EtIndonesia. Dalam sebuah acara hiburan televisi, seorang wanita pembawa acara dengan nada tajam bertanya pada seorang pria peserta: “Kenapa kamu begitu peduli dengan uang?”
Pria itu tersenyum dan menjawab: “Karena uang bisa membeli segalanya!”
Sontak, penonton di studio heboh, bahkan mencemooh.
Namun pria itu kembali tersenyum dan berkata: “Mari kita lakukan sebuah uji coba. Temanya sederhana: bayangkan ada seseorang yang membencimu, tapi jatuh cinta pada pacarmu. Dia ingin kamu mundur, dan untuk itu dia bersedia memberi kompensasi. Pertanyaannya: berapa harga yang sanggup membuatmu menyerah?”
Awalnya, semua penonton menatap dengan sinis.
Pria itu lalu menyebutkan harga pertama: 50 ribu yuan.
Suasana studio langsung riuh: “50 ribu? Itu sama saja menghina orang! Demi uang segitu, rela menyerahkan cinta? Itu bukan hanya mengkhianati pasangan, tapi juga menginjak harga diri!”
Kemudian, pria itu menaikkan harga kedua: 500 ribu yuan.
Kali ini, suara penonton mulai berkurang. Beberapa orang mulai berhitung dalam hati. Setelah cukup lama, sebagian besar pria tetap mengatakan “tidak”. Pacar yang duduk di samping mereka menatap penuh haru.
Namun, ada juga sebagian kecil yang berkata “ya”.
Salah seorang di antaranya menjelaskan: “Saya sendiri tidak punya uang. Orangtua saya sudah susah payah seumur hidup. Kalau di usia tua mereka sakit tapi tak ada biaya untuk berobat, demi mereka saya rela melepas cinta.”
Pria itu kembali menaikkan harga ketiga: 5 juta yuan.
Setengah dari para pria mendadak terdiam, sisanya menjawab dengan suara pelan: “Saya tetap memilih cinta.”
Tapi pacar mereka justru terlihat ragu. Seorang gadis bahkan berdiri dan berkata: “Kalau ada pria yang rela mengeluarkan 5 juta demi saya, rasanya saya tidak punya alasan untuk menolak.”
Kebanyakan pria pun akhirnya goyah. Dengan 5 juta, mereka bisa membeli rumah, mobil, membuat keluarga hidup nyaman, bahkan memulai usaha.
Pria itu kembali menaikkan harga keempat: 50 juta yuan!
Seluruh ruangan heboh. Hanya satu pria yang tetap berkata “tidak”.
Dia menegaskan: “Cinta saya tak ternilai dengan uang.”
Namun, ketika ditanya pendapat pacarnya, si gadis menjawab jujur: “Aku memang tersentuh oleh keteguhannya. Tapi lebih tersentuh lagi jika ada seseorang yang rela mengorbankan 50 juta demi diriku. Pandangannya memang patut dihormati, tapi… itu tidak realistis.”
Pada akhirnya, hampir semua orang memilih uang. Padahal orang yang dimaksud tetaplah sama, sifatnya pun tidak berubah—tetapi ketika jumlah uang berubah, penilaian orang terhadapnya pun ikut berubah.
Cinta memang dikatakan tak ternilai. Tapi ketika diuji dengan tawaran uang, banyak orang justru berubah sikap. Kalau cinta bisa ditukar dengan uang, apakah itu masih pantas disebut cinta?
Ada yang mengatakan: “Yang ditukar dengan uang bukanlah cinta, melainkan hak kepemilikan. Karena cinta sejati sudah pergi sejak awal.”
Di akhir acara, pria itu menyampaikan kalimat penutup yang dalam: “Saya percaya pada cinta, percaya pada kebaikan manusia. Justru karena itu saya berusaha keras mencari uang. Saya hanya tidak ingin cinta dan kemanusiaan saya diuji oleh uang orang lain.” (yn)


