EtIndonesia. Menjelang Hari Nasional Tiongkok pada 1 Oktober 2025, epidemi kembali meningkat di daratan Tiongkok. Pejabat menyebutkan virus yang menyebar kali ini adalah respiratory syncytial virus (RSV) atau virus yang menyerang saluran pernapasan. Jumlah kasus positifnya melonjak dengan cepat. Banyak rumah sakit di berbagai kota penuh sesak dengan pasien.
Di beberapa rumah sakit, tingkat positif RSV pada anak-anak rawat inap mencapai 40%. Bahkan ada kasus serius di mana anak-anak masuk ICU, dan sebagian orang tua terpaksa menandatangani surat peringatan kondisi kritis. Saat ini, karena tidak ada obat khusus dan tingkat penularannya tinggi, para orang tua menjadi sangat khawatir.
“Saudara-saudara, hati-hati, ada virus baru yang datang. Jumlah kasus positif melonjak drastis,” ujar seorang pengguna media sosial.
Belakangan ini, bukan hanya Henan, Jiangxi, Hangzhou, dan Zhejiang yang mengalami wabah RSV, tetapi bahkan Shanghai juga terdampak.
Menurut Rumah Sakit Anak Universitas Fudan, tingkat positif RSV pada anak rawat inap sudah mencapai 40%, menduduki peringkat pertama. Kasus pneumonia akibat RSV bahkan menimpa bayi yang baru berusia 1 bulan lebih.
“Bayi kami baru saja genap satu bulan, sudah terdiagnosis RSV, dan sekarang masuk ICU,” kata seorang perekam video.
Banyak orang tua membagikan pengalaman anak mereka di media sosial. Ada anak yang mengalami gagal napas akibat pneumonia berat hingga masuk ICU. Bahkan, ada orang tua yang sudah menandatangani “surat peringatan kondisi kritis.”
Di Hunan, seorang orang tua menulis bahwa sebelum libur 1 Oktober, anaknya terinfeksi dua virus sekaligus, langsung berkembang menjadi pneumonia dan harus dirawat di rumah sakit.
“Pakar pusat mengatakan, tingkat penularannya 2,5 kali lebih tinggi daripada flu. Gejala awal biasanya pada saluran pernapasan atas, seperti hidung tersumbat dan pilek, tetapi juga bisa menyebabkan kerusakan otot jantung, pneumonia, ensefalitis, bahkan kematian,” kata seorang komentator medis daring.
Menurut data medis, RSV adalah virus RNA untai tunggal dengan karakteristik mudah menular dan dapat menginfeksi berulang kali. Semua kelompok usia bisa terinfeksi, namun kelompok berisiko tinggi adalah anak-anak dan lansia. Karena belum ada vaksin dan obat khusus di Tiongkok sehingga masyarakat menjadi panik.
Banyak warganet menduga bahwa wabah ini sebenarnya masih berkaitan dengan COVID-19.
“Saat ini memang belum ada obat khusus. Penanganan utamanya adalah terapi simptomatis. Untuk kasus berat, harus segera dirawat dan diawasi di rumah sakit,” ujar Dokter Li Tongzeng, Kepala Departemen Infeksi di Rumah Sakit You’an Beijing.
Sejak enam tahun lalu, ketika COVID-19 pertama kali merebak di Wuhan, virus corona tidak pernah benar-benar reda di Tiongkok. Jumlah kematian meningkat, kasus kematian mendadak pada anak muda melonjak, termasuk diantaranya sejumlah tokoh publik, selebritas internet, dokter, hingga pengusaha.
Pada 18 September lalu, Zhao Han (40), salah satu pendiri merek restoran terkenal “Yunhaiyao”, mendadak meninggal dunia karena serangan jantung.
Sementara itu, Kota Jiangmen di Provinsi Guangdong kembali menerapkan langkah lockdown karena wabah chikungunya. Beberapa komunitas ditutup, taman dan pasar sayur dihentikan operasinya. Ada pasien yang kabur dari rumah sakit lalu dihukum. Pemerintah juga segera menyetujui uji PCR baru, melakukan pengambilan darah dan tes massal di malam hari, sehingga memicu kepanikan publik.
“Apakah pemerintah perlu menerapkan kebijakan lockdown dinamis seperti saat COVID-19 sangat patut dipertanyakan, karena penyakit ini sebenarnya bukan penyakit yang menular antar-manusia sehingga tidak perlu sampai pada tingkat isolasi massal. Namun, yang masih belum jelas adalah apakah selain chikungunya, ada penyakit menular lain yang juga sedang beredar di sana,” ujar Dr. Lin Xiaoxu, mantan peneliti virologi di Institut Penelitian Angkatan Darat AS.
Menurut data dari Pusat Pengendalian Penyakit Guangdong, dalam sepekan terakhir terdapat wabah chikungunya di 19 kota provinsi Guangdong, dengan kasus paling parah berada di Kota Jiangmen.
Sumber : NTDTV.com


