EtIndonesia. Ada seorang pemuda yang merasa dirinya serba bisa. Namun setelah lulus pendidikan, ia berkali-kali gagal mencari pekerjaan yang ideal. Ia merasa bakatnya tidak pernah dihargai, menganggap dirinya seperti “kuda seribu mil” yang tak pernah bertemu dengan “Bó Lè” (penilai kuda berbakat). Berkali-kali ditolak membuatnya patah hati, kecewa, dan putus asa pada masyarakat.
Dalam keputusasaan, suatu hari ia berjalan ke tepi laut, berniat mengakhiri hidupnya.
Saat hendak melompat, seorang kakek kebetulan lewat dan berhasil menghentikannya. Kakek itu menanyakan alasan tindakannya. Pemuda itu menjawab lirih bahwa dirinya tidak pernah diakui, tidak ada seorang pun yang menghargai ataupun memanfaatkannya.
Kakek itu lalu memungut sebutir pasir di pantai, memperlihatkannya, lalu melemparkannya ke tanah sambil berkata:
“Coba ambil kembali butir pasir yang baru saja saya lempar.”
“Itu mustahil!” jawab pemuda itu.
Kakek itu tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah mutiara bening dari sakunya, kemudian juga melemparkannya ke tanah.
“Sekarang, bisakah kamu mengambil mutiara ini?”
“Tentu saja bisa!” jawab si pemuda tanpa ragu.
Kakek itu berkata dengan tenang:
“Sekarang kamu paham, bukan? Selama ini kamu belum menjadi mutiara, jadi jangan berharap orang lain langsung mengakuimu. Jika ingin diakui, maka usahakanlah untuk menjadikan dirimu sebuah mutiara.”
Pemuda itu terdiam, menunduk, dan mulai merenung.
Pelajaran Hidup
Kadang, kita harus sadar bahwa diri ini masih hanyalah butiran pasir biasa, bukan permata berharga. Jika ingin menonjol di tengah keramaian, maka harus memiliki nilai lebih yang membuatmu berbeda. Tanpa keteguhan menghadapi tekanan, tanpa kesabaran melewati penolakan, dan tanpa kekuatan bertahan dari kesederhanaan, sulit rasanya mencapai puncak keberhasilan.
Jika ingin benar-benar bersinar dan dihargai, usahakanlah agar dirimu menjadi mutiara. (jhon/asr)


