Kota Jiangmen, Guangdong, Tiongkok mengalami wabah penyakit chikungunya, sehingga kembali menerapkan langkah-langkah pembatasan. Banyak warga mengeluh karena saat libur panjang “1 Oktober” mereka harus lembur ikut serta dalam pencegahan nyamuk, bahkan dibatasi untuk keluar kota. Proyek konstruksi juga terpaksa dihentikan.
EtIndonesia. Beberapa hari terakhir, jumlah pasien terinfeksi virus chikungunya di Jiangmen meningkat pesat, dengan tambahan lebih dari 2.000 kasus dalam dua minggu berturut-turut. Pemerintah kota Jiangmen kembali menerapkan kebijakan penutupan: taman, pasar sayur, dan sejumlah kompleks perumahan ditutup, melarang aktivitas usaha serta keluar-masuk warga dengan bebas.
Saat ini bertepatan dengan libur panjang Hari Nasional Tiongkok, banyak warganet Jiangmen mengeluh bahwa bukan hanya tidak bisa berlibur, mereka justru harus ikut serta dalam pencegahan wabah nyamuk.
“Keluarga saya sudah mulai mengeluh,” tulis salah seorang warga.
Seorang warganet yang ikut dalam kegiatan pencegahan mengaku: “Saya sudah berjuang 16 hari berturut-turut. Benar-benar ingin istirahat.”
9月30日,廣東江門每天都在消殺滅蚊,居民抱怨,蚊子沒死,人都快沒了。 pic.twitter.com/NcHTknEcQQ
— ying tang (@yingtan04410735) October 1, 2025
Ada pula warganet yang mengungkapkan, “(Satu keluarga) kami dilarang keluar dari Jiangmen. Libur panjang ini jadi tidak bisa ke mana-mana.” Tangkapan layar obrolan yang ia tunjukkan memperlihatkan, “Rumah sakit sudah tidak memberikan izin keluar Jiangmen.”
現在的江門,被消毒煙霧籠罩。 pic.twitter.com/qbBOgZwkLv
— ying tang (@yingtan04410735) October 1, 2025
Dalam beberapa hari terakhir, petugas pencegahan di Jiangmen terlihat di mana-mana membawa alat semprot asap disinfektan. Seluruh kota tertutup asap menyengat yang membuat orang merasa tidak nyaman.
基孔肯雅热病毒在江门肆虐,全城到處是防疫人員。 pic.twitter.com/qmxrrJmhZ9
— ying tang (@yingtan04410735) October 1, 2025
Banyak warga mengeluh:
- “Nyamuk belum mati, orangnya malah hampir mati.”
- “Saya menghirupnya sampai pusing, mual, ingin muntah. Tapi pimpinan bilang yang disemprot itu sebenarnya DDT (Dikloro-Difenil-Trikloroetana).”
- “Pagi-pagi sudah lihat para relawan berbaris siap berangkat memberantas nyamuk.”
Wabah ini juga menyebabkan seluruh proyek konstruksi di Jiangmen terhenti. Seorang warganet bernama “Pekerja Bangunan” pada 1 Oktober mengunggah video dan berkata: “Virus chikungunya merajalela di Jiangmen, proyek konstruksi lumpuh. Hari ini saya ikut membantu tugas politik di komunitas, berharap proyek bisa segera normal kembali.”
基孔肯雅热病毒在江门肆虐,全城到處是防疫人員。 pic.twitter.com/liPvbOZ9yH
— ying tang (@yingtan04410735) October 1, 2025
Dalam video tersebut, sekelompok pekerja terlihat berkumpul di sebuah kawasan perumahan menunggu penugasan untuk kegiatan pencegahan.
Video lain memperlihatkan Jiangmen sedang gencar membersihkan tanaman hijau. Di sebuah kompleks perumahan, puluhan petugas berseragam sedang membersihkan area taman.
Langkah penutupan ini memicu perhatian publik. “Sekarang sepertinya sudah agak di luar kendali. Sebelumnya ada 2.000 lebih kasus, sekarang langsung melonjak jadi 4.000. Kalau ada yang digigit nyamuk, bisa langsung dibawa ke sana… karantina! (Entah boleh saya bilang atau tidak.) Ah, terlalu menakutkan,” kata seorang warga Jiangmen bernama Nyonya Liang kepada NTD.
9月30日,基孔肯雅热病毒在江门肆虐,工地都搞瘫痪了。 pic.twitter.com/JHPg6rowrA
— ying tang (@yingtan04410735) October 1, 2025
Seorang warga lain, Tuan Wang, membenarkan: “Kasus chikungunya memang banyak sekali. Di rumah sakit kabupaten sini, pasien yang digigit nyamuk lalu demam, bahkan sudah tidak ada tempat rawat lagi.”
Mantan peneliti virus di Institut Penelitian Angkatan Darat Amerika, Lin Xiaoxu, menganalisis bahwa virus chikungunya tidak menular dari orang ke orang, sehingga pemerintah tidak perlu menerapkan kebijakan “nol-COVID” yang dulu sangat ketat sampai ke tingkat isolasi massal. “Tetapi yang belum jelas adalah, apakah selain chikungunya ada penyakit menular lain yang juga sedang merebak di sana,” tambahnya.
Sumber : NTDTV.com


