Banjir Bandang Hualien, Taiwan, Seorang Ibu Melepaskan Genggaman Tangan Anak agar Bisa Selamat

EtIndonesia. Pada 26 September 2025, jebolnya bendungan alami (danau bendungan) Sungai Matai’an di Hualien memicu bencana besar. Desa Fo Zu Jie di Kecamatan Guangfu menjadi daerah terdampak paling parah, dengan lumpur dan air terus menerjang. Tim penyelamat mengatakan, derasnya arus air bercampur lumpur membuat operasi sangat sulit, beberapa kali terpaksa mundur karena kenaikan air. Bahkan alat berat pun ikut terjebak lumpur.

Seorang warga yang kehilangan keluarganya dengan suara terisak menceritakan, saat banjir bandang datang, ia berteriak kepada ibunya agar menggenggam tangannya. Namun, sang ibu justru melepaskan genggamannya agar ia bisa menyelamatkan diri.  Si anak berkata sambil menangis: “Mama tidak ingin aku ikut tenggelam bersamanya.” Sayangnya, ibunya meninggal dunia, begitu pula kakaknya yang tinggal di dekat rumah.

Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan, jenazah korban dipenuhi lumpur dari kepala hingga kaki, bagian mulut dan hidung juga penuh lumpur, menandakan para lansia tewas akibat tersedak lumpur dan tenggelam.

Menurut laporan Pusat Penanggulangan Bencana Pusat, hingga 27 September pagi pukul 09.00, jebolnya danau bendungan Matai’an telah menyebabkan 15 orang meninggal dunia, 7 orang hilang, dan 78 orang luka-luka. Jumlah korban hilang dikoreksi dari 8 menjadi 7 setelah ditemukan satu jenazah baru di Fo Zu Jie.

Air bah yang datang pada 23 September menghancurkan jembatan Sungai Matai’an, merendam tanggul, dan meluap ke desa-desa Kecamatan Guangfu. Ketinggian air bahkan mencapai setara satu lantai rumah, mobil terendam dan banyak yang hanyut.

Pemerintah maupun masyarakat segera bergerak memberikan bantuan. Pada 27 September, sebuah posko relawan resmi dibuka di Stasiun Guangfu Taiwan Railways, untuk mengatur penyaluran tenaga sukarela. Petugas juga dikerahkan ke jalur darat dan kereta untuk membantu relawan yang menuju lokasi bencana.

Sejak 26 September, ratusan relawan berbondong-bondong datang ke Stasiun Hualien dan Stasiun Ji’an, membawa sekop, ember, dan peralatan pembersih, bersiap naik kereta menuju Guangfu. Karena tiket kereta cepat (Tze-Chiang) habis, Taiwan Railways akhirnya membuka tiket berdiri demi memberi kesempatan lebih banyak relawan berangkat.

Banyak relawan mengatakan mereka mengetahui kebutuhan tenaga dari unggahan media sosial, lalu berinisiatif datang tanpa tujuan tertentu—siap membantu di mana pun dibutuhkan. Ada juga warga yang tak kebagian tiket kereta, memilih memutar lewat jalan raya hingga 2 jam perjalanan untuk mencapai lokasi.

Di lapangan, organisasi masyarakat, politisi lokal, hingga tim penyelamat dari berbagai kota ikut turun. Misalnya, Asosiasi Perempuan Baru Zhuoxi membantu di posko pengungsian, menyediakan pengaturan lalu lintas, distribusi logistik, dukungan medis, hingga pelayanan sosial. Beberapa anggota legislatif dan kepala daerah juga mengirimkan bantuan alat berat, logistik, serta tenaga medis.

Hingga 26 September, kondisi bendungan alami masih tidak stabil. Tinggi bendungan yang tersisa 86 meter sudah tergerus 114 meter ke dalam. Volume air berkurang menjadi 7,7% dari semula, namun erosi masih berlanjut dan curah hujan tetap menambah air. Karena itu status siaga merah tetap diberlakukan.

Pusat Penanggulangan Bencana Pusat mengumumkan, operasi tanggap darurat tetap pada level 1, dengan fokus khusus pada Sungai Matai’an.

Selain korban jiwa dan kerusakan rumah, sekolah-sekolah juga terdampak parah. SMP Guangfu misalnya, terendam lumpur lebih dari 50 cm di lantai dasar, termasuk lapangan sepak bola, lapangan bisbol, kantor administrasi, ruang kelas, hingga dapur sekolah.

Pemerintah daerah lain juga ikut menyalurkan bantuan. Pemerintah Kota New Taipei meluncurkan program bantuan pulang kampung dan rekonstruksi rumah bagi warga asli Guangfu, dengan subsidi hingga NT$10.000 per rumah tangga. Pemerintah Kabupaten Hsinchu juga menyiapkan bantuan serupa bagi warga terdampak.

Bencana ini menggugah solidaritas nasional. Ribuan relawan, petugas pemadam kebakaran, dan organisasi sipil telah bergabung membantu membersihkan lumpur, menyelamatkan korban, dan mendistribusikan obat-obatan (bahkan menggunakan drone untuk pertama kalinya dalam pengiriman obat di daerah bencana).

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine