EtIndonesia. Dia seorang anak kulit hitam, lahir pada 17 Februari 1963 di daerah miskin Brooklyn, New York. Dia punya dua kakak laki-laki, seorang kakak perempuan, dan seorang adik perempuan. Upah kecil ayahnya bahkan tak cukup untuk menghidupi keluarga. Sejak kecil, dia tumbuh dalam kemiskinan dan diskriminasi. Masa depan tampak begitu gelap, hingga sering kali dia hanya bisa duduk diam di bawah atap rendah rumah mereka, memandangi matahari terbenam di kejauhan dengan hati penuh murung.
Saat dia berusia 13 tahun, ayahnya suatu hari memberinya sebuah baju bekas.
“Apa menurutmu baju ini berharga?” tanya ayahnya.
“Paling satu dolar,” jawabnya.
“Kalau begitu, sanggupkah kamu menjualnya dua dolar?” tanya ayahnya, menatap penuh harap.
“Mana ada orang bodoh mau beli?” sahutnya kesal.
Namun tatapan ayahnya penuh ketulusan dan memohon: “Keluarga kita sedang sulit. Kalau kamu bisa menjualnya, itu sudah membantu aku dan ibumu.”
Anak itu pun mengangguk pelan: “Baiklah, aku akan coba. Tapi tak janji akan laku.”
Dia mencuci baju itu hingga bersih. Karena tak punya setrika, dia menggunakan sikat untuk merapikan serat kain lalu menjemurnya di papan kayu. Keesokan harinya, dia membawa baju itu ke stasiun kereta bawah tanah yang ramai. Setelah lebih dari enam jam berteriak menawarkan, akhirnya baju itu terjual dua dolar.
Dia berlari pulang dengan uang itu digenggam erat, wajahnya berseri-seri.
Sejak itu, dia rajin mencari baju-baju bekas dari tumpukan sampah, membersihkannya, lalu menjualnya kembali di pusat kota.
Beberapa hari kemudian, ayahnya kembali memberinya sebuah baju bekas: “Kali ini, bisakah kamu menjualnya 20 dolar?”
“Mana mungkin? Baju ini paling berharga dua dolar saja.”
“Kenapa tidak kau coba?” kata ayahnya, memberi dorongan.
Anak itu pun berpikir keras. Akhirnya, dia menemukan ide. Dia meminta sepupunya yang pandai melukis menggambar tokoh Donald Duck dan Mickey Mouse di baju itu. Dia lalu menjualnya di depan sebuah sekolah elit. Tak lama, seorang pengurus membeli baju itu untuk anak majikannya. Sang anak sangat menyukai gambar lucu di baju itu, bahkan memberi tip lima dolar. Hasilnya, dia memperoleh 25 dolar—jumlah yang setara dengan gaji sebulan ayahnya!
Beberapa waktu kemudian, ayahnya lagi-lagi memberikan tantangan: “Bisakah kamu menjual baju ini 200 dolar?”
Kali ini dia tidak ragu. Dia menerimanya dan mulai mencari cara.
Dua bulan kemudian, kesempatan datang. Saat itu, aktris terkenal dari film Charlie’s Angels, Farrah Fawcett, datang ke New York untuk promosi. Di tengah kerumunan, anak itu nekat menerobos barisan keamanan, mendekat dan meminta tanda tangan di bajunya. Farrah Fawcett sempat terkejut, namun tersenyum lalu menandatangani baju itu.
Anak itu lalu berteriak: “Baju dengan tanda tangan Farrah Fawcett! Dijual 200 dolar!”
Dalam sekejap, para pengusaha kaya yang hadir ikut menawar. Akhirnya, seorang pengusaha minyak membeli baju itu seharga 1.200 dolar!
Malam itu, dia pulang dan seluruh keluarga merayakan dengan gembira. Ayahnya meneteskan air mata haru, memeluk erat putranya: “Aku tadinya berniat, kalau kamu tak bisa menjualnya, aku akan pura-pura membelinya. Tapi ternyata kamu berhasil sungguhan. Nak, kamu sungguh hebat!”
Di bawah sinar bulan yang lembut, ayah dan anak itu tidur berdampingan, penuh kebahagiaan.
Ayahnya lalu bertanya: “Anakku, dari pengalaman menjual tiga baju ini, apa yang kamu pelajari?”
Dia menjawab dengan mata berbinar: “Aku mengerti, Ayah ingin mengajariku bahwa kalau kita mau berusaha, pasti selalu ada jalan.”
Ayahnya mengangguk, lalu menggeleng: “Itu benar, tapi bukan inti maksudku.Yang ingin ayah sampaikan adalah: ahkan baju bekas seharga satu dolar saja bisa menjadi sesuatu yang mulia. Lalu bagaimana dengan kita manusia? Bukankah kita jauh lebih berharga? Jadi, apa alasan kita untuk kehilangan harapan pada hidup? Kita mungkin miskin, mungkin berbeda warna kulit—tapi itu bukan alasan untuk menyerah.”
Anak itu pun menatap ayahnya dengan penuh keyakinan: “Ya, kalau sepotong baju bisa menjadi mulia, aku apalagi. Aku tidak boleh meremehkan diriku sendiri.”
Dua puluh tahun kemudian, namanya bergema di seluruh dunia. Anak itu adalah legenda bola basket dunia: Michael Jordan.
Renungan Hidup
Hidup memang tidak sempurna. Alih-alih tenggelam dalam keluhan dan rasa putus asa, lebih baik kita berpegang pada keyakinan: dengan kerja keras dan kreativitas, kita bisa membuat hidup kita menjadi lebih baik, bahkan lebih mulia.(jhn/yn)


