EtIndonesia. Dari jauh, galaksi Bima Sakti tampak seperti galaksi spiral yang tenang, namun kenyataannya jauh dari kata damai. Baru-baru ini, para astronom menggunakan teleskop luar angkasa Gaia milik Badan Antariksa Eropa (ESA) menemukan adanya sebuah “gelombang raksasa” yang tengah merambat di dalam Bima Sakti.
Gelombang ini menyebar keluar dari pusat galaksi, memengaruhi ribuan bintang sehingga bergerak naik-turun layaknya daun terapung di ombak. Fenomena ini bukan sekadar menarik, tapi juga membuka wawasan tentang sejarah dinamis Bima Sakti, yang kemungkinan besar dipicu oleh tabrakan kosmik miliaran tahun lalu.
Seperti Apa Gelombang Ini?
Bayangkan Bima Sakti sebagai sebuah cakram pipih berdiameter sekitar 100.000 tahun cahaya, berisi ratusan miliar bintang, gas, dan debu. Namun cakram ini tidak benar-benar datar. Seperti kain yang tertiup angin, ia memiliki lekukan dan gelombang.
Fenomena baru ini disebut “Gelombang Besar Bima Sakti” (Great Wave), berupa gangguan vertikal yang memanjang puluhan ribu tahun cahaya, mempengaruhi posisi serta kecepatan bintang.
Gelombang ini bukan statis, melainkan menjalar keluar dari pusat galaksi seperti riak air, dengan kecepatan sekitar 10–20 km/detik, mirip dengan gelombang seismik di Bumi.
Dalam visualisasi samping Bima Sakti, gelombang digambarkan dengan warna merah dan biru: bintang-bintang di area merah berada di atas bidang galaksi, sementara di area biru berada di bawahnya, dengan panah yang menunjukkan arah gerakan bintang.
Data Gaia: Peta 3D yang Paling Akurat
Sejak diluncurkan pada 2013, teleskop Gaia terus membuat peta paling akurat dari Bima Sakti. Dengan teknik pengukuran paralaks, Gaia mampu mendeteksi pergeseran posisi sekecil mikrodetik busur—setara dengan mengukur ukuran koin di permukaan bulan dari Bumi.
Dalam publikasi terbaru (Data Release 4), posisi, kecepatan, dan jarak lebih dari 2 miliar bintang berhasil dipetakan. Dari data ini, para astronom menyusun peta 3D gelombang tersebut. Hasilnya menunjukkan ribuan bintang telah terdorong ratusan tahun cahaya dari jalur orbit aslinya.
Fenomena ini berbeda dari “warp” atau kelengkungan global Bima Sakti berbentuk S, karena lebih dinamis dan seperti kepakan sayap yang merambat keluar.
Kemungkinan Penyebab: Tabrakan Galaksi
Fenomena ini bukan yang pertama. Pada 2020, para astronom menemukan Radcliffe Wave, struktur bergelombang pada awan gas di galaksi kita. Namun kali ini, gelombang langsung menyangkut pergerakan bintang, sehingga memberikan wawasan lebih mendalam tentang dinamika galaksi.
Diduga, penyebab terkuat adalah tabrakan dengan galaksi kerdil. Sekitar 2–3 miliar tahun lalu, Sagittarius Dwarf Galaxy beberapa kali menembus cakram Bima Sakti, menimbulkan riak gelombang seperti batu yang dilempar ke kolam. Meski kini galaksi kerdil itu telah terserap ke dalam Bima Sakti, gangguan gravitasinya meninggalkan efek jangka panjang.
Hipotesis lain meliputi aktivitas lubang hitam supermasif di pusat galaksi (Sagittarius A*), distribusi materi gelap yang tidak merata, atau tabrakan lebih tua dengan satelit galaksi lain. Tim peneliti menekankan perlunya data lanjutan, baik dari misi Gaia berikutnya maupun pengamatan tambahan dengan Teleskop Luar Angkasa James Webb.
Apa Artinya Bagi Kita?
Penemuan ini tidak hanya menambah pengetahuan astronomi, tapi juga membantu manusia memahami bagaimana galaksi berevolusi. Bima Sakti bukanlah sistem statis, melainkan terus berubah karena interaksi dengan galaksi lain di sekitarnya.
Gelombang ini bisa mempengaruhi pembentukan bintang, distribusi gas, bahkan kestabilan sistem planet. Meski jaraknya ribuan tahun cahaya sehingga tidak berpengaruh langsung pada tata surya kita, temuan ini mengingatkan bahwa alam semesta adalah sistem dinamis yang saling terhubung.
Sumber : NTDTV.com


