EtIndonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat pernikahan dan angka kelahiran di Tiongkok terus menurun, menyebabkan jumlah bayi baru lahir anjlok drastis. Akibatnya, banyak taman kanak-kanak tidak mendapat murid baru dan muncul gelombang penutupan massal. Dari 2024 hingga 2025, lebih dari 50.000 TK ditutup, dan jutaan guru Taman Kanak-kanak kehilangan pekerjaan.
Seorang kepala TK yang sudah tutup mengungkapkan, meski kebijakan tiga anak telah lama diberlakukan, karena ekonomi yang terus memburuk, meningkatnya pengangguran, serta pemotongan gaji dan PHK yang meluas, banyak orang tidak mampu menikah apalagi memiliki anak. Hal ini membuat jumlah kelahiran merosot tajam, dan TK di seluruh negeri sepi murid hingga terpaksa gulung tikar.
“Sekarang banyak TK tutup. Jumlah anak sangat sedikit, TK negeri saja tidak bisa mendapatkan murid. Banyak anak muda tidak menikah dan tidak punya anak, tak ada jalan lain. Sewa gedung juga naik banyak, jadi akhirnya kami memutuskan berhenti. Apalagi tahun ini persaingan gila-gilaan, uang susah dicari, semua orang berat hidupnya,” ujar mantan kepala TK di Gansu, Nyonya Wang.
Banyak TK yang sudah bertahan 10–20 tahun, bahkan berhasil melewati tiga tahun lockdown pandemi, kini tetap harus menutup usaha karena tidak dapat murid baru.
Mantan kepala TK di Shanghai, Nyonya Zhang, mengatakan TK yang ia dirikan rugi hingga beberapa juta yuan dalam beberapa tahun terakhir. Karena tak sanggup lagi menanggung kerugian, ia terpaksa keluar dari industri ini dengan penuh penyesalan.
“Begitu buka mata setiap hari, yang ada hanya pengeluaran—gaji pegawai, sewa, biaya pengelolaan properti. Biaya harian sekitar 4.000–5.000 yuan. Rambut saya rontok segenggam tiap kali keramas. Malam-malam susah tidur karena pusing… akhirnya habis-habisan, September lalu saya alihkan TK itu,” katanya.
Data publik menunjukkan, dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kelahiran di Tiongkok turun tajam. Pada 2024, jumlah TK di seluruh negeri tinggal 253.300, berkurang 21.100 dibanding tahun sebelumnya. Pada 2025, Kementerian Pendidikan memperkirakan 30.000 TK akan tutup lagi, dengan 570.000 guru tanpa sertifikat menghadapi ancaman pengangguran.
Mantan guru PAUD di Mongolia Dalam, Nyonya Liu: “Profesi guru PAUD sudah tak punya masa depan. Kalau punya sertifikat pun, gajinya kecil dan tetap. Di swasta cuma 3.600–3.700 yuan, di TK negeri hanya 1.600 yuan. Uang segitu bahkan tak cukup untuk biaya berobat. Anak-anak semakin sedikit, guru PAUD mayoritas kontrak, dan sekarang pun hampir tak ada lowongan lagi.”
Seorang mantan guru TK lain, Nyonya Yang, mengaku ia baru saja resign karena pekerjaan terlalu berat sementara gaji rendah. Selain mengajar, ia harus lembur menulis laporan, menyiapkan kegiatan, melakukan kunjungan rumah, dan masih harus membalas pesan orang tua murid setelah jam kerja. Karena juga harus mengurus anaknya yang baru masuk SD, ia memilih berhenti.
Mantan guru PAUD di Jiangxi, Nyonya Yang: “TK makin hari makin kompetitif, tahun ini banyak sekali yang tutup. Sulit untuk alih profesi, jadi saya bilang jangan pernah belajar jadi guru PAUD. Kenapa kami memilih resign? Karena di TK tidak ada waktu bebas. Pagi jam 7.30 atau 7.50 sudah harus ada di sekolah, sepanjang hari sibuk sekali, sangat melelahkan. Dengan kerja seberat itu, gaji cuma 2.000–3.000 yuan.”
Sumber : NTDTV.com


