EtIndonesia. Pada 3 Oktober 2025, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan bahwa militer Amerika Serikat melakukan serangan udara terhadap sebuah kapal yang diduga mengangkut narkoba di perairan lepas pantai Venezuela. Serangan tersebut menewaskan empat pria di atas kapal. Presiden Donald Trump kemudian mengunggah video terkait di platform media sosial miliknya.
Serangan ini merupakan yang keempat dari rangkaian operasi serupa, dengan total sedikitnya 21 orang tewas sejauh ini. Menurut laporan AFP, Hegseth menulis di platform X (Twitter) sambil membagikan video rekaman operasi itu:
“Empat teroris narkoba di kapal itu tewas akibat serangan udara.”
Dalam video tersebut terlihat sebuah kapal melaju kencang di laut sebelum dihantam ledakan besar dan dilalap asap serta api. Hegseth menjelaskan bahwa operasi itu dilakukan di perairan internasional lepas pantai Venezuela, ketika kapal tersebut sedang membawa sejumlah besar narkoba menuju Amerika Serikat, yang menurutnya “bertujuan meracuni rakyat kita.”
Earlier this morning, on President Trump's orders, I directed a lethal, kinetic strike on a narco-trafficking vessel affiliated with Designated Terrorist Organizations in the USSOUTHCOM area of responsibility. Four male narco-terrorists aboard the vessel were killed in the… pic.twitter.com/QpNPljFcGn
— Secretary of War Pete Hegseth (@SecWar) October 3, 2025
Ia menegaskan: “Serangan udara semacam ini akan terus berlanjut sampai semua ancaman terhadap rakyat Amerika berakhir!”
Sementara itu, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung mengatakan bahwa para pengedar narkoba beserta “obat mematikan mereka telah menjadi debu.”
Presiden Donald Trump kemudian mengunggah video yang sama di platform miliknya, Truth Social, dengan menulis: “Sebuah kapal yang membawa cukup narkoba untuk membunuh antara 25.000 hingga 50.000 orang berhasil dicegat pagi ini di lepas pantai Venezuela sebelum sempat memasuki wilayah Amerika Serikat.”
Hanya kurang dari satu hari sebelum serangan ini, media AS melaporkan bahwa Presiden Trump telah menandatangani sebuah memorandum resmi yang menetapkan kelompok pengedar narkoba sebagai “kombatan ilegal”, dan menyatakan bahwa Amerika Serikat kini berada dalam “status konflik bersenjata” dengan jaringan narkotika tersebut. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


