Tragisnya Seorang Pelari Maraton: “Sekalipun Miskin, Aku Tak Akan Biarkan Anakku Menekuni Bidang Olahraga”

EtIndonesia. Dibandingkan dengan olahraga yang identik dengan kalangan elit seperti golf atau tenis, sebagian besar atlet maraton justru berasal dari keluarga miskin di pedesaan. Sejak kecil, mereka terjun ke dunia latihan keras hanya demi bisa makan kenyang dan berharap kelak, setelah pensiun, memperoleh pekerjaan tetap dari pemerintah: menjadi pegawai kereta api, guru, atau polisi.

Namun, kenyataan pahit membuat mimpi itu runtuh. Bagi mereka yang tidak mampu sekolah, satu-satunya jalan mengubah nasib adalah menjadi juara. Dan ketika tubuh sudah hancur oleh latihan, mereka baru sadar—ada hal-hal yang tidak bisa digapai hanya dengan kerja keras.

Kisah Guo Ping, mantan atlet maraton Tiongkok, adalah potret getir itu.

Dari Bocah Desa ke “Bintang Harapan”

Guo Ping mulai berlatih lari sejak usia 9 tahun. Pada 1995, dia direkrut oleh Wang Dexian, pelatih kepala tim nasional maraton Tiongkok, dan disebut-sebut sebagai “anak emas”.

Dengan janji manis pelatih bahwa dia akan mendapat pekerjaan di instansi negara setelah pensiun, Guo Ping berlatih dengan sepenuh hati, penuh rasa syukur. Dia pernah meminta agar difokuskan pada nomor 800 meter atau 1.500 meter. Namun Wang memaksa dia menambah latihan di nomor 5.000 meter, 10.000 meter, hingga maraton. Lama-kelamaan, tubuhnya hancur. Dia  pun sadar: dirinya hanyalah “kelinci percobaan” sang pelatih.

Latihan Keras, Hidup Mengenaskan

Latihan maraton jauh lebih berat dibanding cabang lain: rata-rata atlet harus berlari 60–70 km setiap hari. Tetapi makanan mereka menyedihkan—selama berbulan-bulan hanya tauge beku dan sawi busuk.

Saat Tahun Baru, sesekali ada daging: delapan kilogram bakso untuk 20-an atlet yang kelaparan—jelas tak mencukupi.

Guo Ping menghabiskan lima tahun masa latihan tertutup di Shanhaiguan. Dia hampir tak pernah pulang. Bahkan untuk sekadar menelepon keluarga pun diawasi. Bila ketahuan mengeluh, dia akan dipukul dan dihukum.

Cedera, Pensiun, dan Pengkhianatan

Tahun 2001, jari-jari kakinya rusak parah, tubuhnya tak sanggup lagi. Usai masa pemulihan, Guo Ping menuntut gaji dan kompensasi cedera kerja. Alih-alih mendapat perhatian, dia justru dimaki habis-habisan oleh pelatihnya sendiri.

Tahun 2002, dia keluar dari Tim Maraton Kereta Api dan dipaksa pensiun. Padahal, demi anaknya bisa berlatih, ayahnya sudah habis-habisan mengais rezeki dari tambang batu bara, ibunya dari ternak babi. Semua uang keluarga lenyap.

Lebih parah lagi, karena sejak kecil dia tak sempat sekolah, Guo Ping hanya memiliki pendidikan setingkat SD

Program belajar bagi atlet sebenarnya pernah ada, tetapi dihentikan dengan alasan: “Setiap hari cuma baca buku, kapan mau latihan?”

Hasilnya, dia keluar dari dunia atletik dengan tubuh rusak, tanpa ijazah, tanpa keterampilan. Hidupnya jatuh miskin.

Nyaris Mengakhiri Hidup

Tahun 2006, putus asa menumpuk, Guo Ping membeli obat tidur untuk mengakhiri hidup. Untung, ibunya memergoki tepat waktu.

Beberapa bulan kemudian, dia bersama rekannya Ai Dongmei menempuh jalur hukum menuntut pelatih Wang Dexian. Berkat tekanan media, Guo Ping akhirnya menang dan menerima kompensasi 100 ribu yuan (sekitar Rp220 juta kala itu).

Namun, uang itu hanyalah setetes air di lautan. Semua habis untuk membayar utang pengobatan dan kebutuhan keluarga. Hidupnya tetap miskin.

Hidup Setelah Maraton

Musim dingin semakin menusuk. Karena tak mampu membeli batu bara, anak Guo Ping menderita radang dingin di tangan. Bahkan biaya sekolah anaknya pun nyaris tak terpenuhi.

Dengan suara tegas, dia berkata: “Sekalipun kami miskin, aku tak akan biarkan anakku belajar olahraga.”

Dia tak ingin siklus tragis itu terulang.

Saat ditanya tentang masa depannya, Guo Ping menjawab lirih: “Aku hanya ingin membuka warung kecil, cukup untuk makan dan hidup tenang.”

Sayangnya, mimpi sederhana itu pun terasa begitu jauh, seakan sebuah kemewahan.

Kisah Guo Ping adalah potret sisi gelap dunia olahraga kompetitif: ketika tubuh muda diperas habis demi kejayaan sesaat, lalu ditinggalkan tanpa perlindungan. Ia mengingatkan kita bahwa di balik sorak juara, ada banyak atlet yang pulang dengan luka, kemiskinan, dan penyesalan.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine