Seorang wanita muda asal Chengdu, Tiongkok, dilaporkan meninggal dunia secara mendadak di sebuah hostel di Bali. Ia diduga karena keracunan makanan. Baru-baru ini, seorang saksi mata mengungkap lebih banyak detail mengenai insiden ini, sehingga menarik perhatian publik.
EtIndonesia. Pada 24 September, seorang warganet menulis di media sosial bahwa dirinya nyaris bertemu maut saat berlibur di Bali, sementara seorang gadis asal Chengdu yang tinggal sekamar dengannya justru kehilangan nyawa di negeri asing. Ia berharap pengalamannya bisa menjadi peringatan bagi orang lain.
Wanita yang menulis kisah ini, bermarga Li (nama samaran). Ia menceritakan detail kejadian tersebut kepada media daratan Tiongkok, Xiaoxiang Morning News. Pada 31 Agustus, ia menginap di sebuah hostel di Bali. Saat makan malam, ia digigit anjing liar yang dipelihara pemilik hostel, sehingga ia pergi ke klinik terdekat untuk mendapatkan vaksin rabies.
Pada 1 September dini hari, Li mulai mengalami muntah dan diare hebat, tubuh penuh keringat dingin, dan sakit perut yang membuatnya tak bisa tidur. Ia pun kembali ke klinik. Di sana ia bertemu dengan seorang gadis lain dari hostel yang sama, yang juga mengalami gejala serupa dan muntah di toilet.
Siang harinya, kondisi Li sedikit membaik dan ia kembali ke hostel. Saat itu ia menemukan teman sekamarnya, gadis Chengdu tersebut, juga muntah-muntah.
“Dia bilang perutnya sangat sakit, tak tertahankan,” ujar Li.
Li lalu memanggil staf hostel untuk membersihkan kamar dan menyarankan gadis Chengdu itu pergi ke rumah sakit. Saat itu terdengar pula teriakan minta tolong dari penghuni lain. Seorang tamu asal Eropa yang tinggal di kamar seberang juga harus dibantu staf untuk pergi berobat. Sedangkan gadis Chengdu sudah tak sanggup berdiri, sehingga staf berjanji memanggil dokter ke kamar.
Li kemudian tertidur, dan saat terbangun karena rasa sakit, ia mendapati gadis Chengdu itu masih di kamar dan mengatakan kondisinya sudah lebih baik setelah ditemani staf hostel sepanjang siang. Menurut Li, saat itu gejalanya tampak lebih ringan daripada dirinya.
Namun pada pukul 11 malam, kondisi Li kembali memburuk. Ia kembali ke klinik dan mendapat infus. Pada dini hari 2 September, sakit perutnya semakin parah, tubuhnya dipenuhi keringat dingin hingga seprai basah kuyup.
“Rasanya lebih sakit daripada menelan pisau,” kenangnya.
Dengan tubuh lemah, ia berjalan keluar kamar. Dibantu tamu lain, ia dibawa staf ke klinik lain. Dokter kemudian memanggil ambulans untuk membawanya ke rumah sakit. Li langsung masuk ICU.
Dokter mendiagnosis Li mengalami gastroenteritis akut dan dehidrasi parah. Kondisi vitalnya sangat rendah dan ia berisiko mengalami syok. Menurutnya, kadar oksigen darah sempat turun hingga 85. Selama ia dirawat, polisi datang untuk menanyakan situasi. Dari situ ia tahu bahwa sudah ada banyak tamu hostel lain yang juga mengalami muntah-diare, termasuk dua gadis yang lebih dulu dibawa ke rumah sakit.
Pada hari kedua di rumah sakit, Li mengirim pesan kepada gadis Chengdu itu, mendesaknya segera pergi ke rumah sakit.
“Saya bilang saya sudah masuk ICU, sewaktu-waktu bisa syok. Ini bukan main-main.”
Namun ia tak pernah mendapat balasan.
Setelah empat hari dirawat, Li keluar dari rumah sakit dan kembali ke hostel untuk mengambil barang. Saat itu, gadis Chengdu sudah tidak ada di kamar, beberapa kamar hostel dipasangi segel, meski ada kamar lain yang masih beroperasi normal.
Staf hostel semua mengenakan sarung tangan dan masker hitam. Saat Li bertanya soal keberadaan gadis Chengdu, staf menjawab tidak tahu.
Baru setelah kembali ke Tiongkok, Li tahu dari media sosial bahwa teman sekamarnya itu sudah meninggal dunia.
“Dia ditemukan meninggal pada 2 September sekitar pukul 11 siang, tepat saat saya masih berjuang di ICU.”
Li merasa sangat menyesal dan heran mengapa setelah dirinya masuk ICU, staf hostel tidak segera membawa gadis Chengdu itu ke rumah sakit.
Pasca-kejadian, banyak warganet meninggalkan komentar di halaman ulasan hostel tersebut di platform pemesanan online. Hostel itu sebelumnya memiliki rating 8,8.
Seorang tamu asal Tiongkok menulis ulasan buruk pada 21 September, dalam bahasa Tionghoa dan Inggris:
“Setelah makan malam yang disediakan hostel, hampir 20 orang mengalami keracunan massal. Pihak hostel tidak memberi tindakan medis apapun, yang akhirnya menyebabkan seorang perempuan meninggal di kamarnya.”


