Ibu yang Dicap “Gila”

EtIndonesia. 23 tahun yang lalu, seorang wanita muda yang terlunta-lunta datang ke desa kami. Rambutnya kusut, wajahnya kotor, dan dia selalu menyeringai bodoh kepada siapa pun yang ditemuinya. Bahkan, dia tidak malu untuk buang air kecil di depan umum.

Para wanita di desa sering menghina dia—ada yang meludahinya, ada pula yang menendangnya sambil berteriak: “Pergi jauh sana!” Namun dia tidak pernah benar-benar pergi, hanya terus berkeliling di desa dengan senyumannya yang kosong.

Pernikahan yang Dipaksakan

Saat itu, ayah saya berusia 35 tahun. Dia pernah bekerja di tambang batu, namun kehilangan tangan kirinya karena mesin. Karena miskin, dia belum pernah menikah.

Nenek, melihat perempuan gila itu meski lusuh tapi masih memiliki rupa, timbul niat: dia ingin menjadikannya menantu, agar bisa melahirkan cucu laki-laki untuk “meneruskan keturunan.” Setelah itu, katanya, baru wanita itu diusir.

Ayah jelas tidak rela, tapi melihat kondisi keluarga yang miskin, dia hanya bisa menggertakkan gigi dan setuju. Begitulah, tanpa mengeluarkan sepeser pun, ayah saya menjadi pengantin pria.

Lahirnya Saya

Ketika saya lahir, nenek menggendong saya dengan senyum sumringah meski giginya sudah tinggal beberapa. Dia berkata penuh kegembiraan: “Wanita gila ini ternyata memberiku cucu laki-laki.”

Namun sejak detik pertama, nenek tak pernah membiarkan ibu menyentuh saya.

Ibu, meski dengan pikiran tidak stabil, selalu berusaha meminta: “Beri… beri aku… (menggendong).” 

Tapi nenek menolak mentah-mentah.

“Jangan harap bisa menggendong anak ini. Kalau ketahuan kau mencurinya, kupukul mati! Kalau tidak, kuusir dari rumah!”

Ibu paham ancaman itu, wajahnya penuh ketakutan. Akhirnya dia hanya bisa memandang saya dari jauh. Meski dadanya penuh ASI, saya tidak pernah menyusu padanya. Setiap hari, nenek menyuapi saya dengan sendok kecil.

Nenek bahkan berkata: “Air susunya penuh penyakit gila. Kalau ketularan, bagaimana nanti?”

Hidup Makin Sulit

Rumah kami semakin miskin setelah ada saya dan ibu. Nenek merasa ibu hanya “makan gratis” dan sesekali menimbulkan masalah.

Suatu hari, nenek memasak nasi banyak, lalu memberinya semangkuk penuh:

“Menantu, rumah ini terlalu miskin. Maafkan aku. Setelah habis semangkuk ini, pergilah cari keluarga kaya untuk hidup. Jangan kembali lagi, ya?”

Ibu terkejut, nasi di mulutnya mendadak terhenti. Dia menoleh pada saya yang berada di pelukan nenek, lalu dengan suara terbata-bata berkata: “Tidak… jangan…”

Nenek langsung berubah wajah: “Kamu ini keras kepala! Dari awal kamu cuma pengembara, aku sudah menampungmu dua tahun. Sekarang pergilah. Kalau membangkang, tak ada baiknya untukmu!”

Nenek menggebrak tanah dengan cangkul, suaranya keras membuat ibu gemetar.

Permintaan yang Mengharukan

Ibu menunduk menatap mangkuk nasi. Air matanya menetes jatuh ke nasi putih. Lalu dia melakukan hal yang mengejutkan: dia membagi setengah nasi ke mangkuk kosong di sebelah, seolah berkata: “Aku cukup makan setengah saja, asal jangan usir aku.”

Nenek tersentak. Dia tahu, ibu sedang memohon agar tetap diizinkan tinggal.

Namun dengan hati yang keras, nenek tetap bersikap dingin: “Makanlah cepat, lalu pergilah. Di rumah ini kamu akan mati kelaparan.”

Ibu akhirnya bangkit, terhuyung keluar rumah. Tapi dia berdiri lama di depan pintu, enggan pergi. 

Nenek kembali mengusir: “Pergi! Jangan kembali. Dunia ini penuh keluarga kaya, kenapa masih bertahan di sini?”

Namun alih-alih pergi, ibu mendekat dan mengulurkan tangannya ke arah pelukan nenek. Dia hanya ingin menggendong saya sekali saja.

Nenek ragu sejenak, lalu menyerahkan saya kepadanya. Untuk pertama kali, ibu memeluk saya erat-erat. Wajahnya tersenyum lebar, seakan dunia seketika terang. Nenek, khawatir, tetap menopang saya dari bawah, takut kalau tiba-tiba ibu “kumatan.”

Tiga menit kemudian, nenek buru-buru merebut saya kembali, masuk ke rumah, dan menutup pintu.

Saat Saya Menyadari

Ketika saya mulai besar, saya sadar saya tidak punya ibu di sisi. Ayah dan nenek selalu berkata: “Ibumu sudah meninggal.”

Namun teman-teman mengejek saya: “Ibumu itu gila, diusir nenekmu.”

Saya marah, menuntut nenek agar “mengembalikan ibu saya.” Saya bahkan menyebut nenek “nenek serigala” dan menumpahkan makanan yang diberikannya.

Waktu itu saya belum paham apa arti “gila.” Saya hanya tahu, saya sangat merindukan ibu: bagaimana rupanya? Apakah masih hidup?

Tak disangka, ketika saya berusia enam tahun—setelah lima tahun menghilang—ibu kembali.

Pertemuan yang Mengecewakan

Hari itu, teman-teman berlari memberi kabar: “Xiaoshu, cepat keluar! Ibumu kembali. Ibumu yang gila itu kembali!”

Saya sangat gembira, langsung berlari keluar bersama ayah dan nenek.

Saya melihat seorang wanita lusuh duduk di batu besar dekat lumbung padi desa. Rambutnya kusut, tubuhnya berbau, bajunya robek. Di tangannya ada balon kotor.

Ketika melihat saya, matanya langsung berbinar. Dia berdiri, berteriak terbata: “Xiaoshu… bola… bola!” Sambil mengulurkan balon itu untuk saya.

Namun saya justru mundur selangkah demi selangkah. Saya kecewa. Sosok yang saya impikan ternyata seperti ini.

Teman-teman mengejek: “Sekarang kamu tahu kan, orang gila itu seperti apa? Itulah ibumu.”

Saya marah, tapi pada akhirnya berteriak: “Bukan ibuku! Aku tidak mau ibu gila!”

Lalu saya berlari pergi.

Hidup Bersama Lagi

Ayah dan nenek justru membawa ibu kembali ke rumah. Setelah mengusirnya dulu, hati nenek semakin diliputi penyesalan seiring bertambah tua. Kini dia tidak sanggup lagi mengeraskan hati, dan memutuskan membiarkan ibu tinggal.

Namun bagi saya, keberadaan ibu membuat saya malu. Saya tidak pernah menyapanya, tidak pernah memanggilnya “ibu.” Jika berbicara, selalu dengan teriakan. Dan dia, tidak pernah membantah.

Di rumah, nenek memutuskan ibu tidak boleh “makan gratis.” Dia melatih ibu mengerjakan pekerjaan remeh. Saat turun ke ladang, nenek mengajak ibu ikut “mengamati,” dan memperingatkan: kalau tidak patuh, akan dipukul.

Beberapa waktu kemudian, merasa latihannya sudah cukup, nenek menyuruh ibu pergi sendirian untuk memotong rumput babi. Tak disangka, hanya setengah jam kemudian ibu sudah kembali dengan dua keranjang “rumput babi.” Begitu melihat, nenek panik—yang ibu potong ternyata padi milik orang, yang sedang berbulir! Nenek memaki: “Perempuan gila, rumput dan padi saja tak bisa bedakan!”

Saat nenek masih memikirkan cara menyelesaikan masalah, pemilik sawah datang dan menuduh nenek sengaja menyuruh. Nenek naik pitam, mengangkat tongkat dan menghajar ibu di pinggang: “Kubunuh kamu, perempuan gila! Minggat jauh-jauh!”

Meski gila, rasa sakit tetap terasa. Ibu meloncat-loncat menghindari pukulan, mulutnya merintih, “Jangan… jangan…” 

Akhirnya, si pemilik sawah tak tega: “Sudahlah, kami tak menuntut. Lain kali diawasi ketat saja.”

Setelah keributan reda, ibu duduk tersungkur sambil terisak. Aku memandang rendah dan berkata: “Rumput sama padi saja tak bisa bedakan—kau benar-benar seperti babi.” 

Belum selesai, tengkukku terasa panas—sebuah tamparan mendarat. 

Nenek membentak: “Anak kurang ajar! Bagaimanapun juga, dia ibumu!” 

Aku mencibir: “Aku tidak punya ibu sebodoh dan segila itu!”

“Semakin menjadi-jadi! Kubikin kamu kapok!” Nenek mengangkat tangan lagi. 

Seketika, ibu bangun dari tanah, berdiri di antara aku dan nenek. Dia menunjuk kepalanya sendiri, sambil berulang: “Pukul aku… pukul aku…”

Saat itu aku mengerti: ibu menyuruh nenek memukul dirinya, jangan aku. Tangan nenek pun turun perlahan. 

Dia bergumam: “Perempuan gila ini… ternyata juga tahu sayang anaknya.”

Tak lama setelah aku masuk sekolah, ayah dipekerjakan untuk menjaga kolam ikan di desa sebelah, bergaji 50 yuan sebulan. Ibu tetap keluar bekerja di bawah arahan nenek—terutama mencari rumput babi—dan sejak itu tak lagi membuat masalah besar.

Payung di Hari Hujan

Suatu hari musim dingin, saat aku kelas 3 SD, hujan turun mendadak. Nenek menyuruh ibu mengantarkan payung. Sepertinya di sepanjang jalan ibu beberapa kali terpeleset; tubuhnya belepotan lumpur layaknya monyet tanah. Dia berdiri di jendela kelas, menatapku sambil senyum bodoh dan gagap memanggil: “Shu… payung…”

Beberapa teman tertawa-tawa. Aku gelisah, marah, malu—benci karena dia “tidak tahu diri” dan membuatku kehilangan muka—lebih benci lagi pada Fan Jiaxi yang menertawakan paling keras. Saat dia terus mengejek, aku melemparnya dengan kotak pensil, tapi dia menghindar dan mencekik leherku. Kami bergumul; tubuhku kecil, mudah sekali dihempaskan.

Tiba-tiba, dari luar kelas terdengar pekikan panjang. Ibu berlari seperti pendekar, menyambar Fan Jiaxi dan menyeretnya ke luar. Kata orang, orang gila tenaganya besar—ternyata benar. Ibu mengangkatnya tinggi-tinggi. Fan ketakutan, kaki gempalnya menendang-nendang di udara. Ibu tak peduli—dia melemparkan anak itu ke kolam di depan gerbang sekolah, lalu berjalan pergi dengan wajah datar.

Ibu menimbulkan masalah besar untukku—namun di hadapanku, dia kembali berwajah takut, menatapku dengan penuh hati-hati, seakan minta maaf. Saat itu aku paham: itulah cinta seorang ibu. Sekalipun pikirannya kabur, cintanya pada anak tetap jernih—karena anaknya dirundung orang.

Tanpa sadar aku berseru: “Ibu!”—pertama kalinya seumur hidup. Ibu tergetar, memandangku lama, lalu pipinya memerah seperti anak kecil; dia menyeringai malu-malu, tertawa bodoh. Hari itu, untuk pertama kalinya kami pulang berdua di bawah satu payung.

Di rumah, kuceritakan semuanya pada nenek. Nenek sampai terjengkang di kursi, buru-buru menyuruh orang memanggil ayah. Begitu ayah masuk, sekelompok pria bertubuh kekar membawa senjata tajam menerobos rumah kami. Mereka menghancurkan panci, piring—rumah serasa diguncang gempa. Itulah orang-orang suruhan ayah Fan Jiaxi. Dengan garang dia menuding ayahku: “Anakku syok saraf, sedang terbaring di klinik. Kalau kamu tak keluarkan seribu yuan untuk biaya, kubakar rumahmu!”

Seribu yuan? Gaji ayah hanya lima puluh!

Tatapan ayah memerah. Dia menoleh ke ibu, melepas sabuk dari pinggang, lalu menghajarnya tanpa ampun. Sabetan demi sabetan—ibu melompat seperti tikus ketakutan, seperti hewan buruan yang tersudut, menjerit-jerit. Suara sabuk yang menghantam tubuhnya—jernih, menyayat—takkan pernah kulupa.

Akhirnya, kepala kantor polisi datang dan menghentikan ayah. Hasil mediasi: kerugian dianggap saling meniadakan; siapa pun yang berulah lagi akan ditangkap.

Setelah semua pergi, ayah memandangi pecahan piring dan tubuh ibu yang penuh luka lebam. Dia tiba-tiba memeluk ibu dan menangis: “Perempuan gila… bukan karena aku tega memukulmu. Kalau aku tak memukulmu, urusan ini tak akan selesai—kita tak punya uang membayar. Semua ini gara-gara kemiskinan!” 

Lalu ayah menatapku: “Shu, kau harus belajar sungguh-sungguh, kuliah setinggi-tingginya. Kalau tidak, kita akan diinjak orang seumur hidup!”

Aku mengangguk, mulai mengerti.

Jalan Panjang Ibu

Musim panas tahun 2000, aku diterima di SMA favorit. Nenek, yang kelelahan seumur hidup, meninggal. Hidup kami kian sulit. Dinas Sosial Enshi memasukkan keluarga kami sebagai keluarga sangat miskin, memberi tunjangan 40 yuan per bulan. Sekolah juga mengurangi sebagian biaya, sehingga aku bisa terus belajar.

Karena tinggal di asrama dan belajar ketat, aku jarang pulang. Ayah masih bekerja dengan gaji 50 yuan. Tugas mengirim sayuran ke asrama jatuh pada ibu. Biasanya bibi tetangga membantu menyiapkan sayur asin, lalu menitipkannya untuk dibawa ibu. Jalan setapak pegunungan sepanjang 20 kilometer, berliku-liku—anehnya, ibu menghafalnya tanpa salah, hujan maupun angin. Benar-benar ajaib: untuk urusan menyangkut anaknya, ibu sama sekali tidak “gila.” Selain cinta seorang ibu, aku tak tahu bagaimana ilmu kedokteran menjelaskannya.

Tanggal 27 April 2003, hari Minggu, ibu datang lagi. Selain membawa sayuran, dia membawakan belasan buah persik liar. Aku menggigit satu, manis sekali.

“Dari mana?” tanyaku. 

“Aku… memetiknya…” jawabnya. 

Ternyata ibu bisa memetik persik.

 Aku memujinya tulus: “Ibu, kamu makin hebat.”

 Ibu terkekeh senang.

Sebelum pulang, seperti biasa, kuingatkan agar hati-hati di jalan. Dia mengiyakan. Keesokan harinya saat pelajaran berlangsung, bibiku datang tergesa-gesa memanggilku keluar kelas

“Ibumu sudah pulang?” tanyanya. 

“Sudah, kemarin,” jawabku.

 “Belum,” kata bibi. “Sampai sekarang belum sampai rumah.”

Dadaku mencelos. Masak ibu bisa salah jalan? Dia sudah tiga tahun menempuh rute itu. 

“Dia bilang apa kemarin?” 

“Tidak. Hanya membawakan persik liar,” jawabku.

 Bibi menepuk tangan: “Celaka! Mungkin gara-gara persik itu.”

Bibi mengurus izinku, lalu kami menelusuri jalan pulang. Di sepanjang jalur memang ada beberapa pohon persik liar, dan karena tumbuh di tebing, masih ada buah yang tersisa. Kami melihat satu pohon dengan dahan patah. Di bawahnya—jurang curam.

“Turun ke bawah tebing,” kata bibi. “Jangan takutkan aku…” suaraku gemetar. Bibi menarik tanganku, kami menuruni lembah.

Ibu terbaring diam di dasar jurang. Di sekelilingnya berserakan buah persik; satu masih dia genggam erat. Darah di tubuhnya sudah menghitam, mengeras. Dadaku seperti diremuk. 

Aku memeluknya, meraung: “Ibu… Ibu malangku… Anak ini tak seharusnya bilang persiknya manis… Akulah yang membuat Ibu seperti ini… Ibu belum menikmati sehari pun kebahagiaan…”

Kupeluk wajahnya yang dingin, dan rasanya seluruh batu gunung pun ikut menangis.

Surat Emas yang Terlambat

7 Agustus 2003, tepat 100 hari setelah pemakaman ibu, surat penerimaan bersegel emas dari Universitas Hubei melintasi jejak yang pernah ditempuh ibu, melewati pohon-pohon persik liar, melintasi lantai jemur padi di depan desa, dan “terbang” masuk ke rumah kami.

Kukibaskan debu, lalu kuselipkan surat itu di nisan sunyi ibu: “Ibu, anakmu berhasil. Ibu dengar, kan? Ibu bisa tersenyum tenang sekarang di alam sana.” (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine