EtIndonesia. Kaum pria sering kali lebih suka pada wanita yang tampak memesona dan menggoda. Mereka merasa bahwa memiliki wanita semacam itu di sisi mereka adalah sebuah kebanggaan. Bagi sebagian pria, istri tidaklah sepenting selingkuhan. Selingkuhan dianggap selalu baru dan segar, sementara istri dianggap sesuatu yang lama, usang, dan “habis masa pakainya.”
Dulu, di internet pernah populer sebuah sindiran:
“Wanita cantik tidak pandai masuk dapur. Yang pandai memasak tidak lembut. Yang lembut tidak punya pendirian. Yang berpendirian tidak feminin. Yang feminin suka boros. Yang hemat tidak modis. Yang modis tidak bisa dipercaya. Yang bisa dipercaya, wajahnya sulit dilihat.”
“Istri itu ibarat televisi, selingkuhan itu ibarat ponsel. Kalau bangkrut, televisi bisa dijual. Kalau kaya, bisa ganti ponsel baru. Televisi hanya ditonton sekali-sekali, ponsel dipakai setiap hari. Televisi gratis seumur hidup, ponsel kalau tak bayar pulsa akan mati.”
Dulu, aku sering dengan bangga menceritakan bahwa aku memiliki seorang suami yang hebat, penuh tanggung jawab, dan mencintai keluarga. Tapi akhirnya aku sadar—bukan karena dia hebat, melainkan karena aku terlalu percaya padanya. Aku menutup mata terhadap segala kebohongannya. Sepuluh tahun pernikahan ternyata tidak sebanding dengan satu malam nafsu yang ia cari di luar.
Sejak itu, aku tak lagi percaya pada cinta yang abadi. Kata-kata indah seperti “sehidup semati” atau “cinta sampai ajal menjemput” bagiku hanyalah dongeng. Kami pun berakhir menjadi dua orang asing.
Ketika masih muda dan naif, aku mengira cinta itu seperti dalam novel Qiong Yao: berani mencinta, berani membenci, setia sampai mati. Aku percaya bahwa saat tangan sudah saling tergenggam, maka apapun rintangannya, tidak akan dilepas.
Bahkan godaan harta tidak akan mampu membuat seseorang berkata: “Aku tak mencintaimu lagi.”
Aku pikir cinta itu suci dan agung. Aku percaya, jika hanya tersisa semangkuk mi, dia pasti akan memberikannya padaku sepenuhnya, dan dengan itu dia merasa kenyang hanya dengan melihatku makan. Itulah cinta, pikirku waktu itu.
Saat baru masuk dunia kerja, aku tetap yakin cinta sejati itu ada. Dan seolah doa terkabul, aku bertemu dengannya—pria tampan, cerah seperti tokoh utama drama Korea. Teman-teman iri padaku.
Ada yang menyindir: “pria tampan itu semacam kutukan. Wanita yang memilih pria tampan, berarti harus siap menanggung akibatnya.”
Aku menepis semua itu, menganggap mereka hanya iri. Kami tampak bahagia, saling menjaga, dan aku yakin kami akan berjalan bersama sampai tua, hingga menjelajah dunia di usia senja.
Namun waktu berjalan. Pria di usia 30–40 tahun berada di puncak karier, penuh kharisma. Aku percaya padanya, tidak pernah membatasi langkahnya. Aku pikir dia akan membalas kepercayaanku. Tapi balasan yang kuterima adalah perselingkuhan: satu malam singkat dengan wanita lain, tas mewah yang dibelikannya untuk mereka, canda mesra di pantai.
Di matanya, aku bukan lagi seorang istri. Dibanding pakaian indah yang membalut tubuh para wanita itu, aku hanyalah kain lusuh tak berharga. Dia meninggalkan istri setia demi kesenangan sesaat, merasa lebih baik hidup dalam dosa tapi tetap bisa merasakan manisnya buah terlarang.
Aku akhirnya sadar, cinta yang kuanggap kokoh ternyata begitu rapuh di hadapan realitas. Hatiku hancur. Namun setelah semua itu, aku masih percaya bahwa cinta sejati ada di dunia ini—hanya saja, aku tidak beruntung merasakannya.
Beberapa pria mungkin layak menjadi tempat seorang wanita menitipkan seluruh hidupnya. Tapi seorang wanita juga harus belajar bertahan sampai akhir. Jika mampu bertahan, hingga saat sang pria lelah mengejar kesenangan semu, pada akhirnya kitalah pelabuhan terhangat baginya. Namun jika tidak kuat melangkah sejauh itu, maka segalanya bisa hilang begitu saja.
Cinta, kadang bukan soal keindahan. Kadang dia adalah ujian panjang tentang kesabaran, ketabahan, dan kemampuan untuk bertahan.(jhn/yn)


