EtIndonesia. Di pinggir jalan, seorang nenek tua duduk sambil menatap sebuah tembok tinggi yang tak jauh darinya. Entah mengapa, dia merasa tembok itu sudah rapuh dan sebentar lagi akan roboh.
Setiap kali ada orang yang lewat dan berjalan dekat dengan tembok itu, dia dengan penuh kebaikan hati akan berseru: “Hati-hati! Tembok itu akan runtuh, jangan terlalu dekat!”
Namun, orang yang mendengarnya justru menoleh dengan heran, lalu melangkah lewat tepat di bawah tembok dengan santainya. Tentu saja, tembok itu tidak runtuh.
Melihat itu, nenek merasa jengkel.
“Kenapa orang-orang tidak mendengarkan aku?” pikirnya.
Keesokan harinya, ada orang lain yang lewat. Dia kembali memberikan peringatan yang sama. Orang itu pun tetap melangkah tanpa peduli. Tembok itu lagi-lagi tidak runtuh.
Tiga hari berturut-turut, banyak orang berjalan di sisi tembok. Tidak seorang pun celaka.
Ketika Nasihat Hanya untuk Orang Lain
Memasuki hari keempat, nenek mulai merasa aneh. Dia pun kecewa, sebab seolah-olah firasatnya keliru. Tanpa sadar, dia sendiri berjalan mendekati tembok itu, ingin memastikan apakah memang ada tanda-tanda keruntuhan.
Tepat pada saat dia menengadah untuk melihat lebih jelas, tembok tua itu benar-benar runtuh. Batu bata dan debu menimpanya hingga dia tewas di tempat.
Refleksi Kehidupan
Peristiwa tragis itu memberi pelajaran berharga. Mengingatkan orang lain memang mudah. Kita bisa dengan lantang menasihati, menyoroti kelemahan, atau mengingatkan bahaya. Tapi, apakah kita juga punya kewaspadaan yang sama untuk diri sendiri?
Nenek itu rajin memperingatkan orang lain, tetapi dia lupa bahwa dirinya pun harus menjaga jarak dari tembok rapuh itu. Pada akhirnya, justru dia sendiri yang menjadi korban.
Begitu pula dalam hidup kita.
· Kita sering pandai menilai dan memberi saran pada orang lain.
· Kita mudah melihat kesalahan, bahaya, dan kelemahan orang lain.
· Namun, sering kali kita lupa bercermin dan memberi peringatan yang sama pada diri sendiri.
Pesan Kehidupan
Banyak bahaya dalam hidup bukan datang dari luar, melainkan dari diri kita sendiri—dari kelengahan, kesombongan, atau keyakinan berlebihan bahwa kita aman.
Mengingatkan orang lain itu baik, tetapi mengingatkan diri sendiri jauh lebih penting. Karena musibah terbesar sering lahir dari ketidakwaspadaan diri kita sendiri.(jhn/yn)


