EtIndonesia. Karena penuh kasih pada pria yang dicintainya, seorang wanita memilih mencintainya dengan kelembutan selembut air, merawatnya dengan penuh kesabaran.
Pria itu menjadi seorang ayah tunggal ketika putrinya baru berusia 7 tahun. Setelah istrinya—seorang wanita baik hati—pergi meninggalkan dunia karena kanker, putrinya menggenggam erat tangannya sepanjang hari. Sejak itu, dia pun mulai sangat memanjakan putrinya.
Wanita itu berkata: “Aku jatuh cinta padanya justru karena sikapnya itu… Hari itu, dia membawa putrinya pergi piknik. Dia menggandeng tangan kecil itu, berjalan berdampingan, sosok seorang ayah yang begitu hangat.”
Tak lama setelah itu, kisah cinta mereka pun dimulai.
“Kamu tahu? Dirimu sebagai seorang ayah bahkan lebih menawan daripada dirimu sebagai seorang kekasih. Begitu tulus dan penuh kelembutan,” itulah kalimat cinta pertama yang dia ucapkan kepada pria itu.
Namun, putrinya yang sudah 13 tahun menolak kehadiran wanita itu masuk ke rumah. Hidangan yang sudah tiga hari disiapkan untuk makan malam bersama akhirnya terpaksa dibuang. Putrinya bahkan membesarkan foto ibunya dan meletakkannya di rumah baru yang sudah disiapkan sang ayah, seolah-olah ingin menegaskan posisinya.
Mereka hanya bisa kembali ke kafe kecil tempat mereka dulu sering berkencan.
Wanita itu sendiri adalah anak tunggal dari keluarga tradisional. Kedua orangtuanya yang sudah menua menatapnya dengan cemas, khawatir karena ini adalah cinta pertamanya.
Saat sang pria berkunjung ke rumah, ayahnya diam semalaman penuh sebelum akhirnya berkata: “Orang ini tampak cukup tenang. Kalau pun usianya lebih tua, biarlah.”
Lalu terdengarlah helaan napas yang dalam.
Keesokan harinya, pria itu mengajak pergi membeli cincin, dan mereka sepakat menikah pada hari Minggu pertama setelah musim semi tiba.
Namun kini, pria itu kembali duduk di kursi kafe, menunduk dalam diam. Matanya merah, kekalahan dari putrinya membuatnya tampak hancur. Wanita itu merasakan hatinya luluh, larut seperti permen karamel yang meleleh—tak lagi menyisakan tenaga untuk marah.
Dia tahu, pernikahan yang direncanakan itu tidak akan pernah terwujud, semua karena keras kepala seorang gadis kecil.
Musim semi tahun berikutnya, putrinya ikut kegiatan piknik sekolah. Mobil yang ditumpanginya terguling di jalan tol. Saat jasadnya terbujur kaku di depan sang ayah, tubuhnya utuh tanpa luka. Sang ayah hanya bisa duduk terpaku di kursi luar ruang gawat darurat rumah sakit, menunduk, kedua tangannya menekan lutut, sehelai rambut menutupi matanya.
Wanita itu segera datang. Di lorong rumah sakit yang remang, dia merasakan genggaman tangannya ditarik kuat—genggaman penuh keputusasaan, hampir menancap ke kulitnya. Dia langsung merengkuh kepala pria itu ke dadanya, memeluk erat dengan kedua lengannya…
Itu adalah sebuah kisah yang tidak lagi bisa disebut sebagai “kisah cinta.” Namun, anehnya, sejak awal hingga akhir, yang menopang mereka tetaplah cinta—cinta yang perlahan berubah wujud menjadi ikatan kekeluargaan.
Akhirnya, mereka tidak pernah menikah. Setelah kehilangan putrinya, pria itu mendadak menua, kehilangan gairah untuk menjadi seorang suami. Namun, wanita itu berkata kepada kedua orangtuanya bahwa mereka sudah menikah secara resmi, lalu dia pun pindah tinggal bersamanya. Bukan karena gadis kecil itu sudah tiada, melainkan karena pria yang dicintainya kini tidak ada seorang pun yang menaruh belas kasih padanya.
Sejak itu, wanita itu mulai mencuci, memasak, mengurus rumah—cinta romantis yang dulu dia bayangkan seakan larut dalam rutinitas sehari-hari.
Di saat-saat lengang, dia tersenyum pada dirinya sendiri: “Dulu aku mengira telah menemukan sebuah gunung tempatku bersandar. Tak kusangka, justru aku yang lebih dulu berubah menjadi sebuah sungai…” (jhn/yn)


