EtIndonesia. Di Amerika, ada seorang pemuda miskin yang hidup serba kekurangan. Bahkan, seluruh uang yang dia miliki saat itu tidak cukup untuk membeli satu setelan jas yang layak. Namun, meskipun hidupnya begitu sulit, dia tetap teguh pada mimpinya: ingin menjadi aktor, membintangi film, dan menjadi bintang besar.
Waktu itu, di Hollywood terdapat sekitar 500 perusahaan film. Pemuda itu mencatat semuanya dengan teliti, menyusunnya dalam daftar, dan mulai mendatangi mereka satu per satu sambil membawa naskah film yang dia tulis sendiri.
Hasil putaran pertama: semua 500 perusahaan menolaknya.
Namun, dia tidak menyerah. Setelah keluar dari perusahaan ke-500, dia kembali lagi ke perusahaan pertama untuk memulai putaran kedua
Hasilnya? Sama saja—semua menolaknya lagi.
DIa melanjutkan ke putaran ketiga, dan hasilnya tetap nihil. Namun, dia tetap menggertakkan gigi dan memulai putaran keempat.
Ketika dia sampai di perusahaan ke-349, penolakan kembali dia terima. Tetapi, di perusahaan ke-350, sesuatu yang berbeda terjadi: bos perusahaan itu bersedia menerima naskahnya untuk dibaca.
Beberapa hari kemudian, pemuda itu mendapat kabar mengejutkan—perusahaan tersebut setuju untuk memproduksi film berdasarkan naskahnya, dan lebih dari itu, mereka memutuskan untuk menunjuknya sebagai pemeran utama dalam cerita yang dia tulis sendiri.
Film itu berjudul “Rocky”.
Nama pemuda itu adalah Sylvester Stallone.
Kini, ketika membuka lembaran sejarah perfilman dunia, nama film Rocky dan nama Sylvester Stallone terukir sejajar sebagai legenda.
Pelajaran Hidup
Kadang, jalan menuju sukses bukan soal seberapa cepat kita diterima, melainkan berapa kali kita berani bangkit setelah ditolak. Sylvester Stallone mengalami 1850 kali penolakan sebelum mimpinya terwujud—dan itulah yang membuatnya dikenang selamanya.(jhn/ny)


