Sang “Master Bodoh”

EtIndonesia. Di sebuah kota, hiduplah seorang pria yang selalu merasa sedih karena orang-orang menganggapnya bodoh. Dia ingin sekali diakui sebagai orang pintar.

Suatu hari, seorang bijak yang terkenal suka menolong orang keluar dari persoalan hidup datang ke kota itu. 

Si “bodoh” pun segera menemui sang bijak dan berkata:  “Tuan, saya tidak suka dianggap bodoh. Apa ada cara supaya orang lain menganggap saya pintar?”

Sang bijak tersenyum dan menjawab: “Itu sangat mudah. Mulai sekarang, apa pun yang orang katakan, segera beri sangkalan yang paling keras dan paling tidak masuk akal. Terutama, tentang segala hal yang indah atau baik. Lakukan itu selama tujuh hari. Percayalah, setelah itu semua orang akan mengira kamu pintar.”

“Semudah itu? Tapi bagaimana caranya?” tanya si bodoh.

“Misalnya,” jelas sang bijak:

·        “Jika seseorang berkata: ‘Malam ini bulan sangat indah,’ kamu segera bantah, sampai orang itu percaya bahwa bulan sama sekali tak ada gunanya bagi hidup.”

·        “Jika seseorang berkata: ‘Hal terpenting dalam hidup adalah cinta,’ kamu kritik habis-habisan, sampai mereka yakin bahwa cinta tidak ada nilainya.”

·        “Jika seseorang berkata: ‘Buku ini sangat bagus,’ kamu langsung menentang, sampai mereka percaya bahwa hidup ini sebenarnya tak perlu buku.”

“Apakah kamu paham?”

Si bodoh mengangguk cepat.

 “Paham! Tapi… hanya dengan begitu orang akan percaya saya pintar?”

Sang bijak menjawab tegas:  “Percayalah. Aku akan tinggal di kota ini selama tujuh hari. Setelah itu, datanglah padaku. Aku jamin, meskipun sesungguhnya kamu tetap bodoh, orang-orang akan menganggapmu pintar.”

Dari Bodoh Menjadi “Guru”

Sejak saat itu, si bodoh mempraktikkan nasihat sang bijak. Apa pun yang dia dengar, dia selalu segera melompat untuk menyangkalnya. Dia mengeluarkan segala kata-kata nyeleneh, penuh logika yang dipelintir, sampai orang-orang di sekitarnya terpengaruh dan ragu pada keyakinan mereka sendiri.

Hari berganti hari. Semakin sering dia bicara, semakin banyak orang yang mulai menganggapnya “tajam” dalam berpikir, meski sebenarnya hanya karena dia selalu melawan arus.

Tepat tujuh hari kemudian, dia kembali menemui sang bijak. Betapa terkejutnya sang bijak melihat pemandangan itu—di belakang si bodoh, ada lebih dari seribu orang yang mengikutinya dengan penuh hormat.

 Mereka memanggilnya: “Guru… Guru… Master!”

Pesan Kehidupan

Kadang, di dunia nyata, mereka yang paling banyak mencela dan mengkritik justru dipandang “cerdas” atau “hebat.” Padahal, kepandaian sejati bukanlah sekadar kemampuan menjatuhkan sesuatu dengan kata-kata, melainkan membangun, memahami, dan memberi makna.

Kebodohan yang dibungkus dengan kritik bisa tampak seperti kecerdasan. Tapi, apakah itu benar-benar membuat seseorang menjadi bijak?(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine