnya. Dia menutupi muka dengan kedua tangan, lalu berlari keluar dari ruang sidang.
Jawaban Seorang Ibu
Beberapa hari kemudian, seorang teman bertanya padanya: “Apakah benar kamu pernah menyiksa anakmu?”
Wanita itu menggeleng lemah, dan berkata: “Aku mencintai anakku. Mana mungkin aku tega menyakitinya…”
Temannya semakin bingung: “Kalau begitu, mengapa kamu menyerah begitu saja?”
Dengan mata berlinang, wanita itu berbisik: “Anakku penakut. Kalau dia dipaksa bersaksi di pengadilan, hatinya pasti hancur. Aku tidak sanggup melihatnya terluka begitu…”
Air mata menjadi bahasa terakhirnya. Semua alasan dan tuduhan di pengadilan mendadak tampak begitu rapuh dan tidak berarti dibandingkan cinta seorang ibu yang rela mengorbankan segalanya demi melindungi hati anaknya. (jhn/yn)


