EtIndonesia. Polisi Prancis pada Kamis (2 Oktober) menangkap seorang nahkoda kapal tanker minyak asal Tiongkok yang berada di bawah sanksi, kapal ini diduga bagian dari “armada bayangan” Rusia. Jaksa menyatakan bahwa nahkoda berkewarganegaraan Tiongkok tersebut akan diadili pada 23 Februari tahun depan di pengadilan Brest, dengan tuduhan “melawan aparat penegak hukum.”
Menurut Reuters, jaksa Brest, Stephane Kellenberger, yang memimpin penyelidikan, mengatakan bahwa pada Sabtu lalu fregat Angkatan Laut Prancis melakukan pemeriksaan kapal tanker bernama Boracay di dekat Pulau Ouessant, Prancis Barat.
Kellenberger menjelaskan, kapal itu memberikan informasi yang tidak konsisten mengenai kebangsaannya. Angkatan Laut Prancis akhirnya menyimpulkan bahwa kapal tersebut tidak memiliki kewarganegaraan (stateless vessel).
Nahkoda dan perwira pertama, yang keduanya warga negara Tiongkok, ditangkap karena tidak dapat membuktikan kewarganegaraan kapal, serta menolak mematuhi perintah komandan selama inspeksi maritim. Namun, jaksa kemudian memutuskan hanya menuntut nahkoda, sementara perwira pertama dibebaskan.
Menurut AFP, kapal ini juga diduga terlibat dalam insiden invasi drone ke wilayah udara Denmark pada akhir September. Situs profesional The Maritime Executive menganalisis bahwa kapal tersebut mungkin berfungsi sebagai “platform peluncuran” drone.
Berdasarkan data dari MarineTraffic, penyedia pelacakan kapal dan analisis maritim, tanker itu berada sekitar 50 mil laut (90 km) di selatan Kopenhagen pada 22 September, saat aktivitas drone menyebabkan penutupan bandara kota tersebut. Selain itu, pada malam 24 September, ketika kapal itu berlayar ke arah selatan di sepanjang pantai barat Denmark, laporan aktivitas drone juga muncul di wilayah sekitarnya.
Namun, pihak berwenang Prancis dan Denmark belum mengkonfirmasi apakah kapal tersebut benar-benar terkait dengan insiden drone.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut baik penyelidikan terhadap kapal tanker itu. Ia memperkirakan “armada bayangan” Rusia berjumlah antara 600 hingga 1.000 kapal.
Pada Kamis (2/10), di KTT para pemimpin Eropa di Kopenhagen, Macron menekankan pentingnya mengusut tuntas insiden Denmark, serta menegaskan bahwa memperbesar tekanan terhadap armada bayangan Rusia adalah hal yang sangat penting, karena dapat melemahkan kemampuan Rusia dalam mendanai perang.
Kremlin pada Rabu menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui apa-apa soal kapal tanker tersebut, namun menambahkan bahwa jika ada “tindakan provokatif” oleh pihak asing (mengutip juru bicara Dmitry Peskov), militer Rusia bisa saja turun tangan untuk “mengembalikan ketertiban.”
Sumber : NTDTV.com


