EtIndonesia. Majalah ternama Amerika, Fortune, pernah menampilkan foto seorang pemuda berusia 19 tahun di sampul depannya. Namanya Jason Svespen, seorang pemilik situs web.
Dia mendadak terkenal setelah, dengan dukungan seorang investor, meluncurkan sebuah situs bernama “Wish Come True” (Hati Terwujud). Dalam hitungan bulan saja, jumlah kunjungan situs itu mencapai 9 juta kali—sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika.
Orang-orang pun tercengang: “Apakah dia akan menjadi Bill Gates berikutnya?”
Jason meraup keuntungan hingga ratusan juta dolar dari situs tersebut dan segera menjelma menjadi bintang baru dunia internet Amerika.
Kesuksesan itu membuatnya larut dalam keyakinan bahwa dia punya kemampuan luar biasa dan bisa melakukan apa saja. Pandangan itu bahkan dianggap masuk akal pada saat itu—usia dan prestasinya jauh melebihi Bill Gates di masa mudanya. Banyak peramal bisnis bahkan yakin dia akan terus menumpuk kekayaan dan menjadi tokoh berpengaruh di dunia, setara dengan Bill Gates.
Tak lama kemudian, berbagai lembaga keuangan di Amerika berlomba-lomba menawarinya pinjaman dan dukungan modal. Perusahaannya pun melantai di bursa saham. Kekayaannya bertambah seperti bola salju, dari lebih dari 100 juta dolar hingga mencapai 2,6 miliar dolar.
Itu benar-benar sebuah dongeng kekayaan.
Jason menjadi pusat perhatian para wanita cantik dan media. Dia berpacaran dengan supermodel kelas dunia, diliput oleh media besar, bahkan bersiap membuat film tentang kisah suksesnya. Gaya hidupnya pun luar biasa mewah—total dia menghabiskan 324 juta dolar untuk bersenang-senang.
Namun tak lama, badai melanda bursa saham Amerika. Harga saham perusahaannya yang semula 168 dolar per lembar anjlok hingga hanya 2 dolar. Perusahaannya bangkrut, dan Jason pun jatuh dari langit ketenaran.
Hanya dalam dua tahun, dia berubah menjadi orang biasa yang tak punya sepeser pun. Supermodel yang dulu bersamanya menghilang, perusahaan film yang dulu berebut mendekat pun lenyap begitu saja.
Kini, Jason berusaha bangkit kembali. Dia mencoba mencari dana, tapi baru sadar—ternyata meminjam uang begitu sulit. Tidak ada satu pun perusahaan atau lembaga keuangan yang mau memberi pinjaman padanya.
Akhirnya, dia hanya bisa meminjam uang dari pamannya. Dengan itu, dia mendaftarkan lagi sebuah situs baru. Namun, kejayaan masa lalu tak pernah kembali.
Jason akhirnya berkata: “Dari pengalaman ini, saya baru benar-benar mengerti: uang hanya mengenal uang, bukan mengenal orang. Dulu saya gagal karena saya berpikir uang mengenal siapa saya.”
Salah satu media berkomentar sinis: “Pemuda 20 tahun ini, barangkali kelak bisa menjadi seorang filsuf.” (jhn/yn)


