Orang Jahat yang Tampak Baik

EtIndonesia. Suatu pagi yang sepi, saat hampir tak ada peziarah datang ke kuil, muncul seorang pria paruh baya berpakaian rapi dan bersikap ramah.

Dia menghampiri seorang biksu tua dan dengan penuh ketulusan berkata: “Shifu, bolehkah saya menyumbangkan 1 juta yuan untuk kuil ini?”

Biksu tua yang sedang membersihkan tempat lilin menoleh, lalu merangkapkan tangan: “Dermawan, apakah ada sesuatu yang sedang mengganjal hati Anda?”

Wajah pria itu sempat berubah sedikit masam, tapi dia segera mengembalikan sikap tenang dan menjawab:  “Itu… bukan urusan Anda, bukan?”

Biksu berkata lembut:  “Jangan tersinggung, saya hanya tidak ingin Anda membuang-buang uang. Mohon katakan, sebenarnya Anda ingin menyumbangkan uang itu untuk siapa?”

Pria itu tampak kaget: “Bukankah jelas untuk kuil ini?”

Biksu tersenyum:  “Lebih tepatnya, untuk saya pribadi, untuk kuil ini, atau untuk Tuhan?”

Raut wajah pria itu mulai suram, dahinya berkerut: “Shifu, apakah Anda sedang bercanda?”

Biksu menimpali:  “Segala sesuatu yang dilakukan manusia pasti punya tujuan. Apa tujuan Anda?”

Pria itu akhirnya tersinggung:  “Kalau begitu, berarti Anda tidak mau menerima sumbangan saya. Sudahlah, masih banyak kuil lain!”

Dia pun berbalik dan pergi.

Sekitar seperempat jam kemudian, pria itu kembali lagi. Kali ini sikapnya lebih lembut.

“Shifu, maafkan sikap saya yang kasar tadi. Sesungguhnya saya benar-benar ingin mendonasikan 1 juta yuan untuk kuil ini. Kalau pun Anda ingin tahu tujuan saya, anggap saja untuk pembangunan kuil,” katanya.

Biksu menjawab:  “Bangunan kuil saat ini masih cukup baik. Kalau Anda ingin uang itu segera bermanfaat, lebih baik donasikan untuk anak-anak miskin yang putus sekolah.”

Mendengar itu, pria tersebut berkata dengan gembira: “Sejujurnya, saya sudah pernah membantu 88 anak putus sekolah. Tapi sekarang, saya hanya ingin mendonasikan untuk kuil.”

Biksu bertanya lagi:  “Kalau kami menerima sumbangan itu, apa yang akan Anda rasakan?”

Pria itu menjawab: “Saya akan merasa lega.”

Biksu menatapnya dan berkata: “Kalau begitu, bolehkah saya menganggap bahwa Anda sebenarnya sedang membeli rasa lega dengan uang?”

Pria itu terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

Biksu berkata dengan tenang: “Jangan salah paham. Sesungguhnya, memberi itu memang perbuatan baik. Tapi perbuatan baik belum tentu lahir dari hati yang baik. Jika seseorang hanya ingin menggunakan satu-dua perbuatan baik untuk menutupi dosa, maka kebaikan itu bukanlah kebaikan sejati—justru bisa menjadi sekutu dari kejahatan. Dengan begitu, meskipun Anda mendonasikan 1 juta, rasa bersalah tidak akan hilang, bahkan bisa semakin berat.”

Pria itu mulai berkeringat dan mengeluarkan sapu tangan untuk mengusap wajahnya.

Biksu melanjutkan: “Sebagian orang datang ke kuil untuk berdonasi bukan dengan hati yang tulus, melainkan hanya dengan perbuatan baik di permukaan—mereka ingin menipu Tuhan. Orang-orang seperti itu tampak seolah-olah baik, padahal sebenarnya jahat. Atau lebih tepatnya, mereka adalah orang jahat sejati yang menyamarkan kejahatan dengan kedok kebaikan.”

Pria itu akhirnya tak sanggup lagi menahan diri. Dia berbalik dan berlari pergi.

Biksu tua menatap punggungnya yang menjauh, lalu menyatukan kedua telapak tangan sambil berdoa. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine