EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan arah kebijakan luar negeri yang konfrontatif terhadap Tiongkok. Dalam upacara penghormatan bagi aktivis konservatif Charlie Kirk yang digelar di Arizona, Trump mengejutkan publik dengan pernyataannya: Amerika Serikat berencana merebut kembali Pangkalan Udara Bagram di Afghanistan.
Bagram: Pusat Strategis di Dekat Tiongkok
Trump menyebutkan bahwa Bagram, yang ditinggalkan pasukan AS pada tahun 2021, memiliki posisi militer yang sangat penting. Lokasinya hanya berjarak sekitar satu jam penerbangan dari pangkalan nuklir Tiongkok di Xinjiang. Menurut Trump, penguasaan kembali atas pangkalan ini akan memperkuat strategi AS dalam menghadang pengaruh Beijing di kawasan Asia Tengah.
“Jika Afghanistan tidak mengembalikan pangkalan itu kepada Amerika Serikat yang membangunnya, sesuatu yang buruk akan terjadi,” ujar Trump dalam pidatonya, menegaskan ancaman nyata terhadap Taliban.
Dampak Strategis bagi Taiwan
Analis pertahanan di Taiwan menilai langkah Trump ini bukan sekadar retorika politik. Jika AS kembali menempatkan pasukan di Bagram, maka Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) akan dipaksa membagi perhatian dan kekuatan antara pesisir timur—yang menghadap Taiwan—dan perbatasan barat dekat Xinjiang. Artinya, ancaman invasi Tiongkok ke Taiwan berpotensi berkurang karena beban militer yang terbagi.
Penolakan Taliban dan Bayangan Beijing
Namun, pemerintah Taliban di Kabul langsung menolak mentah-mentah wacana tersebut. Taliban menegaskan bahwa perjanjian yang ditandatangani pada masa jabatan pertama Trump mencakup penghormatan terhadap kedaulatan Afghanistan.
Penolakan ini dipandang banyak pihak sebagai cerminan pengaruh Tiongkok, mengingat hubungan erat Kabul–Beijing yang semakin intensif sejak penarikan pasukan AS pada 2021.
Janji Investasi Tiongkok di Afghanistan
Tiongkok sendiri menjanjikan investasi bernilai miliaran dolar dalam sektor energi dan mineral Afghanistan, termasuk rencana eksploitasi sumber daya tembaga dan litium. Namun, laporan menunjukkan sebagian besar komitmen tersebut belum terealisasi hingga kini. Meski begitu, Beijing tetap menjadi mitra politik dan ekonomi terkuat Taliban di kancah internasional.
Tekanan AS: Antara Ekonomi dan Militer
Pengamat militer memperkirakan bahwa Trump, jika kembali berkuasa, tidak akan mengandalkan opsi militer semata.
Amerika Serikat kemungkinan akan menggunakan kombinasi tekanan ekonomi, diplomasi keras, dan tawaran bantuan finansial untuk memaksa Taliban melunak. Skema ini mirip dengan strategi Washington pada masa lalu dalam menekan rezim-rezim yang menolak kebijakan luar negeri AS.
Kesimpulan:
Pidato Trump pada 21 September 2025 bukan hanya penghormatan bagi mendiang Charlie Kirk, tetapi juga penegasan bahwa persaingan AS–Tiongkok akan terus meningkat. Wacana pengambilalihan Bagram berpotensi membuka babak baru ketegangan geopolitik, tidak hanya di Afghanistan, tetapi juga dalam dinamika keamanan Asia Timur, khususnya Taiwan. (***)


