Komite Khusus DPR AS untuk Melawan Partai Komunis Tiongkok (PKT) baru-baru ini mengumumkan bahwa tujuh universitas Amerika Serikat, termasuk Dartmouth College dan beberapa kampus Universitas California, telah resmi mengakhiri kerja sama dengan China Scholarship Council (CSC) atau Komisi Beasiswa Nasional PKT.
EtIndonesia. Ketua Komite DPR AS untuk Melawan Partai Komunis Tiongkok (PKT) John Moolenaar menegaskan bahwa PKT selama ini menggunakan berbagai program beasiswa untuk mencuri teknologi Amerika. Ia memuji langkah universitas-universitas tersebut karena telah melindungi keamanan riset Amerika. Komite juga menyerukan lebih banyak universitas AS untuk ikut serta dalam upaya membongkar rencana PKT.
Dalam pernyataannya pada Rabu (24 September), komite menyebutkan bahwa ketujuh universitas yang menghentikan kerja sama dengan CSC adalah:
- Dartmouth College
- Temple University
- University of California, Davis
- University of California, Irvine
- University of California, Riverside
- University of Notre Dame
- University of Tennessee
John Moolenaar, mengatakan program CSC merupakan “rencana berbahaya pencurian teknologi” yang mendukung ambisi otoriter PKT. Ia menegaskan bahwa keputusan universitas-universitas tersebut tidak hanya melindungi kampus dari pengaruh jahat, tetapi juga menunjukkan kepemimpinan sejati serta komitmen menjaga riset dan inovasi Amerika.
Li Hengqing, ekonom di Washington Institute for Information and Strategic Studies, mengatakan: “Pernyataan ini merupakan sinyal yang sangat jelas, bahwa tujuannya memang menentang pelanggaran PKT terhadap kepentingan nasional Amerika.”
Dilaporkan, banyak universitas di AS menerima beasiswa dari CSC. Pada awal Juli tahun ini, komite khusus DPR AS sudah mengirimkan surat investigasi ke berbagai universitas, menjelaskan secara rinci risiko kerja sama dengan CSC. Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa CSC adalah lembaga yang dikendalikan PKT untuk pencurian teknologi, dan program beasiswanya berbeda dengan beasiswa internasional pada umumnya.
Isi surat itu menyebutkan: mahasiswa penerima beasiswa CSC wajib kembali ke Tiongkok setelah menyelesaikan studi dan bekerja setidaknya dua tahun untuk PKT. Selama masa studi di luar negeri, mereka diwajibkan melapor setiap tiga bulan kepada kedutaan besar Tiongkok mengenai hasil riset dan perkembangan akademik. Kedutaan PKT diberi tugas khusus untuk mengawasi para mahasiswa tersebut.
“PKT memberikan beasiswa, lalu meminta penerimanya kembali bekerja di Tiongkok. Ini sudah lama dilakukan. Karena mereka yang membiayai, tentu saja berharap penerimanya kembali bekerja untuk mereka selama dua atau lebih tahun,” kata Xie Tian, profesor di School of Business, University of South Carolina Aiken.
PKT sejak lama dituduh mencuri teknologi riset Amerika melalui berbagai cara legal maupun ilegal, termasuk program Thousand Talents, kerja sama akademik yang terkait militer, pemaksaan transfer teknologi, aksi spionase, hingga pencurian langsung. Penutupan kerja sama dengan CSC menjadi salah satu tujuan jangka panjang Komite DPR AS untuk melawan PKT.
Li Hengqing menegaskan: “PKT menggunakan slogan pertukaran pelajar, ‘pengetahuan tanpa batas’, ‘sains tanpa batas’, tetapi sebenarnya mereka melakukan pencurian teknologi, plagiarisme pengetahuan, dan melewati hak kekayaan intelektual untuk mendapatkan teknologi sains canggih Amerika.”
Moolenaar menekankan bahwa praktik PKT ini merupakan ancaman serius bagi kebebasan akademik dan keamanan nasional AS. Ia menyerukan lebih banyak universitas Amerika untuk mengambil langkah serupa guna membongkar rencana PKT.
Sumber : NTDTV.com


