EtIndonesia. Dalam suasana yang penuh ketegangan, seorang pria dengan identitas istimewa bertindak begitu alami, penuh spontanitas. Gerak-geriknya menunjukkan seolah apa yang dilakukannya hanyalah hal kecil, sesuatu yang baginya lumrah dilakukan. Setelah itu, dia kembali larut dalam lamunannya, seakan semua yang terjadi di hadapannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Manajer yang memimpin pertemuan itu rupanya cukup dekat dengannya, sehingga dengan lapang dada dia membiarkan tindakan spontan pria itu.
Dia pun mengalihkan topik: “Baiklah, mari kita masuk ke urusan bisnis.”
Bagaimana jalannya negosiasi dan apa hasil akhirnya, wanita itu sudah tak lagi ingat. Yang dia tahu hanyalah satu hal: sejak saat itu, sosok pria itu membekas dalam hatinya.
Bertahun-tahun berjuang di dunia bisnis, dia sudah menghadapi berbagai macam pria—ada yang cerdas, ada yang licik, ada yang kasar, ada pula yang elegan. Namun hampir semuanya punya kesamaan: mereka senang memaksa wanita minum alkohol. Melihat wanita mabuk, jatuh bangun, wajah memerah, tertawa dan bernyanyi—itu memberi mereka kepuasan yang aneh.
Dalam lingkungan seperti itu, dia sudah lama menganggap dirinya “seperti pria”. Dia tak pernah mau kalah dalam permainan gelas demi gelas minuman. Dengan tubuhnya yang rapuh, dia menahan hantaman demi hantaman, demi mempertahankan harga diri. Dalam pertempuran di meja minum itu, kelembutannya yang dulu bagai air telah lama membeku menjadi es.
Semboyannya sederhana: lebih baik mati mabuk di medan perjamuan, daripada dipandang rendah.
Namun justru pada saat itulah, dia bertemu dengan seorang pria asing, yang dengan mudah memecahkan pola permainan itu—begitu sederhana, ringan, bahkan terkesan sambil lalu. Dalam sekejap, es yang membekukan hatinya perlahan meleleh.
Belakangan, dia mendengar kabar pria itu melakukan perjalanan kaki menuju Tibet. Dia seorang fotografer, ingin memotret keindahan yang mampu menyentuh hati manusia.
Tanpa pikir panjang, suatu hari dia mendatangi manajernya untuk mengundurkan diri. Di tengah tatapan kaget manajernya yang mata membelalak seperti lampu, dia berkata tegas, kata demi kata: “Aku akan pergi ke Tibet, mencari seseorang.”
Manajernya mengira dia sudah gila. Rekan-rekannya juga terheran-heran. Tapi sore itu juga, dia sudah naik pesawat menuju Lhasa.
Ketika tubuhnya terbaring di tanah Tibet, menatap langit biru dan awan-awan berwarna yang indah, dia merasakan kembali degup hidup di dalam dirinya. Hatinyanya yang membeku kembali mencair, seperti es yang meleleh jadi air.
Pria itu pada akhirnya tak pernah berhasil dia temukan.
Bertahun-tahun kemudian, dia menikah dengan pria lain. Alasannya sederhana—karena pria itu, tanpa dia duga, mengucapkan kalimat yang sama, kalimat yang dulu membuatnya jatuh cinta seumur hidup: “Maaf, aku tidak suka wanita minum alkohol.” (jhn/yn)


