ETIndonesia. Media Asing Bloomberg pada 24 September melaporkan bahwa dalam dua bulan terakhir Tiongkok secara drastis meningkatkan impor minyak dari Indonesia, sehingga memicu kecurigaan mengenai asal usul sebenarnya dari minyak tersebut.
Data menunjukkan, pada Agustus PKT mengimpor total 2,7 juta ton minyak dari Indonesia, setara dengan sekitar 630 ribu barel per hari, lebih banyak dari Juli, sementara impor Juli sendiri sudah tiga kali lipat dari Juni. Lonjakan ini sangat tidak biasa, sebab Indonesia sudah lebih dari 20 tahun menjadi negara pengimpor minyak.
Menurut data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), produksi minyak Indonesia pada 2024 hanya sekitar 580 ribu barel per hari, sedangkan kebutuhan domestik mencapai hampir 1,7 juta barel per hari. Artinya, Indonesia sendiri kekurangan minyak, tetapi justru mengekspor ke PKT — hal ini menimbulkan kecurigaan bahwa minyak tersebut berasal dari tempat lain.
Laporan itu menyebutkan, sebelumnya sejumlah media asing telah mengungkap bahwa Tiongkok mengandalkan armada “kapal bayangan” (shadow vessels) untuk menghindari sanksi AS dalam membeli minyak dari Iran.
Meski data bea cukai PKT menunjukkan bahwa sejak pertengahan 2022 mereka tidak lagi mengimpor minyak dari Iran, impor dari Malaysia justru melonjak jauh melebihi kapasitas produksi negara tersebut. Laut timur Malaysia sejak lama menjadi pusat ship-to-ship transfer (alih muatan kapal ke kapal), di mana minyak diberi label baru sebagai “asal Malaysia” sehingga bisa masuk ke PKT.
Charlie Brown, penasihat senior dari organisasi advokasi United Against Nuclear Iran, mengatakan bahwa praktik ini hanyalah taktik yang terus berevolusi untuk menutupi transaksi sebenarnya.
Catatan pelacakan kapal menunjukkan, beberapa kapal tanker mengirimkan sinyal akan berlabuh di Pelabuhan Kabil, Pulau Batam, sebelum menuju PKT untuk bongkar muatan. Masalahnya, pelabuhan tersebut tidak memiliki fasilitas ekspor minyak mentah, dan lokasinya sangat dekat dengan perairan Johor, Malaysia, yang merupakan titik transfer kapal ke kapal yang sudah mapan.
Sebagai contoh, tanker Aquaris pada Mei lalu mengirim sinyal menuju Indonesia, lalu berbelok ke perairan Malaysia untuk menerima minyak Iran dari kapal Sorion (yang sudah dikenai sanksi AS dan Inggris).
Pada Juni, minyak itu dibongkar di Qingdao. Terminal tersebut kemudian dijatuhi sanksi oleh Departemen Luar Negeri AS pada Agustus. Setelah itu, Aquaris kembali mengulangi pola perjalanan serupa, dan kini untuk ketiga kalinya berlayar menuju Kabil.
Kapal tanker lain, Yuhan, pada Juni berangkat dari Kabil menuju perairan Johor, Malaysia, lalu pada Juli tiba di Rizhao, Shandong, menurunkan lebih dari 200 ribu barel minyak yang asalnya tidak jelas. Namun, pada Mei sebelumnya kapal ini sudah menerima minyak Iran di perairan Malaysia dan membawanya ke Dalian.
Kapal Pola juga terpantau, akhir Juli memberi sinyal akan singgah di Kabil, tetapi ternyata menerima minyak Iran dan pada pertengahan Agustus menurunkannya di Dalian. Setelah itu, kapal ini kembali ke Kabil, berlayar lagi pada 13 September, dan diperkirakan akan segera tiba di Rizhao.
Sumber : NTDTV.com


