EtIndonesia. Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, hiduplah sepasang kekasih yang saling mencintai dengan sepenuh hati.
Setiap pagi mereka berjalan ke tepi pantai menunggu matahari terbit, setiap senja mereka mengantar mentari pulang. Siapa pun yang melihat mereka pasti menaruh rasa iri akan kebahagiaan itu.
Namun, suatu hari kecelakaan mobil merenggut kebahagiaan itu. Sang gadis terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Siang malam, sang pemuda selalu menjaganya. Siang dia memanggil-manggil tanpa jawaban, malam dia berdoa di gereja dengan air mata yang sudah kering.
Sebulan berlalu. Gadis itu tetap tertidur, sementara pemuda itu sudah kurus dan letih. Namun dia tidak menyerah. Hingga akhirnya, doa dan cintanya mengetuk hati Tuhan.
Pertukaran Takdir
Tuhan berkata kepadanya: “Apakah kamu rela menukar hidupmu demi kekasihmu?”
Tanpa ragu dia menjawab: “Aku rela.”
Tuhan berkata lagi: “Kalau begitu, dia akan segera sadar. Tapi sebagai gantinya, kamu akan menjelma menjadi seekor capung selama tiga tahun. Kamu rela?”
Pemuda itu kembali menjawab tegas: “Aku rela.”
Keesokan paginya, dia benar-benar menjelma menjadi seekor capung. Dia segera terbang menuju rumah sakit. Dan ajaib, sang gadis benar-benar terbangun. Dia tersenyum, berbincang dengan seorang dokter muda di sisinya. Sayangnya, sang capung tak bisa mendengar kata-katanya, tak bisa memeluknya.
Kehadiran yang Tak Terlihat
Gadis itu akhirnya pulang, namun dia tidak bahagia. Dia mencari-cari kekasihnya yang lenyap tanpa jejak.
Sementara itu, capung kecil itu terus mengikuti dari dekat: hinggap di bahunya, berputar di sekelilingnya, meski dia sama sekali tak menyadarinya.
Musim panas berganti gugur, daun berguguran. Capung itu harus pergi meninggalkan kota. Sebelum pergi, dia hinggap di bahu gadisnya sekali lagi. Dia ingin menyentuh wajahnya dengan sayap, mencium keningnya dengan mulut mungilnya. Tetapi tubuh rapuh seekor capung terlalu kecil untuk bisa dirasakan.
Cinta yang Tak Lagi Sama
Tahun berikutnya, di musim semi, capung itu kembali. Namun kali ini, di sisi gadisnya berdiri seorang laki-laki tampan—dokter muda itu. Orang-orang memuji betapa pantas mereka berdua. Hati capung itu hampir runtuh.
Dia hanya bisa menyaksikan dari jauh: pasangan itu tertawa, berjalan di pantai, menatap matahari terbit bersama-sama. Semua kebiasaan yang dulu dia lakukan bersama gadisnya, kini telah digantikan orang lain.
Musim demi musim berlalu. Gadis itu semakin jauh darinya. Tangannya kini digenggam laki- laki lain, wajahnya dicium bibir lelaki itu. Tidak ada ruang tersisa untuk seekor capung yang terluka.
Hari Terakhir
Tiga tahun pun berlalu. Pada hari terakhir janjinya, gadis itu menikah dengan dokter muda itu. Capung itu terbang masuk ke gereja, hinggap di bahu Tuhan, menyaksikan segalanya: sumpah pernikahan, cincin disematkan, ciuman pengikat janji.
Tuhan bertanya dengan lembut: “Apakah kamu menyesal?”
Capung itu mengusap air matanya dan berkata: “Tidak.”
Tuhan berkata lagi: “Besok kamu boleh kembali menjadi manusia.”
Namun capung itu menggeleng: “Biarkan aku tetap jadi capung selamanya…”
Renungan
Ada cinta yang memang tak ditakdirkan untuk dimiliki. Ada cinta yang meskipun tak berakhir bahagia, tetap abadi di dalam hati.
Mencintai seseorang tidak selalu berarti memiliki. Namun bila kamu sungguh memiliki seseorang, jangan pernah lupa untuk menjaganya sepenuh hati.
Jadi… apakah di bahumu ada seekor capung—yang diam-diam menjaga, mencintai, tapi tak pernah kau sadari? (jhn/yn)


